Teknologi Hujan Buatan

Idealnya, teknologi modifikasi cuaca menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya air.

Mendambakan turunnya hujan pada musim kering seperti sekarang, sering menjadi sebuah penantian panjang. Padahal, sumber-sumber air telah mengering dan kebutuhan air untuk beragam kebutuhan kian mendesak. Termasuk, misalnya, untuk pembangkit listrik.

Untuk mempercepat turunnya hujan pada musim kering yang berkepanjangan, tak ada jalan lain selain melakukan campur tangan terhadap alam. Yaitu dengan mempercepat terjadinya hujan yang sudah secara luas dikenal sebagai hujan buatan.

Hujan buatan merupakan bagian dari teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang memudahkan kehidupan manusia. Selain untuk mengatasi kekeringan, hujan buatan juga digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan atau bahkan berfungsi membersihkan udara.

Pada Olimpiade di Beijing, Cina, tahun lalu, hujan buatan digunakan untuk menjadikan udara lebih bersih.

Menurut Kepala UPT Hujan Buatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ir Samsul Bahri, Msc, hujan buatan dilakukan dengan menyemai awan melalui penggunaan bahan bersifat higroskopik atau menyerap air.

Sehingga, partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun. Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol.

Terdapat tiga jenis awan cumulus, yaitu Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh, Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus berukuran sangat besar dan mungkin terdiri atas beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu.

Samsul menyatakan, untuk melakukan penyemaian awan, ada beberapa metode yang lazim digunakan. Metode yang paling sering dilakukan selama ini adalah penyemaian dengan menggunakan pesawat terbang. Bubuk natrium clorida (NaCl), sejenis garam, disebarkan ke awan.

Dengan harapan, awan yang mengandung garam itu akan menarik air dan kandungan air di awan menjadi tinggi. ”Penyemaian awan, juga bisa dilakukan dari darat dengan stasiun statis, yaitu Ground Base Generator (GBG),” katanya, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pemanfaatan GBG untuk menyemai awan, jelas Samsul, biasanya dilakukan di daerah pegunungan. Di puncak gunung dibangun menara dan di ujung menara ditempatkan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat hujan buatan.

Bahan yang disemaikan ke awan bisa terdiri atas dua jenis, yaitu bubuk natrium clrorida dan penyemaian yang menggunakan teknologi flare (suar) perak iodida. Dalam teknologi perak ini, bahan yang digunakan untuk disemai di awan bukanlah bubuk, melainkan benda padat.

Menurut Samsul, flare atau bisa disebut teknologi kembang api, merupakan benda padat yang mengandung potasium perklorat, dicampur dengan magnesium, ditambah lithium carbonat (Li2CO3) serta beberapa bahan campuran lain.

Samsul menyatakan, dalam komposisi itu terdapat bahan yang bersifat sebagai pemantik di mana saat sudah berada di awan, bahan tersebut akan dengan sendirinya berubah bentuk. Teknologi ini digunakan BPPT untuk melakukan hujan buatan di kawasan bendungan milik PT Inco.

Sebelumnya, perusahaan ini menggunakan jasa perusahaan dari AS untuk melakukan hujan buatan. ”Dengan teknologi ini, pesawat yang digunakan untuk menyemai awan tak perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi 24 tabung flare perak iodida,” kata Samsul.

Tabung itu dipasang di sayap pesawat dan mirip seperti peluncur roket. Setelah posisi awan, arah, dan kecepatan angin sudah diperhitungkan, pesawat diterbangkan menuju awan potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan memantik listrik otomatis dari kokpit pesawat.

Samsul mengungkapkan, teknologi terbaru yang sedang diuji coba oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan BPPT, adalah penyemaian awan dengan menggunakan roket. Metodenya, zat yang akan digunakan untuk menyemai awan dimuat di atas roket.

Kemudian, roket ditembakkan ke posisi awan yang dimaksud. Dengan menggunakan metode ini, ungkap Samsul, otomatis tidak dibutuhkan pesawat untuk melakukan penyemaian. Dengan demikian, biaya yang digunakan bisa menjadi lebih murah.
”Namun, kekurangannya adalah roket hanya bisa menjangkau satu tempat.

Sehingga, harus tepat awan mana yang potensial dijadikan awan hujan, atau langkah ini gagal,” ungkap Samsul. Roket yang digunakan memiliki daya jangkau 1-1,5 kilometer dan merupakan produksi dalam negeri.

Samsul menambahkan, metode penyemaian dengan menggunakan roket baru dalam tahap uji coba. Ia menambahkan, idealnya teknologi modifikasi cuaca digunakan sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya air. Sebab, hingga saat ini hujan buatan hanya digunakan sesekali.

Yaitu, pada saat terjadi penurunan tingkat ketinggian air di waduk-waduk sudah relatif parah. ”Padahal, bisa dibuatkan polanya dengan mempertimbangkan cuaca yang ada dan kebutuhan curah hujan serta jadwal yang dibutuhkan,” kata Samsul.

Dengan demikian, tidak pada saat kondisinya sudah parah baru ada hujan  buatan. Saat ini, jelas Samsul, baik waduk yang dikelola pemerintah maupun swasta, membutuhkan hujan buatan jika tingkat ketinggian airnya turun terlalu tajam.

Kondisi itu dikhawatirkan dapat mengganggu pembangkit untuk PLTA serta pengairan. Pada 16 Juli hingga 4 Agustus lalu, BPPT atas permintaan PLN membuat hujan buatan untuk mengatasi menurunnya ketinggian air di danau Maninjau dan Singkarak serta waduk Kotapanjang, Sumatra Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: