Bisa Membaca tapi Sulit Membaca

Pada tahun 2008 UNESCO menetapkan Indonesia sebagai model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Suatu prestasi yang membanggakan karena Negara kita dianggap bisa menentaskan kegelapan aksara secara signifikan sebesar 90 persen sedangkan negara berkembang lain hanya mencapai 69 persen. Tetapi di lain pihak International Educational Achievement mencatat minat baca siswa Indonesia paling besar nomornya di kawasan ASEAN. Dari 39 negara yang dijadikan sempel penelitian, Indonesia menempati urutan ke-38.

Kenyataan ini juga didukung dengan oleh Andrea Hirata yang seorang personil Laskar Pelangi pencetak skor baru dalam dunia penulisan novel yaitu menembus angka penjualan 600 ribu eksemplar . Tapi ketika disingggung hal itu ia berkomentar bahwa rakyat Indonesia ada lebih dari 200 juta jiwa, jadi Ini belum mencakup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Tingkat melek huruf yang tinggi belum tentu menjadikan Minat baca yang tinggi pula. Mengapa demikian?

Budaya membaca bukan suatu yang muncul secara tiba-tiba tapi harus dengan lingkungan yang mau mendukung hal ini. Pada sektor intitusi pendidikan misalnya para guru hanya mewajibkan membaca bab atau buku yang akan dipelajari pada mata pelajaran itu. Ketika saya masih duduk di bangku sekolah tidak ada guru-guru seperti di Australia yang meharuskan saya mempresentasikan buku yang saya baca tiap minggu. Tiap minggu beda buku.

Tak hanya di sektor pendidikan saja, ambience yang dibangun di rumah harus mengena. Di Malaysia pemerintahnya menganggap orangtua adalah faktor vital dalam membangkitkan minat ini. Pustaka publik di Negara itu meminjamkan buku pada orangtua dan menggantinya dengan buku yang baru beberapa minggu kemudian. Melali program ini akses buku dipermudah. Kita juga mempunyai akses bebas ini mungkin tidak melalui buku yang dipinjamkan orangtua tetapi melalui satu ruangan yang di isi berak-rak buku, yaitu perpustakaan.

Akses ini memang gratis. Tapi dilihat dari segi kuantitas perpustakaan, tiap daerah belum tentu mempunyai perpustakaan daerah. Kalau pun punya kelengkapan bukunya juga dipertanyakan. Sewaktu saya kecil saya sangat suka membaca buku bergambar. Suatu hari kami melewati sebuah gedung di daerah Jakarta pusat dengan bacaan “PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH” . Saya bertanya tempat apa itu ayah menjawab dengan membuat saya tersenyum-sennyum dan ngambek untuk ke tempat itu, itu tempat banyak buku katanya. Saya bertanya lagi apa iya semua buku ,ayah mengiyakan hal itu. Tapi ketika saya ke dalam tempat itu dan mencari buku bergambar yang saya inginkan harapan saya tertiup angin.

Saya ingat pernyataan Minda Perangin-angin seorang teolog Kristen “sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan”. Di Indonesia, Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1 persen. Sedangkan SMP dan SMA kurang dari 54 persen. Sepengalaman saya bersekolah di sekolah negeri di Jakarta saya belum pernah menemukan perpustakaan yang mendukung saya untuk mengeksplorasi terus tempat bacaan tersebut. Malahan saya pernah bersekolah di sekolah tanpa perpustakaan. Toko buku kerap menjadi tempat bersinggah yang lebih menyenangkan.

Sekarang saya telah duduk di bangku kuliah. Perpustakaan universitas yang lengkap dan canggih yang saya bayangkan dilibas kenyataan. Perpustakaan di fakultas saya didominasi oleh buku-buku skripsi. Jika membutuhkan buku-buku komunikasi yang sangat berhubungan dengan jurusan kami , kami harus pergi ke perpustakaan pusat di daerah Dipati ukur. Terkadang kami tidak bisa menemukan buku tersebut, jadilah harus melanglang buana ke toko-toko buku. Perpustakaan pusat ini memang memiliki buku-buku lama yang sulit di cari lagi,tapi dari segi fasilitas masih jauh. Suatu keirian di hati saya ketika melihat perpustakaan di salah satu Univesitas di Korea disana mahasiswa tak hanya dimanjakan dengan kelengkapan buku, film, maupun cd musik tapi kenyamanan juga di sajikan tempat itu. Para mahasiswa juga disediakan tempat belajar bahkan matras di ruang istirahat.

Bila pepustakaan tak bisa diadakan, harga buku yang jauh dari kantong juga menjadi faktor mengapa membaca buku belum menjadi makanan sehar-hari. aktivitas mengulik buku belum dijadikan menu wajib di setiap subjek pembelajaran di sekolah. Kalau toh ada kegiatan membaca buku, itu bersifat seketika, tidak sengaja, mendadak, reaktif, bukan bagian dari sistem yang dirancang secara tetap, dan terukur.

Memakan gizi buku bisa menggatikan sekolah. Apa iya? Seorang sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi bisa menjadi salah satu guru besar tamu di Universitas di Jepang tanpa menamatkan SMA. Ia tak tiba-tiba mendapatkan wangsit . Ketika dahulu ia duduk di Taman Madya (SMA) dan hendak mengikuti ujian penghabisan ia memutuskan untuk tidak mengikutinya karena terpengaruh oleh berita di surat kabar yang berisi bahwa siswa menyogok para pejabat yang berwenang untuk mendapatkan soal ujian. Ia tidak ingin seperti orang-orang tersebut yang menggantungkan hidupnya dengan ijazah, jadilah ia berprestasi dalam membaca agar dapat menyaingi para empunya ijazah.

Winda Perangin-angin juga mencari jawaban di buku. Tak hanya masalah kuliah tapi hal pribadi yang mengusiknya bisa dicari jawaban oleh teman setianya, buku. Betapa buku tak hanya menjadi sudut pandang lain tapi juga menjadi teman, ijazah, dan pengisi kotak-kotak kosong dalam otak anda.

Menurut Brewer anak zaman sekarang adalah “print-society”. Apa yang mereka lihat sehari-hari itulah yang akan mereka terapkan, para anak kecil merespon ke lingkungan print tadi tanpa dikenalkan pada instruksi formal membaca. Kita adalah generasi peng-copy bukan pembaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: