Menahan Diri dari Godaan

Oleh : SAURMA

SAAT seseorang tengah diuji atas sesuatu, tentu yang paling penting adalah bagaimana  menahan diri terhadap godaan yang akan membawa kita gagal dari ujian itu. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita setiap hari diuji atas nilai-nilai yang harus kita jalankan dalam hidup ini.

Mulai dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa, masing-masing kita diberi ujian yang tidak mudah untuk dilalui. Apalagi di masa sekarang dimana godaan datang seperti angin yang sangat kencang. Sebentar saja, jika kita tidak cukup kuat maka kita sudah habis diporak-porandakannya.

Mengenal Godaan

Apakah yang dimaksud dengan godaan? Secara singkat, jika kita melihat ada gangguan yang akan mencoba menggugah prinsip yang sudah kita tetapkan, itu bisa dikatagorikan sebagai godaan.

Godaan ini secara teknis bisa terlihat jelas. Karena langsung secara kasat mata bisa  kita lihat sebagai upaya yang cukup dan sangat mengganggu kita.  Tetapi asal tahu saja, godaan itu juga seringkali terlihat samar sehingga kadang tidak kita sadari. Sebab memang kadang-kadang godaan itu dibuat untuk menjebak kita. Sehingga, jika kita tidak hati-hati, ternyata kita sudah terpaut dengan godaan itu dan gagal dengan keinginan kita mempertahankan prinsip kita yang awal.

Katakanlah, di Bulan Puasa ini. Setiap Umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan menahan diri terhadap berbagai godaan dan cobaan yang sudah diajarkan. Karenanya, jika ada seseorang yang berusaha membuatnya membatalkan puasanya, itu bermakna orang tersebut sudah menggodanya. Ini yang terlihat secara kasat mata.

Pada contoh yang sama, ada juga cara lain yang bisa jadi merupakan sebuah godaan. Misalnya, adanya tambahan kerjaan yang membuat seseorang terpaksa tidak dapat menjalankan ibadah puasanya. Karena berprinsip sedang melakukan suatu pekerjaan, ia lalu merasa sah-sah saja jika batal puasa dan nanti mengganti puasanya di kemudian hari. Tapi jika direnungkan lagi, benarkah demikian? Apalagi jika ternyata pekerjaan itu bisa dilakukannya di lain waktu, setelah masa puasa selesai.  Inilah godaan yang tersamarkan itu.

Menahan Godaan

Untuk itu, memang tidak mudah untuk menahan godaan. Karena kita harus pintar menilai sesuatu apakah termasuk godaan atau bukan.  Godaan yang kasat mata, misalnya saat puasa ada yang mengajak makan siang, tentu dengan serta merta bisa kita hindari dengan menolak sebab sedang menjalankan ibadah puasa. Sementara godaan yang menjebak malah tidak terlihat langsung tapi kemudian kita sadari kita sudah melakukan kesalahan. Inilah yang paling penting kita perhatikan.

Lantas, bagaimana mengenali godaan yang demikian? Bagi sebagian orang yang membuat keputusan akan sesuatu hal agak lambat bisa diuntungkan dengan lebih banyak waktu untuk berpikir. Tapi bagi orang yang dengan cepat menyatakan setuju akan sesuatu hal, tentu harus lebih hati-hati. Sebab mereka inilah yang mudah tergelincir dan terjebak.

Lalu? Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan sinyal untuk menyetujui atau tidak, sesuatu hal yang kita curigai sebagai godaan. Selain patuh pada norma-norma yang ada, juga ada satu hal yang tidak bisa kita abaikan karena sanggup menanggung bagian terberat dari kehidupan kita, yaitu suara hati yang tenang.

Suara Hati

Suara hati adalah sistem peringatan dari Yang Kuasa untuk mengingatkan kita akan sesuatu. Berbahagialah kita jika suara hati kita itu menegur kita. Sebab itu adalah sesuatu yang murni dan tidak dimasuki tujuan apapun selain dari memenangkan diri kita.

Misalnya, kita diajak bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita kenal sama sekali tetapi sudah sangat akrab berkomunikasi dengan kita lewat sms atau facebook. Tentu saja hubungan yang terjalin demikian hangat membuat kita merasa sudah dekat atau bahkan sangat dekat dengan orang tersebut. Tapi kita tidak menyadari ternyata orang tersebut bisa juga melakukan kamuflase tentang data dirinya. Dan ketika kemudian orang yang sudah akrab dalam hubungan lewat dunia maya itu mengajak ketemu di sebuah hotel, bagaimana sikap kita?

Sebagai orang yang masih mau mendengarkan kata hati, tentu Anda akan segera curiga, meskipun Anda sudah merasa cukup dekat dengan orang tersebut. Kenapa harus ketemu di hotel? Kenapa tidak datang ke rumah saja atau bertemu di restoran atau cafe, misalnya?

Tentu Anda yang mendengarkan suara hati akan mencoba menolak ajakan ini. Setidaknya,  Anda yang penasaran ingin ketemu akan memilih tempat yang lebih netral. Sebab, jika Anda ikutkan ajakannya, tentu dirinya juga berpikir Anda terlalu mudah untuk ditundukkan dan bukan tak mungkin baginya menyiapkan sebuah perangkap karena Anda terlihat cukup koperatif untuk diperdaya. Di sinilah suara hati Anda berperan. Dan kalau Anda tidak mempertahankan sesuatu, Anda pasti jatuh karena apa saja. Yakinlah tentang hal itu!

***harian analisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: