Kualitas VS Kuantitas 2

Selasa, 01 September 2009 pukul 01:50:00

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tidak saja bodoh dan miskin, sebagian kita juga merasa ‘bangga’ mempertunjukkan perilaku menyimpang dalam bentuk kekerasan dengan berlindung di bawah payung ayat-ayat sakral yang ditafsirkan secara salah dan menyesatkan. Kita tidak tahu sudah berapa ribu korban yang berjatuhan akibat tindakan kekerasan di berbagai tempat. Kita memang berhak melawan pihak yang menzalimi kita. Tetapi, jika teror dilawan dengan teror terhadap orang yang tidak bersalah, jelas ajaran syariat telah dilanggar secara sengaja. Semestinya, posisi kita yang masih berada di bawah harus cepat menyadarkan kita untuk segera memperbaiki dan mengejar ketertinggalan kita di ranah ilmu.

Lalu, apa jalan ke luarnya? Saya hanya melihat satu jalan: kuasai ilmu pengetahuan. Alquran dan sunah Nabi SAW mengatakan begitu, pengalaman empirik umat manusia membuktikan aksioma ini. Ketika berlangsung dialog segitiga antara Tuhan, malaikat, dan Adam yang mewakili unsur manusia, semata-mata karena ilmu pengetahuanlah yang memaksa para malaikat bertekuk lutut kepada Adam. Tulis Iqbal, Adam diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguasai ilmu pengetahuan konseptual, sementara malaikat tidak paham itu semua. Drama uluhiyat yang digelar Tuhan ini dapat dibaca dalam Alquran surah Albaqarah: 30-34; Al-A’raf: 11; Al-Isra: 61; Alkahfi: 50; dan Thaha: 116.

Namun, ilmu bukan sembarang ilmu pengetahuan. Berdasarkan surah Alhadid ayat 46, Apakah mereka tidak mau mengembara di muka bumi agar hati mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya, bukan mata itu yang buta, melainkan yang buta itu ialah hati yang ada dalam dada.

Kemudian, simak pula surat Fushshilat ayat 53, Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terbentang di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga Kebenaran menjadi jelas bagi mereka. Tidakkah cukup [bagimu] bahwa Tuhanmu adalah saksi atas segala sesuatu?

Terbaca dalam ayat-ayat di atas bahwa yang diperlukan adalah ‘pengetahuan ilmiah’ karena didasarkan atas observasi melalui mata dan telinga. Namun, penjelajahan itu tidak boleh berhenti hanya sampai di situ. Pengetahuan ilmiah, menurut surah Alhadid di atas, pada ujungnya adalah untuk mengetuk hati dan menyalakan persepsi moral dalam diri manusia, tulis Fazlur Rahman. Bukan hanya otak yang harus cerdas, tetapi kecerdasan hati juga amat diperlukan agar kearifan tidak tersingkir dari peradaban manusia, seperti yang kita saksikan dalam arus peradaban modern yang oleng dan labil. Dengan menjaga keseimbangan antara otak dan hati, manusia akan mentransformasikan kemampuan-kemampuan ilmiah dan teknologisnya sesuai dengan persepsi moral yang diharapkan lahir dalam dirinya. Lalu, Rahman menyimpulkan, Tanpa persepsi ini, pengetahuan ilmial dan teknologis dapat menjadi–dan pasti demikian–secara positif berbahaya.

Alquran pada surah Arrum ayat 7 dalam kritiknya terhadap masyarakat Makkah yang makmur dan berkilau secara material menurunkan butir berikut, Mereka mengenal dengan baik sisi luar dari kehidupan duniawi, tetapi mereka tidak hirau terhadap konsekuensi akhirnya. (Secara literer, mereka lengah terhadap akhirat).

Mengembangkan jenis ilmu yang dapat menyalakan persepsi moral yang tajam dalam diri manusia itu merupakan tantangan dahsyat dan sekaligus peluang terbuka di depan 1,82 miliar umat Islam di muka bumi. Kerisauan saya yang sangat dalam adalah apakah jumlah besar ini masih akan membuang energi primanya untuk sesuatu yang sia-sia sehingga kebanggaan kuantitas lebih diutamakan dibandingkan kebanggaan kualitas? Resonansi ini tidak mampu memberikan jawaban tuntas! Saya berharap, para pembaca budiman akan membantu saya mencari jalan ke luar agar kita semua tidak terus terhenyak di lorong gelap, tanpa cahaya pencerahan yang memberi harapan untuk kembali merebut martabat dan membenahi kualitas hidup Muslim sebagai saksi sejarah dan pengawal gelombang peradaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: