Teroris Bukan Pahlawan

Terorisme secara umum merupakan kegiatan kriminal, anti sosial yang tidak mengenal batas. Itu sudah sedemikian meluas sehingga orang biasa seperti Anda dan saya tidak bisa acuh, tidak bisa menyerahkan hanya kepada ahlinya kecuali kita mendukung ahlinya. Kita harus banyak membantu karena teroris itu ternyata hidup dari masyarakat biasa, di kalangan orang biasa, dan juga bisa dihentikan oleh orang biasa. Kini, yang langsung kita alami sekarang dari operasi di Temanggung, Jawa Tengah dimana lahir ekspektasi menangkap Noordin M. Top, kemudian ternyata tidak tertangkap, tetapi yang tertangkap adalah seorang yang sangat instrumental dalam pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Di masyarakat terbagi antara yang kagum, kecewa, dan yang acuh juga masih ada. Bagaimana kita harus mengambil sikap terhadap kenyataan bahwa Detasemen Khusus (Densus) 88 berhasil menangkap orang tapi bukan orang yang disebut-sebut?

Pertama, saya garis bawahi bahwa penanganan anti teroris itu tidak hanya penindakan saja. Selama ini yang dilakukan, yang digembor-gemborkan di berbagai media adalah khusus pada penindakan. Langkah-langkah lain yaitu preventif, kemudian deradikalisasi, reedukasi, rehabilitasi dan preventif kurang diberitakan. Kalau terus menerus penindakan yang diberitakan besar-besaran akan membuat banyak pihak merasa tidak senang juga. Ini semua saya sampaikan ketika saya ketemu para Taliban di Oman. Mereka dari berbagai negara termasuk ada dari Amerika Serikat (AS).

Apakah ada konferensi Taliban di sana?

Mereka bertemu secara personal dengan saya dan saya ingin tahu mengenai mereka, serta bagaimana pandangannya terhadap teroris di Indonesia. Saya bertanya, apakah Anda akan menjadi teroris kalau kembali ke negeri Anda? “Oh tidak, saya kembali menjadi profesi saya semula.” Ada yang dokter, guru, arsitek, tukang, dan segala macamnya. Terus saya tanya, bagaimana dengan yang di Indonesia kok melakukan pengeboman? “Itu karena yang tumbuh banyak justru adalah orang-orang baru, rekrutan baru orang Indonesia. Yang dari kita malah sedikit sekali dan sebagian sudah tertangkap, sebagian dihukum mati, dan sebagian lagi sudah diusir dari Indonesia. Lalu, bagaimana dengan Noordin M. Top dan Azhari? “Dia bukan orang Indonesia, dan kebetulan yang menariknya adalah orang Indonesia sendiri. Kalau didengung-dengungkan terus dari alumni sini nanti dikhawatirkan malah benar-benar menyeret mereka karena tersinggung dan dampaknya luar biasa, sulit untuk diatasi. Karena itu saya mendorong seluruh lini supaya reedukasi dan deradikalisasi terus didengungkan supaya berimbang. Jadi tidak hanya diekspos besar-besaran seperti Amrozi dan kawan-kawan seperti waktu itu sehingga menimbulkan kesan menjadi seorang pahlawan. Ini pula yang terjadi pada diri Noordin. Nanti akan ada kesan juga dia pahlawan. Intinya, bagaimana supaya kita juga mengekspos korban-korbannya, efek terhadap dunia pariwisata, investasi di Indonesia serta country risk yang terus naik. Kemudian pembatalan MoU karena kita dipandang tidak tepat untuk sebuah pertemuan internasional. Ini semua adalah dampak, dan dampak ini tidak ada yang mengeksposnya.

Apakah kita harus merasa maju atau tidak terhadap hasil operasi di Jatiasih Bekasi, Jawa Barat dan Temanggung, Jawa Tengah?

Sebetulnya di Jatiasih, Temanggung, maupun di Solo merupakan rangkaian dari pemburuan di Cilacap, Jawa Tengah. Saat itu Ibrohim membuka saluran teleponnya di sana sehingga sinyalnya tertangkap oleh directions finder aparat. Kemudian dia bergerak menuju Temanggung dan membuka sinyalnya sehingga terdeteksi directions finder lagi dan akhirnya terungkap dengan penangkapan Aris dan saudaranya di sana setelah sebelumnya ada informasi dari Tatang. Dari sini kemudian berkembang informasi tentang Jatiasih dan kelompok-kelompok Solo. Jadi pergerakan ini saling ada benang merah sampai juga terbongkarnya jaringan di Bogor. Kalau dikatakan kemajuan maka yang diperoleh aparat merupakan suatu kemajuan. Selain mengedepankan sisi pengungkapan yang lebih jauh, kita juga tidak boleh meninggalkan upaya pencegahan.

Jadi pengungkapan tadi reasonably (berdasar), betulkah begitu?

Ya, sampai saat ini memang polisi Indonesia dipandang the best untuk masalah pengungkapan.

Saya ingin mengulangi lagi mengenai Temanggung karena banyak orang awam yang tidak percaya, sehingga mereka mengatakan upaya penangkapan di Temanggung berjalan lama sekali. Mereka ada yang menyatakan perlu panggil Special Weapons And Tactics (SWAT) Team karena mengasosiasikan operasi itu dengan film Hollywood. Apakah Anda bisa memberikan beberapa statement yang membuktikan bahwa kekuatan kita dalam anti teroris memang kelas dunia?

Ini pengakuan dunia dimana kita memakai kekuatan human intelligent yang lebih diandalkan di depan dan kenyataannya mampu mengungkap. Persoalannya bukan hanya mengungkap saja. Kita begitu lama melakukan pengepungan sampai 17 jam karena menurut teori sebetulnya itu menunggu titik lemah, titik lelah, serta kehabisan amunisi, baik amunisi logistik untuk urusan perut maupun amunisi dari sisi persenjataan. Waktu itu belum terlacak melalui robot sehingga belum diketahui berapa kekuatan di dalam rumah yang dikepung. Informasi awal ada empat orang di sana, ternyata belakangan tinggal satu dan diperkirakan yang lain melakukan perembesan dan lari karena mereka sudah mengetahui saat kedatangan tiga mobil pasukan dan beberapa sepeda motor. Justru ekspos dari wartawan juga ikut memberikan sumbangsih bagi mereka untuk mengetahui yang sedang terjadi. Ini berbeda dengan dulu ketika penanganan pembajakan pesawat Woyla, semua (media – red) diam-diam padahal meskipun dulu televisi baru ada TVRI, tapi televisi luar negeri banyak dan mereka sangat diam. Demikian juga saat pengungkapan pergerakan kelompok atau Jamaah Imron dan lainnya semua media diam, bahkan wartawan tidak tahu. Nah sekarang dengan adanya Undang-Undang (UU) penyiaran yang baru, media diizinkan masuk ke semua lini, bahkan detik-detik detail pergerakan pun tahu. Ini sebetulnya sangat bertolak belakang. Karena itu ada sesuatu yang perlu kita pahami bersama bahwa di dalam sebuah operasi yang sangat tertutup maka ada hal-hal tertentu yang boleh diungkap setelah operasi. Tapi pada waktu on the spot, sebaiknya dikurangi. Kalau hanya informasi kulit-kulitnya saja sih ok.

Nah, selanjutnya mengenai rencana ada penyerangan terhadap pejabat negara sebetulnya sudah sangat disadari. Kalau kita ingat pada 2007 Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar pernah berbicara bahwa akan terjadi serangan baru, pola baru untuk menyerang pejabat negara. Sebetulnya tahun itu sudah direncanakan untuk menyerang. Nah sekarang baru ketahuan secara terbuka setelah penggerebekan di Jatiasih. Mereka siap mengunakan bom kekuatan 500 kilogram untuk menyerang Istana Negara dan kediaman presiden di Cikeas. Sebetulnya ini sudah direncanakan dari tahun 2007 tapi waktu itu aparat siaga secara penuh sehingga mereka tiarap. Ketika pandangan aparat sedang konsentrasi ke pemilihan umum (Pemilu) ditambah kasus penyerangan di Timika, Papua, terjadilah penyerangan. Hal ini sama seperti dalam kasus ketika Presiden Megawati meresmikan proyek Minabahari di Sulawesi, waktu itu terjadi serangan baru di Poso. Jadi mereka selalu memainkan ritme dimana mereka melakukan pengamatan dan penggambaran sebelum melakukan gerak dan mencari lini-lini celah dimana konsentrasi aparat sedang terpecah. Kita menjadi lowong seperti ini setelah UU Anti Subversi dibredel dan itu fakta. Dulu orang mengatakan pada zaman Orde Baru jarum jatuh saja ketahuan. Jadi, baru dalam kondisi perencanaan sudah bisa ditangkap.

Di saat kita mencabut UU Anti Subversi, negara seperti Malaysia dan AS bahkan menghidupkan internal security act dan patriot act. Bukankah itu ironis?

Memang sangat ironis dan itu semua diketahui oleh pelaku teror bahwa ada kelonggaran yang begitu rupa di kita sehingga tidak bisa diapa-apakan dalam kondisi mereka kurang bukti. Semua nama-nama di kasus Jati Asih itu sudah dilaporkan tahun 2005.

Apakah tidak bisa ditangkap atas dasar kecurigaan?

Kalau dulu sewaktu ada UU Anti Subversi, mereka sudah bisa ditangkap apalagi waktu itu ada Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang begitu ketat mengamankan semua lini. Hanya persoalannya ada penyalahgunaan di sisi politik. Itu membuat trauma. Kita ingin supaya khusus masalah teroris dan separatis memang ada spesial dimana itu merupakan kejahatan luar biasa maka harus ditangani secara luar biasa.

Sekarang di Indonesia ini drakula saja bisa bebas, bukankah begitu?

Justru itu. Karena itu kita ingin supaya ada kesadaran bersama untuk semangat ini, tapi tetap harus ada lembaga pengawas yaitu komisi tertentu supaya mengawasi agar tidak ada abuse of power. Yang dikhawatirkan orang-orang kita yang trauma masa lalu yaitu abuse of power.

Ke depan, kita melihat perlu ada revisi UU intelijen yang sampai saat ini belum terealisir juga padahal dijadwalkan tahun 2008 sudah terealisir. Kemudian juga revisi konsep UU Anti Teroris yang mengenal criminal justice system, artinya kalau ada bukti baru bisa ditangkap. Untuk teroris memang agak riskan karena kenyataannya selama ini mereka selalu menggunakan orang-orang baru. Mereka akan meninggalkan orang-orang lama yang selama ini namanya sudah terendus oleh polisi. Dengan orang-orang baru ini, mereka merasa aman melenggang untuk masuk ke semua lini dan melakukan peledakan.

Kalau hanya menggunakan UU Anti Teroris yang menggunakan sistem criminal justice maka kita akan kedodoran, tinggal tunggu tanggal mainnya maka akan terus terjadi ledakan-ledakan. Ingat, mereka mencoba melakukan serangan serentak seperti yang terjadi di Bombay, India. Mudah-mudahan semua lini di masyarakat waspada, kemudian dengan back up dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengaktifkan desk Anti Teror khususnya di TNI Angkatan Darat. Ini semua upaya untuk mengendus karena mereka semua mempunyai lini terdepan tapi tetap dalam Bawah Kendali Operasi (BKO) Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kita juga punya Detasemen Bravo di TNI Angkatan Udara dan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) di TNI Angkatan Laut yang ikut mengamankan sumber-sumber sub bersenjata melalu laut dan udara. Secara kebetulan kita semua sudah mulai ada satu kata sepakat bahwa keterlibatan semua lini termasuk seluruh elemen di masyarakat, Departemen Agama, Majelis Ulama, Departemen Dalam Negeri, Imigrasi serta TNI-Polri akan sama-sama memberikan dukungan untuk mengeliminasi gerak dan sikap terjang mereka di masa mendatang.

Sepenting apa kita menangkap Noordin M. Top?

Noordin M. Top sebenarnya hanya operator lapangan, masih ada di atasnya lagi seperti nama-nama Zulkarnain, Zulkifli yang sampai saat ini mereka kabur. Sewaktu-waktu dia tetap melakukan kontak hubungan di dunia maya. Andaikata Noordin tertangkap, ancaman belum berakhir karena ada Upik Lawanga, yaitu ahli perakit bom dengan nama asli Taufik Bulaga yang merupakan murid yang dipandang penerus DR. Azahari. Dia ahli merangkai bom dengan modifikasi terkini menggunakan karakteristik bom yang berubah-ubah dengan tujuan untuk mencelakakan penjinaknya.

Jadi ancaman tetap akan ada, maka kita perlu dukungan seluruh lini masyarakat untuk early warning system. Ada tiga hal yang perlu kita pahami, yaitu early warning problem, solving dan forecasting. Lini-lini ini perlu ditambah teknologi tinggi dengan sistem penginderaan jarak jauh serta dukungan berbagai peralatan untuk scrambler, dan jumper, baik jumper bom maupun jumper hubungan komunikasi untuk menutup kemungkinan dipakainya alat komunikasi sebagai pemicu bom. Jadi kita bisa melakukan eliminasi ancaman untuk very very important person (VVIP) dan arena publik yang memang banyak orang asingnya karena ada kewajiban bagi negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah.

Kembali pada pembicaraan soal Taliban dari berbagai negara di Oman tadi, apakah betul saya menyimpulkan bahwa partisipasi orang dari luar negeri dalam teror sekarang tidak sebesar yang kita kira?

Ternyata tidak. Toh mereka juga tidak ingin Islam punya pencitraan yang buruk. Islam tetap Rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh isi alam-Red). Islam tidak mengajarkan penyerangan kepada orang-orang sipil, dan mereka yang dalam kondisi tidak menyerang kita. Mereka semua melawan pada komunitas atau orang-orang bersenjata yang berupaya menyerang.

Kini ada suatu pergeseran dimana mereka menyerang membabi-buta dengan maksud shock therapy kepada masyarakat. Mereka menyerang masyarakat sipil karena masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi aparat keamanan. Mereka tidak menyerang aparat keamanan karena aparat keamanan terbiasa terhadap manajemen kekerasan, sehingga kalau mereka diserang juga tidak ada efek psikologis apa-apa karena memang bidangnya. Mereka lebih suka menyerang bus yang penuh berisi orang asing atau anak-anak sekolah karena efek psikologis yang ditimbulkannya. Ditambah lagi interprestasi dari berbagai media membuat mereka tidak perlu membayar mahal publikasi gerakan mereka karena langsung beredar ke seluruh dunia. Inilah mengapa mereka menyukai media untuk melambungkan namanya.

Kalau kita melihat di TV yang membawa bom adalah Dani Permana, dan ibunya mengatakan dia tidak tahu apa-apa, hanya dijadikan alat, dan sebagainya. Apakah pernyataan itu typical (umum) atau tidak? Apakah pelaku bom bunuh diri pada umumnya bukan orang yang merencanakan tapi memang orang yang direkayasa untuk membawa bom?

Banyak yang berkesan ini hipnotis dimana seorang pembawa bom akan dibekali dua switch. Satu dipegang pelaku dan satu lagi dipegang pengendali dia di luar. Bila ia tidak yakin pada saat sudah sampai sasaran sehingga tidak juga menekan switch bom maka pengendali akan langsung menekan switch tersebut. Dia pun tidak tahu bahwa switch itu ada dua.

Mengerikan sekali. Yang sudah didoktrinasi pun masih dilakukan back up oleh sistem mereka. Jadi mastermind adalah orang yang barangkali tidak terlibat bahaya fisik, betulkah begitu?

Sampai saat ini kalau memang cara seperti itu akan membuat pelaku masuk surga mengapa tidak yang bersangkutan bunuh diri. Tapi justru memanfaatkan orang-orang yang sedang bermasalah. Rata-rata yang dipakai adalah orang-orang bermasalah, baik secara ekonomi, psikologis maupun sosial. Mereka justru harus kita selamatkan. Keluarga perlu meneliti apakah di anggota keluarganya ada yang mengalami perubahan sikap mental. Misalnya, dari semula anak yang riang menjadi mengurung diri, pergi tidak jelas, pergi tidak pamit selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ini merupakan indikasi dan lahan empuk untuk mereka masuk di dalam lini para pemuda bermasalah.

Apakah ada kaitan dengan jender atau tidak?

Pada kenyataannya yang dicari adalah laki-laki karena konsepnya ia akan menikah dengan bidadari nantinya.

wawancara Wimar Witoelar dengan Wawan H. Purwanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: