”Menghidupkan” Kembali Cak Nur

Oleh: Made Ayu Nita Trisna Dewi

PADA 29 Agustus besok, tidak terasa sudah empat tahun cendekiawan muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur) meninggalkan kita. Pak Dahlan Iskan, di awal sharing operasi ganti livernya, pernah menyinggung Cak Nur wafat akibat kegagalan operasi ganti hati (Jawa Pos, 26/8/2007). Kali ini haul keempat Cak Nur bertepatan dengan Ramadan 1430 H. Semoga kita tidak melupakan kontribusi Cak Nur. Bukankah perjuangan ingatan melawan lupa itu tidak gampang di tengah kultur amnesia saat ini?

Pemikiran Cak Nur, baik terkait agama (Islam dan relasinya dengan agama-agama lain) maupun bangsa ini, ke depan jelas masih relevan. Bertepatan dengan lima tahun haulnya, harus diakui masa hidup Cak Nur yang terbentang sejak kelahirannya pada 17 Maret 1939 hingga wafatnya (29 Agustus 2005 pukul 14.05) menyimpan pemikiran yang memiliki ”daya messianis” (meminjam istilah filsuf Walter Benjamin). Artinya, pesan atau pemikiran Cak Nur di masa lalu mengandung pesan harapan bagi masa depan bangsa kita.

Nasionalisme Produktif dan Globalisasi

Salah satu pemikiran Cak Nur di antara sekian banyak pemikirannya yang tampak relevan adalah soal nasionalisme produktif di tengah tantangan globalisasi. Bagi Cak Nur, pesan-pesan moral agama tak boleh terasing dari realitas kehidupan, terutama kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti bagaimana kita harus menghidupi nasionalisme yang tepat.

Menurut Cak Nur, nasionalisme masih kita butuhkan. Tapi, kita tidak membutuhkan nasionalisme yang mengisolasi diri seperti Myanmar. Dan, nasionalisme model Cak Nur adalah nasionalisme yang produktif seperti model Jepang.Tanpa gembar-gembor menyebut nasionalisme, warga Jepang sangat produktif dengan barang-barang buatan mereka.

Cak Nur melanjutkan, Jepang pernah punya pasukan ”kamikaze” atau berani mati mirip pelaku bom bunuh diri untuk melawan musuhnya dalam Perang Dunia. Namun, Jepang sadar bahwa melawan Barat, musuh yang unggul ipteknya, cara-cara kekerasan tak akan mempan. Jepang akan tetap kalah kalau tidak membenahi dunia pendidikan dan memiliki nasionalisme produktif. Maka, sejak bom Nagasaki dan Hiroshima, Jepang bangkit dan bisa besar seperti sekarang, bahkan Barat pun harus bermitra dengannya. Itu menjadi pelajaran menarik bagi mereka yang ingin melawan Barat.

Itu berbeda dengan di negeri kita. Cak Nur mengkritik bangsa kita sebagai bangsa yang manja dan cengeng. Suka cari gampangnya sehingga makin dikenal sebagai bangsa paling konsumtif di dunia. Lihat saja betapa ironisnya, selama 64 tahun medeka, garam saja masih impor. Demikian juga gula sehingga harganya kian mahal (Jawa Pos 26/8). Kebergantungan pangan kita kepada produk impor menunjukkan nasionalisme macam apa yang kita hidupi.

Padahal, menurut Cak Nur, kegemaran mengimpor seperti itulah yang merusak sumber daya manusia kita sehingga daya saing kita justru tetap rendah. Nasionalisme kita pun tidak produktif. Hanya reaktif. Cak Nur menunjuk apa yang terjadi di Probolinggo atau Pasuruan. Dahulu di kedua kawasan itu ada beraneka pabrik besar. Salah satu di antaranya membuat gerbong kereta api. Bahkan, pabrik gula di dua kawasan itu sudah mampu mengekspor produknya sejak zaman dulu. Sekarang hal itu tidak terjadi dan orang-orang di sana menjadi kurang kompetitif lagi dalam menyongsong globalisasi.

Good Governance

Untuk itu, nasionalisme yang kita hidupi, lanjut Cak Nur, harus disokong oleh praktik hidup bernegara dan berbangsa yang bersih, jauh dari segala praktik culas, dan hanya mencari untung sendiri. Dengan kata lain, Cak Nur terobsesi akan good governance. Obsesi itulah yang kemudian mendorong Cak Nur mau maju sebagai salah seorang capres pada Pilpres 2004 dari Partai Golkar, meskipun akhirnya mundur. Seandainya calon indenpenden disetujui pada 2004, tentu kita akan bisa melihat cerita Cak Nur yang berbeda.

Menurut Cak Nur, good governance ialah suatu sistem pengelolaan negara atau pemerintahan yang baik, melibatkan persoalan transparansi. Semua itu harus transparan, kemudian ada accountability-nya. Nah, dengan begitu, kita mengharapkan korupsi akan hilang.

Kita bersyukur, meski pemberantasan korupsi di negeri ini belum menggembirakan semua pihak, sepak terjang KPK yang berani mengadili atau memenjarakan beberapa gubernur, anggota dewan, bupati, atau kepala daerah yang korup harus terus didukung. Sayang, kini ada upaya untuk melemahkan KPK secara sistematis.

Menurut Cak Nur, kunci dari good governance terletak pada seberapa berani aparat hukum dan pengadilan kita mengadili orang-orang kuat, memberantas mafia peradilan, bukan hanya berani mengadili wong cilik.

Begitulah sekelumit pemikiran Cak Nur. Kalau kita membuka semua file pemikirannya dan satu per satu dikaji, kita akan menyadari pemikirannya, khususnya yang terkait masalah kebangsaan, memang belum basi, bahkan masih begitu relevan dengan kondisi bangsa kita. Itu menjadi bukti pemikiran Cak Nur memang menyimpan ”daya messianis”.

*) .Made Ayu Nita Trisna Dewi (Ay Yauwk Nio) , menulis tesis Daya Mesianis Pemikiran Nurcholish Madjid, tinggal di Taipei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: