Puasa Gaya Teroris

Syafiq Basri A

Saking kagumnya dengan Anies Baswedan –tokoh pendidik muda dengan reputasi internasional–, pak Kiwir bermimpi idolanya itu mengisi program Ramadhan di televisi. Tapi ia kecewa, acara TV masih saja didominasi berbagai banyolan, kuis dan games yang menggemaskan. Itu sebabnya di luar acara yang bermutu seperti tafsir Quraisy Shihab, Kiwir lebih suka membaca atau diskusi bersama Ucok, tetangganya, daripada menonton TV.

“Bulan puasa ini banyak orang yang memakai gaya teroris,”  kata Kiwir. ”Maksudnya apa, Mas?” tanya Ucok. Setiap menjelang buka puasa, kata Kiwir, banyak orang beradu cepat, ngebut di jalanan demi mencapai rumah sebelum beduk maghrib, sering tanpa memedulikan orang lain.

Saat itu jalanan Jakarta macet. Yang jadi fokus para shoimien (mereka yang puasa) adalah sesegera mungkin membatalkan puasa. “Bahkan belum sempat muazin di masjid menyelesaikan kalimat Allahu Akbar, orang sudah langsung menyeruput minumannya. Seolah merasa berdosa kalau telat satu menit saja.”

“Lho, bukankah memang kita disunnahkan menyegerakan berbuka Mas?” tanya Ucok.

Kiwir tersenyum. “Memang saya pernah dengar hadis itu, Bung Ucok. Tapi jangan lupa, Al-qur’an justru menganjurkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari – sekitar 20 menit sesudah azan maghrib. Wa-atimus-shiyaama ila-al-laili,” kata Kiwir menyitir petikan Surat Al-Baqarah 187.  “Bukankah Al-qur’an harus lebih diutamakan ketimbang hadis yang sebagiannya bahkan tidak sahih?”

Lalu, apa kaitannya dengan teroris? “Cara berpikir para teroris itu. Naif. Merasa benar sendiri, dan memaksakan kehendak pada orang lain; padahal baru dapat sedikit ilmu dari seorang guru yang berhasil mencuci otak dan merekrut mereka sebagai ‘pengantin’.

Lalu mereka menganggap kalau mati bunuh diri begitu sebagai syahid. Padahal yang dilakukannya justru merugikan orang lain, bahkan terhadap umat Islam sendiri,” ujar Kiwir.

”Konsepsi syahid yang mereka pakai juga tidak jelas. Bukankah jika hendak memerangi musuh, itu hanya dilakukan jika kita diserang lebih dulu?” tanya Kiwir sambil mengutip Surat Al-Bagarah 190. “Malah saat perang itu pun kita tidak boleh melampaui batas. Nah, apakah orang-orang awam yang menjadi korban bom itu memerangi mereka, para teroris itu?”

Boleh jadi teroris itu tidak ingat hadis yang populer, bahwa jihad terbesar, kata Nabi Muhammad SAW, adalah memerangi ‘hawa nafsu’ diri sendiri. Itulah salah satu manfaat kita berpuasa. ”Bisakah melatih diri untuk memerangi nafsu dan syahwat yang merajalela?” tanya Kiwir.

Dahi Ucok mengerenyit. Ia bingung. “Begini Bung. Mereka kan menyangka benar sendiri, tapi tidak pernah mengecek. Kalau di dunia media itu namanya check and recheck.

Dalam beragama, orang awam memang boleh mendasarkan tindakannya pada ayat yang sudah pasti dan terang maknanya (muhkamaat) seperti misalnya bahwa Tuhan itu Esa, dan bahwa puasa Ramadhan itu wajib hukumnya bagi yang mukim dan sehat.

Tapi untuk ayat-ayat yang mutasyabihat – yang memiliki banyak penafsiran – kemampuan orang awam tidak mencukupi. Maka mereka harus bertanya pada beberapa ulama. Kita diajar untuk bersikap toleran dan tawadhu. Bandingkan pendapat seorang alim dengan ulama lain yang mumpuni, bukan sembarang ulama.”

“Ibaratnya kalau sakit ringan orang awam bisa mengobati sendiri pakai obat warung, tapi jika penyakitnya serius kita harus ke dokter spesialis ya Mas?” Ucok menanggapi.

”Benar Bung. Kata Al-qur’an, yang mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihat itu hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya,” kata Kiwir mengutip surat Ali Imran ayat 7.

”Bung tahu ‘kan, perintah puasa itu agar kita bertakwa. Apa sih takwa?” tanya Kiwir. Tentu saja Ucok hanya bengong. Seumur-umur belum pernah ia mendengar definisi ’takwa’ yang pas. ”Takwa itu menurut sebagian ulama adalah ’berkorban untuk orang lain’ secara ikhlas, demi Allah semata,” kata Kiwir.

”Kalau begitu logika teroris itu terbalik dong?” kata Ucok. ”Begitulah. Maka dalam berpuasa, hindarkan sikap yang kontradiktif. Apa artinya puasa jika kita masih mengganggu tetangga atau merugikan orang lain di jalan,” ujar Kiwir sambil menyitir sebuah hadis Nabi saw yang merujuk pada seorang wanita yang meski solat tahajud setiap malam dan puasa pada siang hari tetap masuk neraka karena sering mengganggu tetangganya.

“Memanggil orang dengan azan boleh kan Bung?” Ucok mengangguk. “Tapi bagaimana kalau corong di masjid itu dipakai anak-anak bermain dan teriak-teriak jauh sebelum tiba saatnya solat, sehingga bayi-bayi dan orang sakit di sekitar masjid menjadi terganggu?” tanya Kiwir.

Islam itu artinya damai. Agama yang rahmatan lil-alamien – bukan agama yang mencemaskan orang lain, yang menghardik, mengancam dan membunuh orang yang tidak salah.

Al-Quran mengingatkan, kata Kiwir lagi merujuk pada Surat 5 ayat 32, ”Barang siapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang jelas dan legal, ia seakan-akan membunuh seluruh manusia di muka bumi ini. Dan sebaliknya, siapa saja yang menyelamatkan orang (dari kematian), ibaratnya ia menyelamatkan seluruh umat manusia ini.”

Islam adalah agama yang lebih mementingkan muamalah, yakni urusan sosial –– hubungan kita dengan sesama manusia atau Hablum min-an-naas — ketimbang urusan ritual yang menyangkut hubungan kita dengan Tuhan (Hablun min-Allah).

Buktinya dalam Al-quran dan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar diberikan untuk urusan sosial itu. Sementara ulama bahkan memperkirakan bahwa jumlah ayat ibadah ritual  di dalam al-quran hanya 1-2 persen dibanding jumlah ayat-ayat sosial.

Kiwir memberi contoh. “Karakteristik orang beriman dalam Al-qur’an, misalnya, bukan saja ditunjukkan oleh khusyu-nya solat – yang merupakan ibadah ritual – tapi mereka juga harus menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan menjaga amanat serta janji mereka. Keduanya adalah muamalah,” ujar Kiwir merujuk surat Al-Mu’minun (23:1-9).

Mengutip Jalaluddin Rahmat (Islam Alternatif, Mizan, 1986), Kiwir menyitir bahwa Nabi sendiri menganjurkan agar Imam memendekkan solat jamaah bila di tengah makmum ada yang sakit, orang lemah, orang tua, atau orang yang punya keperluan.

Menurut Bukhari, Nabi pernah mengundurkan waktu solat Jumat bila udara di Madinah sedang kelewat panas. Itu menunjukkan bahwa bila urusan ibadah bersamaan dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, tapi bukan ditinggalkan. ”Bukankah itu sekaligus bukti bahwa Nabi sangat memperhatikan sekali urusan kemaslahatan umatnya?”

“Apa para teroris itu tidak pernah mendengar atau membaca teladan Nabi seperti itu ya Mas?” tanya Ucok penasaran.

“Entahlah.. Tanya saja pada Nurdin M.Top,” jawab Kiwir sambil tersenyum.
”Udah ah, mari nonton Anies Baswedan, eh…bukan, maksud saya Pak Quraisy Shihab saja.”   (***)

*) Penulis adalah pengamat masalah media, sosial dan agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: