Renaisans Indonesia

Oleh: Zaim Uchrowi

Lima tahun lalu saya menerbitkan buku. Judulnya, Menggagas Renaisans Indonesia. Judul itu terpilih karena saya percaya bangsa dan umat ini belum dalam keadaan baik. Kemiskinan masih sangat besar. Akhlak dan perilaku korup masih meluas.

Bangsa dan umat ini perlu berubah secara mendasar agar dapat menjadi benar-benar baik. Untuk itu, perlu Renaisans.

Kata Renaisans merujuk pada gerakan budaya di Eropa abad 14-17 Masehi. Sebelum masa itu, Eropa secara umum masih berada di ‘zaman gelap’. Eropa masih terbelakang ketika peradaban Asia sudah berkembang. Bahkan, ketika Andalusia atau Spanyol menjadi sangat maju karena peran Islam dan Yahudi, Eropa masih relatif ‘primitif’.

Baru setelah berkembang interaksi dengan Andalusia, Renaisans terjadi di Italia, yang berpusat di Florence pada masa kekuasaan keluarga Medici. Secara harfiah, Renaisans berarti ‘lahir kembali’.

Dalam pengertian yang lebih mendalam dapat dimaknai sebagai proses peralihan peradaban dari ‘masa gelap’ menuju ‘masa terang’.

Hal tersebut ditandai dengan penajaman dua sisi berbeda peradaban, yang sebenarnya justru harus menyatu bagai dua sisi sekeping koin. Yakni, sisi rasa dan sisi rasio.

Sisi rasa diwarnai antara lain lewat kelahiran karya-karya besar seni seperti karya Michelangelo. Sedangkan kebangkitan rasio ditandai dengan kebangkitan sains dengan mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan dari masa Yunani yang telah dikembangkan oleh Dunia Islam. Pertemuan rasa-rasio tersimbolkan dengan sangat baik oleh karya-karya Leonardo Da Vinci.

Sejak itulah ilmu pengetahuan dan seni bangkit secara luar biasa. Teknologi dan kemakmuran berkembang pesat, menjadikan Eropa pusat peradaban dunia. Peradaban itu kemudian berkembang di Amerika Serikat hingga sekarang. Sedangkan bangsa-bangsa Muslim, yang sebelumnya menjadi penyebar peradaban dunia, telah menurun hingga menjadi bagian dari pinggiran peradaban. Bagdad, pusat peradaban terpenting di dunia pada masanya, tak pernah bangkit setelah serbuan Hulagu Khan di abad 13.

Kemakmuran India yang dibangun kesultanan Moghul yang mencapai masa keemasannya pada masa Sultan Akbar tak ada lagi. Bahkan, kejayaan Nusantara, yang menurut almarhum Rendra mencapai puncak di zaman Demak, telah begitu surut. Indonesia sekarang memang tak segelap Eropa sebelum Renaisans. Namun, tak pula dapat dikatakan bahwa Indonesia telah terang-benderang. Ada banyak sisi terang yang kita miliki, sebagaimana masih pula banyak sisi gelap yang ada. Hal demikian membuat keadaan sering samar: yang hitam dan putih sering tak terbedakan. Bagi upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sebaik-baiknya, suasana serbasamar itu tidak menguntungkan. Untuk itulah Renaisans Indonesia diperlukan. Keperluan untuk membuat Renaisans Indonesia terpotret dari berbagai sisi.

Dalam kehidupan sosial, misalnya. Secara umum, banyak aktivitas sosial masih menjadi beban yang memberatkan masyarakat untuk maju. Hubungan sosial masyarakat kita masih sangat kental dengan format paguyuban (gemmeinschaft) sebagaimana masyarakat tradisional, dan masih jauh dari format patembayan (gesselschaft) yang menjadi ciri masyarakat maju. Dalam kehidupan beragama, prinsip sunnatullah atau hukum Tuhan yang mewujud dalam hukum-hukum alam, sangat terabaikan. Hal tersebut menjadikan keberagamaan sebatas semacam tradisi yang dangkal. Jauh dari nilai maknawi hingga tak memiliki daya dorong terhadap kemajuan masyarakat. Kita perlu berani berubah untuk dapat menjadi bangsa dan umat yang benar-benar baik. Kita perlu lebih mengedepankan akal sehat dalam kehidupan sosial dan beragama. Akal sehat itu akan semakin mendapat tempat bila semua bertekad melakukan Renaisans. Selanjutnya, tekad Renaisans itu perlu diaktualisasikan dalam struktur, proses, bahkan juga budaya. Bila demikian, Renaisans tak akan berhenti sebatas gagasan, namun akan mewujud dalam Indonesia yang benar-benar terang. Presiden SBY punya kesempatan besar buat memimpin Renaisans ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: