Puasa dan Perdamaian

ALI Shariati, sosiolog asal Iran dalam bukunya On the Sosiology of Islam menjelaskan, sejarah umat manusia adalah sejarah peperangan dan pertikaian antara dua kubu yang saling berkepentingan. Lebih ekstrem dari itu, Ibnu Khaldun, sejarawan muslim abad pertengahan dalam karya agungnya Muqaddimah juga menegaskan, \’perang dan berbagai bentuk pertarungannya selalu akan terjadi sejak Allah menciptakan dunia\’.

Konflik yang terjadi antara Qabil dan Habil, putra Adam As, pada permulaan sejarah manusia merupakan bentuk pertikaian awal dalam episode kehidupan manusia di muka bumi. Dalam rangkaian kehidupan umat manusia selanjutnya, di sini dan di bumi ini, pertarungan tersebut akan terus berkecamuk dalam segala bentuk dan wujudnya yang berbeda-beda. Hal ini semakin mentakidkan (memperkuat) fakta ilmiah, bahwa kehidupan, manusia, dan sejarah didasarkan atas kontradiksi dan pertarungan.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa seluruh rangkaian sejarah manusia merupakan arena pertarungan antara kelompok Qabil si pembunuh, dan kelompok Habil yang menjadi korbannya. Qabil dan Habil dalam perspektif filsafat sejarah Shariati merupakan aktor utama dalam panggung sejarah dunia. Setiap manusia, baik secara individu maupun kolektif akan memilih satu peran di antara dua tokoh besar itu, Qabil atau Habil. Secara tipologis, Qabil berperangai jahat, kasar, dan suka membunuh. Sebaliknya Habil berkepribadian baik, ramah, dan pemaaf.

Kekerasan

Melalui teori di atas, kita dapat menarik kesimpulan. Bahwa kekerasan dalam berbagai bentuk dan terornya, merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia yang mau tidak mau harus dihadapi dan diselesaikannya, bukan untuk ditinggalkan begitu saja. Karena, bagaimanapun juga makhluk yang bernama \’kekerasan\’ ini akan selalu muncul dalam setiap tarikan napas kehidupan manusia, di saat manusia tidak mampu lagi untuk menundukkan dan meletakkannya di bawah kuasa akal sehat dan iman kepada Allah SWT.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang dibekali insting, seperti rasa lapar, haus, dan juga rasa aman, manusia sejatinya memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan cara berinteraksi, berkomunikasi, dan bersentuhan langsung dengan makhluk di luar dirinya, baik itu tumbuh-tumbuhan, binatang, ataupun manusia sejenisnya. Karena, dengan melakukan interaksi keluar, manusia akan memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan sempurna. Bukankah manusia adalah makhluk sosial.

Meski demikian, dalam melakukan interaksi ke luar setidaknya manusia akan dihadapkan pada dua pilihan yang harus dihadapinya, \’perdamaian\’ yang melahirkan kesejahteraan atau \’permusuhan\’ yang berpotensi melahirkan kekerasan dan bencana. Perdamaian dan permusuhan yang terjadi di dunia ini laksana dua mata uang yang saling menyertai manusia, sehingga batas antara keduanya sudah tidak lagi dapat diverifikasi dan dibedakan. Sekarang damai, esok maupun lusa bisa saja terjadi peperangan dan pengeboman di mana-mana, seperti yang terjadi di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli lalu.

Berkaitan dengan hal di atas tadi, Murthada Muthahari, cendekiawan Islam asal Iran, menegaskan Allah SWT memberikan kepada setiap manusia dua kecenderungan: fujur (manifestasi kejahatan) dan takwa (manifestasi kebaikan). Dua kecenderungan ini disebut oleh Muthahari sebagai dua dimensi yang selalu berlomba dan berkompetisi untuk mengalahkan satu sama lain. Kekuatan apa pun yang muncul dan mendominasi, ia akan menjadi cermin dari orang yang bersangkutan.

Jika dimensi takwa lebih mendominasi dalam sikap dan perilaku seseorang, kebaikan, kedamaian, dan sikap saling membutuhkan akan menjadi cermin pribadinya ketika ia berinteraksi keluar. Artinya, antara manusia satu dan manusia yang lainnya memosisikan dirinya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran akan yang lain.

Sementara itu fujur (kejahatan) akan terjadi sebaliknya, satu sama lain saling mengutamakan ego dan keakuannya, tidak berusaha untuk memahami yang lain, justru menjadikan yang lain sebagai lawan yang harus dimusuhi. Sikap seperti ini sungguh berbahaya, dan sangat berpotensi merusak ketenteraman dan kedamaian yang diidam-idamkan banyak pihak. Karena itu, salah satu jalan terbaik bagi kita adalah meninggalkan fujur dan menggantinya dengan takwa.

Lalu bagaimana caranya agar kecenderungan takwa itu lebih mendominasi dalam setiap aktivitas manusia di dunia? Bagaimana pula kita menundukkan ego dan kejahatan sebagai manifestasi dari fujur itu?

Berpuasa

Untuk mengarah ke sana–dominasi takwa (kebaikan) atas fujur–ibadah puasa yang akan segera kita (muslim) lakukan pada bulan ini menjadi solusi nyata dalam menangani hal tersebut. Sebab ibadah puasa, sebagaimana Alquran tegaskan dalam surah al-Baqarah, ayat 183, yang pengertiannya adalah agar manusia meraih derajat takwa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Puasa tidak hanya sebagai wahana yang memediasi hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga sebagai upaya untuk merajut derajat takwa yang termanifestasi dalam kebaikan dan kedamaian bagi sesama manusia di muka bumi ini.

Kenapa harus dengan puasa? Karena dengan melakukan puasa akan ditempuh sikap; pertama, menahan amarah; kedua, saling memaafkan; dan ketiga, berbuat amal kebajikan. Ketiga hal ini bagi kehidupan manusia menjadi fundamen. Poin pertama, kedua, dan ketiga sama pentingnya, dan tidak mungkin untuk dipisahkan.

Menahan diri untuk tidak marah kepada sesama adalah suatu kebajikan dan budi pekerti yang terpuji. Tapi, jika sikap ini tidak dibarengi dengan sikap memaafkan, maka tidak bisa digolongkan pada orang yang bertakwa, tapi sebagai orang pendendam dan emosional. Sifat dendam itu sendiri selalu menebarkan benih-benih permusuhan dan kekerasan antarsesama manusia. Begitu pula dengan kita memaafkan orang lain tanpa dilanjutkan dengan kebaikan dan keluhuran amal, tidak dapat digolongkan juga pada orang-orang yang bertakwa, tapi sebagai orang yang munafik. Di mulut memaafkan, tetapi tindakannya menyakitkan. Pandai berjanji, tetapi tidak bisa menepati. Orang seperti itu, hatinya masih dipenuhi dengki dan kebencian.

Puasa Ramadan sebagai kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia mengandung pesan moral yang sangat luhur. Jika dilihat dari sisi kebahasaan, puasa berarti al-imsak (menahan). Maka, dalam pengertian syariat, puasa adalah menahan aneka keinginan pada diri, baik nafsu positif seperti makan, minum, dan bersetubuh dengan istri, maupun nafsu negatif seperti ingin mencaci maki, menggunjing, dan ghibah.

Dengan begitu, pengertian puasa bisa ditarik pada pemahaman untuk menahan diri dari amarah dan murka, memaafkan sesama, dan berbuat kebajikan sosial. Puasa akan meningkatkan kepekaan kita untuk membantu orang lain dan melatih jiwa sosial kita untuk senantiasa peduli terhadap penderitaan orang. Dengan begitu, kedamaian di dunia akan terwujud.

Oleh Mohamad Asrori Mulky, Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: