Puasa bersemangat Badar

Puasa Ramadan sangat berhubungan dengan peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan umat Islam, yaitu perang Badar. Pada Ramadhan tahun kedua Hijriah, 300 pasukan Islam dengan bekal seadanya berperang melawan seribu pasukan kaum kafir Quraisy yang perbekalan dan persenjataannya lengkap, di sumber air bernama Badar.
Menakjubkan, Alquran merekam pasukan Islam dapat menang karena mendapat pertolongan Allah dengan tentara yang tak terlihat oleh manusia.
Perang Badar merupakan bukti nyata, keikhlasan mengabdi kepada Tuhan akan mendapatkan pertolongan dari-Nya. Umat Islam yang disatukan oleh iman dan tujuan akan dapat mengalahkan segala hal yang merintanginya. Perang Badar menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa keserakahan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Perang Uhud akan menyebabkan runtuhnya kekuatan Islam.
Peristiwa Uhud menjadi tragedi memilukan bagi umat Islam karena pasukan Islam lebih memikirkan rampasan perang sehingga meninggalkan pos penjagaan yang menjadi tanggung jawab mereka. Selain umat kalah, banyak tentara Islam yang meninggal, Nabi Muhammad SAW pun luka parah hampir meninggal karena gempuran kaum Quraisy.
Sabda Nabi Muhammad, spirit Badar saja ternyata tidak cukup untuk menjadikan puasa umat Islam paripurna. Spirit Badar barulah bekal perang kecil. Menggapai puasa yang paripurna hanya dapat diperoleh bila umat Islam mampu mengalahkan perang-jihad besar, yaitu memerangi hawa nafsu pribadi masing-masing.
Puasa sebagai laku spiritual memerangi jihad akbar (hawa nafsu), mencerahkan akal budi merupakan risalah yang dijalankan umat manusia dari zaman ke zaman. Sekadar contoh, Maryam, ibunda Nabi Isa AS menjalani puasa mbisu, kaum Shabi’in dan pengikut Manuwiyyun di Mesopotamia dan Persia, umat Kristen di Asia Barat dan Mesir berpuasa hanya memakan makanan tertentu (Madjid: 1995). Dalam syariat Islam, puasa menahan makanan dan minuman apapun secara mutlak.
Pewarisan puasa yang terus-menerus ini membuktikan bahwa Islam memang mata rantai kontinuitas, agama penerus, penggenap, penyempurna misi suci para nabi dan rasul sebelumnya (QS An-Nisa: 163-166). Meski Allah menjanjikan manusia yang gembira dengan datangnya puasa diharamkan masuk neraka, tetapi pada saat yang sama harus dibuktikan konsistensinya sepanjang Ramadan. Hal ini secara keras diperingatkan nabi Muhammad SAW, bahwa banyak manusia yang menjalankan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Kehadiran Allah
Mengapa tragedi puasa dapat menimpa manusia? Lemahnya kejujuran diri, keikhlasan dan gagal menundukkan hawa nafsu. Tanpa kejujuran, keikhlasan dan menundukkan hawa nafsu, manusia dalam kerugian karena puasa dalam pengawasan dan penilaian Allah secara langsung. Kesadaran bahwa Allah hadir bersama hambanya setiap saat merupakan ruh yang akan dapat menjaga manusia dari segala keburukan laku.
Manusia akan selalu pada jalur keilahian dan terjaga dari bujuk rayu setan. Manusia yang berada dalam derajat ”Allah selalu hadir” pasti akan sensitif dan peka dengan segala problem individual dan problem sosial.
Imam Husein suatu ketika ditanya seorang sahabat, ”Apa pelajaran dalam puasa? Sang Imam menjawab, ”Bahwa si kaya harus merasakan rasa sakitnya lapar dan menghargai apa yang diderita orang miskin, dan karena itu dapat membagi karunia Allah kepada mereka.”
Nabi Muhammad bersabda, ”Sebuah kelompok berbuka puasa sementara di antara mereka masih ada yang kelaparan maka puasanya tidak diterima.” Maka, sangat tegas, berpuasa tidak hanya saat berkekurangan dan kelaparan, tetapi juga saat memberi dan membagi. Ini adalah kualitas haramahu jasadahu ‘alan niran (haram hamba seperti ini masuk ke neraka). Puasa menjadi masa penyucian diri dari segala dosa dan noda.
Seorang cendikiawan muslim garda depan zaman ini, Mahmoud M Ayyoub, memperingatkan kepada kita bahwa setiap tahun kita puasa Ramadan, mengingat perang Badar, membaca dan melantunkan Alquran di rumah-rumah dan masjid. Sayangnya, puasa kita hanyalah pameran, perayaan, selebrasi. Yang kita lakukan hanyalah sebuah tontonan, kata-kata kosong tanpa makna. Ini terjadi bila kita memahami puasa hanya sebatas kewajiban tanpa menjadi pelajaran. Wallahualam.

Nurul Huda SA, Pengajar Fakultas Tarbiyah Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon – Oleh : Nurul Huda SA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: