Caknur Sang Guru Bangsa

Bagaimana sebenarnya cara kerja Nurcholis Madjid? Dia punya ide besar tapi kita yakin itu tentu bukan ide pribadi dia. Apakah dia itu seorang yang bergerak sendiri atau bergerak dengan masyarakat tapi yang jelas dia bukan politikus. Bagaimana cara Nurcholis Madjid mengembangkan masyarakat?

Yang saya tangkap, Cak Nur itu kecenderunganya seorang soliter, orang yang menyendiri. Dalam kesendirian itu dia memproduksi beberapa gagasan-gagasan sehingga tidak ada hubungan patron claint sebelumnya. Kalau pun orang simpatik, dekat pada Cak Nur itu karena kedekatan pemahaman, simpatik pada gagasannya. Bukan karena hubungan sangat pribadi. Ini beda dengan dunia kepartaian atau kyai dan santri. Cak Nur beda. Ini juga terlihat sejak di Universitas Paramadina maupun ketika meninggalnya kemarin. Banyak orang datang dari berbagai lapisan karena simpatik pada pribadinya dan juga pikiran-pikirannya. Yang memberikan kekhasannya Cak Nur itu, banyak orang pintar tapi pribadinya kurang menonjol. Rendah hati dan keramah-tamahan Cak Nur, hemat saya, kedua-duanya menonjol sekali. Jadi kepribadian didukung intelektulitas. Intelektualitas dan kepribadiannya sangat menyatu.

Konsistenlah kepribadiannya. Dan saya kira tanda orang besar bahwa semakin dekat kita pada orangnya semakin terasa dia sebagai orang biasa. Jadi dia bukan orang yang menyeramkan. Saya waktu kenal dia pada tahun 66 ketika sebagai mahasiswa muda dan dia sebagai ketua umum HMI, saya selalu anggap dia orang besar. Tapi ketika lebih dekat, wah biasa sekali. Dia bisa menyesuaikan bicaranya sehingga kita tidak merasa bodoh. Apa cara kerja itu khusus dia pribadi atau Anda juga melihat itu banyak digunakan oleh orang-orang dalam lingkungan Anda dan dia?

Cak Nur itu melebihi orang-orang seangkatannya. Jadi mendahului zamannya mendahului angkatannya. Karena itu satu kelebihannya bila orang dekat dengan Cak Nur itu ketika pulang merasa dapat sesuatu baik informasi keilmuannya, maupun pribadinya, juga mungkin kerendahan hatinya, dan merasa mendapatkan suatu. Orang ke sana itu datang seperti menimba, tidak ada yang mengkritik. Dan kalau toh ada orang beda pendapat, Cak Nur itu tidak pernah marah hanya senyum saja. Anggapan yang salah mengatakan bahwa itu pengikut Cak Nur. Pengikut dalam arti setuju gagasannya, iya. Tapi kalau pengikut dalam arti hitam putih mengikuti semua pendapatnya, hemat saya tidak benar.

Barangkali sifat itu juga yang kemudian kita lihat menimbulkan situasi yang unik, dimana dia mempunyai dukungan besar tetapi pada waktu orang ingin menerjemahkannya menjadi dukungan politik, menjadi calon presiden, lalu orang tidak biasa berurusan dengan orang semacam dia. Biasanya berurusan dengan orang yang menggunakan power. Menurut Anda bagaimana pengalaman dia menyambut dukungan politik dari orang-orang?

Cak Nur itu orang yang tidak mau menyakiti orang lain, sulit berkata tidak. Hemat saya ini tidak cocok untuk sebagai seorang leader dan politisi. Politisi dan leader adakalnya memang harus tegas berkata tidak. Cak Nur lebih merupakan guru bangsa. Guru yang baik tidak harus menjadi kepala sekolah karena kepala sekolah harus urusi kebun, absensi. Cak Nur itu seorang guru. Karena itu tepat mengatakan Cak Nur Guru Bangsa, sumber pencerahan. Itu betul. Di lingkungan kawan-kawan dekatnya, dia sumber inspirasi dan pencerahan. Makanya ketika dibawa –bawa kepolitik orang juga bertanya apa ini cocok untuk Cak Nur.

Tapi dia juga tidak menolak karena baiknya itu barangkali?

Iya, kalau toh Cak Nur mau itu karena merasa dia didesak, diperlukan. Kalau memang bangsa dan orang lain memerlukan dirinya mengapa ditolak. Jadi bukan karena ambisinya. Cak Nur tidak obsesi punya pengikut dan jabatan. Ini yang kadang-kadang disalah-pahami sehingga kawan-kawan yang beraliran keras menganggap Cak Nur terlalu baik dengan agama lain tapi pada Islam tidak begitu gigih. Lain halnya dengan orang yang kalau beda pendapat sampai melempar batu. Cak Nur tidak seperti itu.

Di mata orang luar yang non muslim justru Cak Nur dianggap santri tulen, yang simpatik, yang menjadi referensi ketika melihat Islam. Akhirnya Cak Nur bukan sekadar tokoh Islam tapi seorang nasionalis dan Humanis. Nah ini yang saya lihat sehingga kalau saya memberikan lebel pada Cak Nur yang paling spesifik adalah sebagai sebuah model mereferensikan nilai-nilai ke-Islaman. Tapi dalam konteks ke-Indonesian dan sekaligus bagaimana Indonesia ini bergerak masuk ke dunia modern. Ini yang hemat saya sulit ditemukan pada figur-figur yang lain. Jadi bukan pada Cak Nur pribadi tapi model ini yang hemat saya perlu dikembangkan.

Cak Nur sebagai Guru Bangsa dan bangsanya adalah Indonesia maka otomatis menjadi figur yang sangat penting di dunia. Apalagi sekarang Islam pada persimpangan jalan dalam pandangan orang-orang. Bagi masyarakat awam dan terutama di luar negeri sebetulnya ada dua istilah yang sering dipakai, dilempar-lempar tanpa orang mengerti implikasinya yaitu pluralisme dan sekularisme karena dianggap jelek. Bagaimana bapak komentar Anda melihat pluralisme dan sekularisme dalam hubungannya dengan pikiran Cak Nur?

Pertama sekularalisme, di dalam teori sosial politik filsafat kata itu menimbulkan multi interpretasi. Kita sering mengatakan sekuralisme itu sebagaimana Amerika, anti-Tuhan. Amerika itu di mata saya negara yang sangat religus. Bahkan suatu hari saya ketemu seorang artis dan mengatakan Amerika itu negara teokrasi. Jadi di sini ketika orang mengatakan sekuralisme itu dan kalau dikejar apa sebetulnya yang dimaksud itu tidak jelas.

Kalau sekuralisme dalam arti kedekatan urusan politik secara profesional dan kompetensi, hemat saya ada benarnya sehingga kemudian agama diposisikan pada posisi yang anggun, yang tidak terkontiminasi oleh konflik politik. Dalam pengertian itu mungkin seperti Vatikan yang mengambil jarak dari politik praktis. Dalam pengertian itu mungkin ada benarnya.

Tapi sekularalisme dalam kontek Islam yang dimaksudkan Cak Nur tidak seperti itu. Itu kan sebagai antitesis terhadap proses sakralisasi partai politik. Waktu itu Parpol disakralkan maka sekularisme dalam pengetian itu lebih tepat diletakan, maksud Cak Nur. Dan hemat saya pemilu kemarin membenarkan tesis Cak Nur. Kalau orang memilih partai bukan karena semata Islamnya tapi karena visi dan programnya. Hasil penelitian, orang memilih PKS bukan karena PKS Islam tapi karena efesien dan bersih. Jadi walaupun memakai simbol Islam tapi ketika tidak didukung kompetensi dan intergritas tidak akan laku. Dalam pengertian ini hemat saya, sekularisasi maksud Cak Nur itu lebih poporsional.

Kedua pluralisme, pluralisme itu satu paham yang muncul dari wacana ilmu sosial bahwa di dalam masyarakat yang plural mari kita mencari titik-titik temu untuk menciptakan perdamaian-perdamaian, memajukan bangsa bersama. Bukan mengidentikan, menyamakan semua agama. Ini yang lagi-lagi sering disalah pahami.

Tadi Anda sudah mulai menyentuh hakikat dari pluralisme tetapi interpretasi awam seperti Anda katakan terbawa kemana-mana dan itu sekarang sudah terlanjur menjadi suatu isitlah yang membawa konotasi macam-macam. Menurut Anda, bagaimana pluralisme sekarang?

Saya ingin menganalogikan Indonesia ini seperti rumah besar, rumah gadang yang memiliki banyak kamar. Kamar ini ada kamar etnis dan agama yang beragam. Mari kita perlebar ruang tengah bersama sehingga rumah Indonesia kita jaga bersama. Jadi jangan kemudian kamar tersebut kita disain menjadi rumah, kemudian kamar sebelah kita potong-potong atau gergaji tiangnya listrik. Kalau kebakaran satu kamar maka kita kebakaran semuanya. Jadi pluralisme dalam pengertian mari mencari titik temu. Saya seorang beragama Islam yang lain Kristen. Ini bagaikan minum cola dan minum air jeruk. Setelah Anda minum menurut pilihan Anda, setelah Anda segar dan sehat mari bersama-sama menciptakan perdamaian, kedamaian, kemajuan bangsa. Pluralisme dalam pengertian seperti itu yang perlu dikembangkan.

Pak Komaruddin dibesarkan baik dalam lingkungan pesantren maupun dalam lingkungan yang sangat international yaitu saat menempuh pendidikan di Turki, Kanada, dan dalam berbagai kunjungan ke negara lain. Bagaimana perbandingan Islam yang di kumandangkan oleh Nurcholis Madjid dan Anda dengan di negara-negara lain, dan bagaimana harapannya untuk dunia?

Sekarang ini baik Islam, Kristen dan Yahudi adalah pengalaman pertama mereka dihadapkan pada realitas pluralis secara sosiologis. Jadi semua menghadapi problem. Sebab, dulu agama itu muncul dalam komunitas kecil, yang terbatas, yang jauh dari kontes yang lain sehingga pandangan dunia mereka monolitik. Mereka masing-masing menganggap sebagai pusat dunia. Tapi sekarang ini ada sebuah kesadaran baru oh ternyata tidak kita ini bagian dari yang lain masing masing tinggal di atas planet bumi yang satu, yang dihuni beragam agama, budaya, dan bahasa. Ibarat kapal, kalau mereka tidak rukun, marah, berantam, malah membocori kapal dan bisa tenggelam. Ini pengalaman pertama bagi semua agama.

Tapi secara normatif, teologis, dan teoritis, saya melihat Cak Nur mencari rujukannya dari Madinah. Jadi ketika Cak Nur bicara pluralisme, kosmopolitanisme itu ditemukan rujukkan dari agama Islam, dari pengalam dunia secara global, dan bagaimana diterapkan di Indonesia. Jadi dalam pikiran Cak Nur ke Indonesian itu dicari akar teologisnya dari Islam tapi juga realitas yang sedang berkembang pada tingkat gobal.

Tadi bapak menyinggung secara agak kelakar tapi serius bahwa ada orang-orang yang suka lempar batu. Jadi orang-orang yang berpendapat keras dan membawakan simbol Islam, identitas Islam walaupun saya tidak tahu sebetulnya bagaimana ke-Islaman mereka. Itu realitas masyarakat dan dengan media sekarang yang menangkap banyak headline, bagaimana seharusnya mereka diperlakukan?

Ini ada unsur kesalahan dari negara. Negara itu harus memberikan keamanan kepada warga negara. Ketika negara tidak mampu menegakan hukum secara tegas maka ketika terjadi konflik keagamaan mereka tidak bisa memisahkan sebetulnya ini kewenangan agama atau negara. Di Indonesia, kemarin setiap ada pemilu, domain agama menjadi bargaining power untuk negosiasi wilayah negara. Karena itu batasan antara hukum agama dan negara kabur. Hemat saya, tokoh-tokoh agama duduk bersama merespon misalnya masalah mendirikan mesjid dan gereja. Selesaikanlah dalam antar kelompok agama. Jangan sampai kemudian mereka tidak bisa menyelesaikan kemudian mengundang negara dan ketika negara bertindak malah disalahkan. Hemat saya, tidak dewasa kedua-duanya baik wilayah negara maupun agama dalam menyelesaikan urusan umatnya. Bagi negara mereka dipandang sebagai warganegara tapi bagi tokoh agama mereka adalah umatnya.

Kalau kita mencari tokoh Islam yang moderat dan juga diterima sebagian besar orang maka Cak Nur orangnya. Sekarang beliau sudah tidak ada secara fisik bersama kita. Tadi kita bicara orang-orang yang lempar batu tapi itu massanya. Sedangkan pimpinannya adalah orang yang punya ketokohan Islam. Bagaimana gambaran kepemimpinan Islam ke depan?

Saya melihat ada gejala yang membaik. Tokoh-tokoh agama entah itu partai yang berbasis keagamaan maupun ormas semacam Muhammadiyah menyadari betul peran mereka untuk bersama-sama menyelesaikan, memikirkan, dan memajukan bangsa tapi sekaligus mempunyai dampak pembelaan pada rakyat. Jadi mereka ini kelompok strategis yang menjembatani konflik antara negara dan masyarakat yang bertahun-tahun pada masa lalu. Karena itu pemimpin ke depan adalah pemimpin yang jelas punya visi ke Indonesian, demokrasi, HAM, tapi sekaligus mereka membenarkan paham suara rakyat sehingga bukan menjadi broker tapi mungkin mediator.

Hanya mengetahui agama dan tidak ada ilmu sosial akan repot. Tapi mereka mengetahui ilmu sosial tapi tidak tahu ilmu agama juga repot. Saya melihat orang semacam Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, dan Hidayat Nur Wahid, makin menunjukan satu kematangan membicarakan kontribusi kepada Negara tapi sekaligus mereka tidak putus dari umatnya. Hemat saya, ini gejala yang menarik ke depan.

Tidak biasanya acara yang sangat simpel ini diakhiri dengan pesan-pesan. Kedengarannya klasik tapi saya tidak berani membiarkan percakapan ini lepas begitu saja, dan lebih tidak berani menyimpulkan. Jadi bagaimana menurut Pak Komaruddin pesan Cak Nur kepada kita semua, dan pesan Anda kepada kita semua menghadapi tantangan masa depan?

Pertama, Cak Nur itu orang yang tidak senang dikultuskan. Jadi kalau toh kita bicara mengenang Cak Nur jangan dipandang bahwa kita ini mengultuskan Cak Nur. Justru yang saya tangkap dari Cak Nur, dia selalu mendorong untuk menjadi pendegar yang baik. Kalau kita punya pendapat sampaikan dengan baik dan santun.

Kedua, sampai menjelang akhir hayatnya, Cak Nur selalu berpikir tugas pemimpin apa pun adalah membela dan membahagiakan rakyat. Jadi ukurannya adalah bagaimana perilakunya, pikirannya untuk membela rakyat.

Ketiga, tunjukan bahwa Islam itu agama yang menjunjung tinggi perdamaian. Sebab, tidak mungkin peradaban dibangun tanpa ada perdamaian dan intelektualitas serta intergritas. Jadi ada tiga yang menonjol. Satu, kapasitas intelektual, dan kedua ditopang dengan integritas, dan ketiga berdamai. Untuk menciptakan damai orang harus taat pada hukum kemudian cinta kepada ilmu pengetahuan, dan mengembangkan kepribadian. Ini yang salalu diulang-ulang oleh Cak Nur dan yang dimaksud itu relevan untuk kita semuanya.

wawancara Wimar Witoelar dengan Komaruddin Hidayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: