Antara Gairah & Absurditas Keberagamaan

Dulu, para ilmuwan meyakini kebenaran tesis bahwa proses modernisasi selalu membawa pengaruh terhadap sekularisasi di masyarakat. Keyakinan seperti ini banyak dijumpai dalam literatur Barat sebagaimana pada karya Talcott Parsons, Alex Inkeles, Roland Robertson, Peter L.
Berger, Donald E Smith, Myron Weiner dan lain-lain. Alasan mereka, dalam modernisasi itu terjadi rasionalisasi, demistifikasi dan demitologisasi. Dalam perspektif demikian, modernisasi meminggirkan peran agama. Bahkan agama dipandang sebagai faktor menghambat bagi kemodernan.
Modernisasi juga membawa ekses dan implikasi negatif bagi masyarakat. Meskipun mempunyai banyak segi positif, namun tidak jarang modernisasi justru menjadi penyebab dehumanisasi. Sering kali masyarakat modern kehilangan arah dan orientasi hidup, kehilangan makna dan tujuan hidup sehingga merasa teralienasi dari lingkungan sosialnya. Sebab nilai-nilai spiritual yang secara inheren ada dalam diri manusia, telah tereduksi oleh nilai-nilai materialisme yang ada di dalam modernisasi.
Disadari sepenuhnya bahwa ada salah satu dimensi kehidupan, yakni dimensi spiritualitas, yang tidak mampu diisi oleh kemodernan yang lebih menonjolkan dimensi materialisme semata. Untuk mengatasi kebutuhan spiritualitas yang tidak mampu dipenuhi dan dijawab oleh kemodernan itu, masyarakat mencoba mencari jawaban pada agama.
Modernisasi terus merambah ke seluruh belahan bumi, termasuk Indonesia. Namun pengalaman di Barat tentang dampak modernisasi tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman di Indonesia. Modernitas di Indonesia tidak serta-merta membuat kaum muslim berperilaku hidup sekuler atau meninggalkan agama. Masyarakat muslim justru tampak antusias dalam menampilkan simbol-simbol keagamaan dengan perangkat modern. Namun di antara mereka yang bergairah itu, ada yang memaksakan diri paham keagamaannya sehingga menimbulkan dampak-dampak sosiologis yang memprihatinkan.
Bersamaan dengan laju modernisasi, semangat beragama mengalami peningkatan yang cukup signifikan, masif dan eksplosif. Hal itu nampak pada gejala munculnya banyak kelompok pengajian keagamaan (majelis taklim), yang dari tahun ke tahun kian semarak. Banyak kalangan yang bergiat dalam berbagai aktivitas keagamaan, bahkan ada yang membentuk kelompok-kelompok pengajian tersendiri. Kelompok-kelompok ini secara intensif mendalami agama Islam melalui berbagai media, fenomena ini semakin menonjol pada saat Bulan Suci Ramadan, perkumpulan dakwah, bimbingan khusus dari seorang kiai, atau mengikuti kuliah agama secara intensif.
Peningkatan semangat dan gairah beragama itu ditandai oleh pesatnya animo masyarakat dalam mencari sumber-sumber bacaan berupa buku-buku keislaman. Banyak penerbit buku seperti Mizan, Al-Bayan, Gema Insani Press, Pustaka Pelajar, Tiga Serangkai, bahkan Gramedia dan lain-lain saling berlomba menawarkan buku-buku bacaan keislaman. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, minat mereka mendalami Islam melalui buku sangat luar biasa. Tidak sedikit buku-buku keislaman menjadi buku yang paling diminati masyarakat. Bahkan menduduki tempat teratas untuk kategori best seller nasional.
Mengamati perkembangan seperti ini ada dua hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, modernisasi justru menjadikan kaum muslim semakin insyaf dan sadar untuk mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip Islam. Bagi mereka, menjadi modern tidak harus menjadi penghalang untuk tetap teguh menjalankan ajaran agama. Mereka bisa eksis dalam kemodernan dengan tetap setia kepada Islam. Bahkan mereka mampu menyebut diri sebagai muslim yang modern dalam satu tarikan napas.
Kedua, kesemarakan itu juga perlu pengujian untuk menegaskan tingkat komitmen keberagamaan. Apakah keinsafan dan kesadaran dalam beragama itu bersifat sejati, atau hanya merupakan mode dan fashion belaka, atau bahkan hanya menjadi komoditas pasar. Jika dua hal terakhir ini yang terjadi maka perkembangan baru tersebut layak untuk disambut dengan penuh kecemasan. Kita semua menyadari bahwa arus modernisasi selalu melahirkan ekses dan sejumlah keprihatinan tersebut mungkin bagian dari ekses modernisasi itu.
Tentu saja keprihatinan tersebut harus dijawab dengan cara menegaskan komitmen untuk memperbaiki moral dan meningkatkan kontribusi positif bagi masyarakat. Kesemarakan kehidupan keagamaan yang fenomenal ini seyogianya bukan hanya bersifat simbolik dan artifisial, tetapi benar-benar mencerminkan penghayatan beragama yang mendalam. Kita harus menumbuhkan optimisme bahwa proses tersebut akan bergerak secara kontinum, dan perlahan-lahan bisa mengeliminasi ekses-ekses negatif yang muncul.

Romantisme
Hal itu perlu mendapat perhatian serius mengingat bersamaan dengan meningkatnya kesadaran beragama juga terselip sikap-sikap beragama yang absurd dengan menekankan perlawanan secara radikal terhadap modernitas itu. Di satu sisi, radikalisasi keberagamaan semakin tumbuh subur jika modernisasi gagal memberikan jawaban atas persoalan kemanusiaan. Di sisi lain, juga didorong oleh perasaan inferior dan kecurigaan yang berlebihan terhadap budaya lain. Absurditas keberagamaan ini sering kali dikaitkan dan diinspirasi oleh cita-cita untuk kembali ke zaman ”keemasan” di mana agama menjadi faktor utama pembangkit peradaban.
Memang, Islam memiliki apa yang disebut the golden years atau masa keemasan, yang selalu dikenang dan dijadikan sumber inspirasi dan motivasi. Masa keemasan ini bisa bersifat historis dapat juga sebuah konstruksi romantisisme yang berbaur dengan emosi dan keyakinan keagamaan sehingga selalu dirujuk dan dijadikan model kehidupan masa depan. Persoalannya adalah bagaimana menyelaraskan konstruksi sejarah masa lalu itu dengan kompleksitas problem modernitas hari ini? Kegagalan dalam melakukan penyelarasan antara idealitas dan realitas (kemodernan) akan membawa dampak buruk bagi kemanusiaan dan mencoreng citra luhur agama itu sendiri.
Sungguh tidak selalu mudah melakukan kerja penyelarasan yang dimaksud. Ibarat seorang pendaki gunung dengan segulung peta. Dari kejauhan gunung tampak indah dan nyaman, padahal kalau didekati kondisinya amat jauh berbeda. Maka, para pendaki gunung sadar betul tentang perbedaan antara ”peta” dan ”teritori”. Yang pertama berupa gambar di atas kertas yang begitu sederhana, sedangkan yang kedua adalah realitas di lapangan yang kompleksitasnya tidak terlihat dalam peta. Demikian juga dengan gambaran masa keemasan sebuah komunitas umat beragama di masa lalu, pada kenyataannya jika ditelusuri tidak sesederhana apa yang ditulis ataupun diceritakan orang.
Karena itu, gairah keislaman yang sudah menggelora sebagaimana terurai di atas harus terus dikobarkan tidak boleh sedikit pun dipadamkan. Namun dalam waktu yang sama, gelombang modernitas meniscayakan kaum muslim melakukan reinterpretasi ajaran dan revitalisasi peran sosial-keagamaan agar misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semakin mendekati harapan.

oleh Mutohharun Jinan MAg, Pengasuh Pondok Shabran UMS Makamhaji Kartosuro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: