Menggagas Puasa Substansial

Zaprulkhan MSI Dosen STAIN SAS Babel Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Besar kemungkinan kita sudah menahan rasa lapar dan dahaga, tapi barangkali kita belum menjaga lisan kita dari membicarakan hal-hal yang terlarang dan membuka aib orang lain

KALAU kita ditanya, apakah ibadah puasa bisa mengantarkan seseorang menemukan takwa?
Secara positif, kita semua akan menjawab pertanyaan ini dengan nada meyakinkan: Ya! Tetapi marilah kita rubah pertanyaannya sedikit saja: apakah ibadah puasa yang kita jalani selama ini sudah membuat kita menjadi orang-orang yang bertakwa? Jawaban kita barangkali mulai ragu-ragu. Mau dijawab ya, tapi rasanya kita belum menemukan takwa secara faktual dalam arena kehidupan kita. Namun mau dijawab belum, kenyataannya sudah seringkali kita bertemu dengan bulan ramadhan. Kita selalu mengisinya dengan lapar dan dahaga, dengan senandung ayat-ayat Al-Quran dan shalat tarawih berjamaah, bahkan di akhir ramadhan kita sempurnakan dengan i’tikaf serta ibadah-ibadah sunnah lainnya.  Kalau begitu kira-kira di mana masalahnya? Puasanya atau kita yang dalam melaksanakan ibadah puasa belum benar? Karena Al-Quran yang mengatakan bahwa puasa akan mengantarkan kita menjadi orang yang bertakwa.

Sedangkan Al-Quran merupakan kalamullah yang mengandung kebenaran, maka masalahnya terletak pada diri kita. Persoalannya, kita baru berpuasa secara periferal, pada tataran permukaan, belum memasuki puasa substansial, puasa pada dimensi penghayatan, puasa yang hakiki. Karena itu dalam episode awal Ramadhan ini, mari kita bicarakan konsep-konsep berpuasa secara substansial, dengan harapan kita akan meraih takwa dalam bulan yang agung ini.

Dalam perspektif Imam Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, ada enam syarat yang harus kita penuhi agar ibadah puasa kita mempunyai nilai substantif dan menjadi orang-orang yang muttaqin.

Pertama, menahan pandangan mata dari hal yang tercela dan dilarang, sehingga lalai dari mengingat Allah. Menjaga pandangan seperti ini walaupun terlihat sederhana tapi akibatnya sangat besar. Ia akan memberi bekas pada hati dan melalaikan kita dari zikir kepada Allah. Nabi kita mengingatkan, “Pandangan itu merupakan anak panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Siapa yang menahan pandangannya karena takut kepada Allah, niscaya dia akan merasakan manisnya iman di dalam hatinya” (HR. Al-Hakim).

Kedua, menjaga lisan dari segala ucapan yang sia-sia, seperti berbohong, menggunjing, memfitnah, bertengkar, dan membiasakan zikir kepada Allah. Lisan ini memang ringan sepertinya, tapi berat menjaganya. Mudah mengucapkannya, namun sulit mengendalikannya. Sampai-sampai Rasulullah mengingatkan kita yang berpuasa untuk berdiam diri dan tidak membalas walaupun ada orang yang mencaci maki kita.”Apabila seseorang memakimu atau berbuat kurang ajar kepadamu, maka ucapkanlah: sungguh aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa” (HR. Ibnu Majah). Beliau melarang kita untuk membalasnya, karena secara psikologis orang yang sedang berpuasa sensitivitasnya tinggi. Mudah sekali terpancing emosinya, sehingga dikhawatirkan akan terjadi pertengkaran yang menyebabkan batalnya puasa yang kita jalani.

Ketiga, menahan pendengaran telinga kita dari segala sesuatu yang dilarang. Alasannya, sebagaimana kita dilarang untuk mengatakan sesuatu yang terlarang, kita pun dilarang untuk mendengarkan segala hal yang terlarang. Kata Imam Ghazali: “Karena segala sesuatu yang haram untuk dikatakan, maka haram pula untuk didengarkan”.

Keempat, menjaga seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan maksiat. Menjaga perut kita dari makanan yang haram saat berbuka puasa. Kita jaga kedua tangan ini dari menganiaya dan memukul orang lain atau mengambil barang yang bukan milik kita. Serta menjaga kedua kaki kita dari menginjak-injak hak orang lain atau melangkah ke tempat-tempat maksiat.

Kelima, hendaklah kita tidak memperbanyak makan makanan yang halal pada waktu berbuka puasa. Syarat yang kelima ini kelihatannya sederhana, tapi amat penting sekali. Mengapa demikian? Lapar dan haus yang kita rasakan adalah sarana yang mengantarkan kita mengenal hakikat kelemahan kita. Selanjutnya, dengan ketidakberdayaan yang kita rasakan ini akan membuat kita menyadari kafakiran dan kebutuhan kita kepada Allah. Dari sini, sebagai konsekuensinya akan mengantarkan kita mengenal siapa Tuhan kita. Pada saat itulah kita memahami dan merasakan makna sebuah ungkapan: “Siapa yang telah mengenal dirinya, maka sesungguhnya dia telah mengenal Tuhannya”.

Keenam, setelah berbuka puasa, hendaklah hati kita selalu berada di antara cemas dan harapan. Khawatir kita, kalau ibadah puasa kita tidak diterima oleh Allah. Takut kita, barangkali ibadah puasa kita banyak tercampuri maksiat sehingga ditolak oleh Allah. Sebab hakikatnya kita tidak tahu apakah ibadah puasa kita diterima oleh Allah atau tidak. Namun kita jangan tenggelam dalam samudera keputusasaan. Bila Allah Maha Adil dan Maha Teliti, maka Allah juga Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bahkan kasih sayang Allah mendahului murka-Nya. “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku”.

Dari perspektif ini, kita seharusnya optimis, melabuhkan semesta harapan kepada Allah Yang Maha Welas Asih. Itulah enam syarat puasa substansial yang diformulasikan Imam Ghazali agar ibadah puasa kita bisa menjadi sempurna. Keenam syarat ini hendaknya kita jadikan cermin untuk ibadah-ibadah puasa kita yang telah lalu. Bila ibadah puasa yang telah kita jalani selama ini belum juga membuat kita menemukan makna takwa yang sebenarnya dalam kehidupan, mungkin keenam syarat ini belum kita laksanakan dengan baik.

Memang kita sudah berpuasa dari lapar dan dahaga, tapi mungkin kita belum mempuasakan anggota tubuh kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Kita belum menjaga kedua mata kita dari sesuatu yang terlarang, memelihara kedua kaki kita dari tempat-tempat maksiat dan mengendalikan kedua tangan kita dari merampas hak-hak orang lain.

Besar kemungkinan kita sudah menahan rasa lapar dan dahaga, tapi barangkali kita belum menjaga lisan kita dari membicarakan hal-hal yang terlarang dan membuka aib orang lain. Atau mungkin kita sudah merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan kita di siang hari, namun kelemahan dan ketidakberdayaan itu segera kita tutup dengan makanan dan minuman yang berlebih-lebihan saat berbuka puasa. Kita baru berpuasa secara periferal, namun belum berpuasa secara substansial. Kalau demikian yang selalu kita kerjakan dalam menjalankan ibadah-ibadah puasa kita sebelumnya, maka wajar bila kita belum juga menemukan makna takwa yang hakiki dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, setelah mengetahui semua ini mari kita praktekkan keenam syarat tersebut supaya kita bisa menjalani puasa secara substansial. Jika keenam syarat yang disarankan Imam Ghazali ini kita laksanakan, maka kita akan menemukan makna takwa yang hakiki, baik dalam Ramadhan maupun di luar Ramadhan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: