Hikmah Nuzulul Quran

Penulis: Oleh: Zaprulkhan MSI. Dosen Tetap STAIN Syaikh Abdurahman Siddik Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
edisi: 07/Sep/2009 wib
pantaskah kita manusia yang lemah tidak tersentuh oleh ayat-ayat Al-Quran? Pantaskah kita insan yang memiliki akal pikiran, hati nurani, perasaan, dan jiwa tidak tersentuh juga dengan nasihat-nasihat Al-Quran?

Mengapa Ramadhan dianggap samudera kasih sayang di mana sejuta mutiara kemuliaan tersimpan? Mengapa Ramadhan menjelma perbendaharaan sakral di mana segala keagungan dan kebesaran bersemayam? Dan kenapa Ramadhan pun menjadi cakrawala anugerah di mana semesta karunia agung tercurahkan, sehingga semua aktivitas kita di bulan ini dinilai ibadah? Semua pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab dengan dua kata singkat: Nuzulul Quran. Ramadhan yang kebesaran, kemuliaan, dan keagungannya mengalahkan bulan-bulan lain disebabkan bulan inilah menjadi bulan pilihan Allah untuk pertama kalinya Al-Quran diturunkan, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan. Al-Quran merekam momen bersejarah ini: Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. (Al-Baqarah: 185).

Karena itu, untuk menyingkap hikmah Nuzulul Quran, mari kita bicarakan sedikit kemuliaan dan keagungan Al-Quran dari beberapa perspektif. Pertama, dari segi bahasa Al-Quran. Menurut Quraish Shihab, bahasa Al-Quran mempunyai keindahan baik dari nada dan langgamnya, dari aspek memuaskan para pemikir, maupun dari aspek keseimbangan dan keserasian kata-katanya. Sabagai contoh misalnya, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan lawan katanya. Kata hayat dan maut sama-sama terulang sebanyak 145 kali. Kata nafu  terulang sebanyak 50 kali sama dengan kata fasad. Kata akhirat terulang sebanyak 115 kali sama dengan kata dunia. Dan kata malaikat disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 88 kali sama dengan jumlah kata setan.

Begitu juga ditemukan keseimbangan-keseimbangan khusus yang ada hubungannya dengan konteks nyata kehidupan kita. Seperti kata yaum, yang berarti hari dalam bentuk tunggal terulang sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari-hari dalam setahun. Sedangkan dalam bentuk jamak, ayyamun diulang 30 kali sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata asyhurun, yang berarti bulan berjumlah 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Dan masih banyak lagi keseimbangan dalam Al-Quran yang membuat kita kagum ketika membacanya.

Kedua, dari dimensi petujuk. Allah menegaskan tentang petujuk Al-Quran, Sesungguhnya Al-Quran Ini memberikan petunjuk kepada jalan terbaik. (Al-Israa: 9).

Jadi bukan cuma baik tapi terbaik. Al-Quran menjadi pedoman paripurna bagi kehidupan umat manusia. Boleh jadi seseorang yang hidupnya penuh kehinadinaan dan selalu diliputi kenistaan hidup. Lalu dia ingin meraih kemuliaan melalui petunjuk Al-Quran. Silahkan baca dan hayati Al-Quran, namun yang lebih penting implementasikan apa yang dinasihatkan Al-Quran. Nanti dia tidak hanya diangkat dari lembah kenistaan, tapi juga dibawa menuju istana kemuliaan. Mulia di dunia ini juga mulia di akhirat kelak.

Boleh jadi kita mungkin selalu tersisihkan dalam perjuangan hidup, bahkan senantiasa terjatuh dalam meraih prestasi kehidupan. Lalu kita ingin meraih kesuksesan melalui konsep Al-Quran. Silahkan pahami dan renungkan Al-Quran, tapi jangan lupa aplikasikan apa yang diperintahkannya. Insya Allah nanti kesuksesan akan menyertai kehidupan kita. Sukses di dunia ini lebih-lebih sukses di kehidupan fana ini. Hadzal Quran, inilah Al-Quran. Kita mungkin berharap sedikit dan seadanya tapi diberi banyak. Laksana seorang nelayan yang melemparkan jala ke dalam lautan dengan harapan mendapatkan pangan yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya beberapa hari. Namun begitu jala itu ditarik, didapatinya seonggok intan permata yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sepanjang masa.

Ketiga, kehebatan Al-Quran dalam menggugah akal sekaligus jiwa manusia. Al-Quran mampu menyentuh ranah intelektual-rasional bersamaan dengan dimensi emosional-spiritual kita. Mari kita lihat salah satu ayatnya: Seandainya Al-Quran ini Kami turunkan kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al-Hasyr: 21)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan dengan menggunakan perumpamaan  atau metafora. Maka kita pun dalam memahami ayat ini harus memakai perumpamaan namun akhirnya akan tetap mempunyai makna yang sangat aktual. Maksudnya seandainya saja sebuah gunung, bagaimana pun besar dan tingginya gunung itu sekalipun ia puncak Himalaya, kalau gunung itu mempunyai akal dan pikiran seperti kita layaknya manusia; memiliki perasaan dan hati nurani sebagaimana kita umumnya manusia, Al-Quran dengan tegas mengatakan laroaitahu khoosyian mutashoddian, niscaya engkau lihat gunung itu tertunduk dan hancur berkeping-keping.

Yang menarik, ayat ini menggunakan lammul ibtida yang masuk pada fiil madhi di mana berfungsi sebagai taukid, yakni memberi penekanan makna yang berarti keniscayaan atau kepastian. Jadi, kalau saja gunung itu mempunyai akal dan pikiran, serta mempunyai perasaan dan jiwa seperti kita manusia, maka Al-Quran memastikan laroaitahu, pasti gunung itu akan tertunduk khusyuk dan hancur berantakan; min khosyatillah, karena begitu takutnya kepada Allah.

Sekarang bagaimana makna kontekstualnya? Kita lihat akhir ayat: laallahum yatafakkarun, agar kita semua mau memikirkannya. Natijahnya, pantaskah kita manusia yang lemah tidak tersentuh oleh ayat-ayat Al-Quran? Pantaskah kita insan yang memiliki akal pikiran, hati nurani, perasaan, dan jiwa tidak tersentuh juga dengan nasihat-nasihat Al-Quran? Pantaskah sebongkah salju tidak mencair ketika diterpa wajah sang mentari? Padahal kita sebagai insan yang mempunyai akal dan pikiran, sebagai manusia yang memiliki perasaan dan jiwa adalah lebih pantas untuk khusyuk dan tunduk, untuk tersentuh dan tergugah ketika merenungi ayat-ayat Al-Quran daripada mencairnya sebongkah salju saat diterpa sinar matahari.

Di sinilah, walaupun Al-Quran menggunakan metafora namun tetap mempunyai keaktualan makna yang dapat kita realisasikan dalam kehidupan nyata. Sebab ayat ini tidak cuma mengajak kita merenungi, tetapi mengajak kita juga untuk menghayati. Bukan hanya membimbing kita untuk mengenal kebesaran dan keagungan Al-Quran, tapi lebih dari itu membawa kita untuk merasakan kebesaran dan keagungan Al-Quran. Karena itulah, jika kita mempunyai kebesaran dan kekuatan, kemuliaan dan keagungan, kekayaan dan kebanggaan, maka jelaslah kiranya bahwa semua itu bersemayam dalam Al-Quran. ***

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: