Memijak Bumi, Menatap Langit

Muhammadun AS
(Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies)

Bacalah (dengan) menyebut nama Tuhanmu (Al-alaq, ayat 1).

Petikan ayat tersebut sangat reflektif untuk memaknai peringatan turunnya Alquran (nuzulul quran). Sampai detik ini, peringatan nuzulul quran masih sekadar selebrasi seremonial yang belum menghunjam dalam kesadaran umat Islam untuk merealisasikan cita-cita ajaran Islam yang telah dihidayahkan oleh Allah SMT lewat Nabi Muhammad SAW. Bahkan, cita-cita luhur ajaran Islam sering kali dibajak demi pragmatisme kekuasaan dan kepentingan sesaat lainnya. Ajaran Islam tinggal menjadi monumen besar yang akarnya semakin rapuh dan cabangnya selalu roboh tak kuasa menjulang.

Rapuhnya akar substansi ajaran terbukti dengan makin tak berdayanya nilai luhur bangsa yang telah mengakar kuat. Terpaan gelombang globalisasi menyebabkan tata nilai kebangsaan semakin kabur tak berjejak. Kejujuran, keteguhan, kesahajaan, tenggang rasa, dan komitmen akan keadilan dan kemanusiaan, semakin hari, tak pernah membekas dalam gerak kehidupan di Indonesia. Turunnya Alquran menjadi catatan sangat krusial bagi umat Islam Indonesia untuk menata kembali bentuk kebangsaan dan kenegaraan yang selama ini terabaikan.

Bangsa Indonesia sekarang sedang asyik menyembah pragmatisme, gampang berpaling karena godaan materialisme, dan terus terjerat dalam laju globalisasi ekonomi neoliberal. Korupsi semakin merajalela, birokrasi kaya dengan “maling”, politisi hanya menjual janji, wakil rakyat justru menjadi pengkhianat rakyat, kegiatan ekonomi hanya untuk kemakmuran pribadi dan kelompok, serta konflik antaragama, ras, dan suku terus bergentayangan tanpa henti. Indonesia menjadi negara tanpa arah, gagal mencipta kreasi masa depan, dan terus terseok dalam percaturan kompetisi global.

Sejak dilahirkan pada 17 Agustus 1945, akarnya ke bumi tak lagi bermakna, dan ingin menjulang ke langit, tapi terus jatuh diterpa badai. Lihat saja perjalanan pemerintahan negeri ini. Orde Lama yang dipimpin Soekarno berusaha menciptakan stabilitas Indonesia dengan memperteguh basis ideologis. Di awal kekuasaannya, Soekarno bisa menggerakkan Indonesia dengan mempersatukan seluruh entitas bangsa dalam ideologi Pancasila. Pancasila, oleh Soekarno, menjadi dasar negara yang mengikat seluruh anak bangsa. Pancasila selalu dikampanyekan untuk meruntuhkan egoisme sektarian yang kadang bercokol di berbagai kelompok dan daerah.

Sayang, Soekarno gagal menjaga ruh Pancasila. Terlepas dari kontroversi, Soekarno akhirnya malah jatuh karena lalai dan lunglai pada komitmen Pancasila yang dibangunnya sendiri. Soeharto kemudian tampil menjaga keutuhan Indonesia. Dengan gagah berani, Soeharto menata batu bata keindonesiaan yang tercecer berantakan. Ideologi pembangunan (developmentalisme) dikukuhkan Soeharto untuk menata Indonesia masa depan. Setapak demi setapak, bila dilihat secara kasat mata, pembangunan yang dirancang dan dicanangkan Soeharto akhirnya membuahkan banyak hasil. Sarana dan prasarana publik diciptakan dengan saksama.

Tetapi, Soeharto akhirnya luput juga. Oknum yang berkeliling di sekitarnya memanfaatkannya untuk kepentingan sesaat. Terlebih anak-anaknya yang semakin gadungan dan menumpuk kekayaan tujuh turunan. Bahkan, pusat kekuasaan tidak lagi di Istana Negara, tetapi berada di jalan Cendana. Sekeliling Soeharto akhirnya menjatuhkannya sebagai sang “Bapak Pembangunan”. Perjuangan Soeharto untuk Indonesia selama bertahun-tahun akhirnya runtuh oleh pragmatisme kepentingan sesaat. Jatuhlah Soeharto dalam tragedi krisis, tepatnya 21 Mei 1998.

Roda Indonesia memasuki fase transisi. Sejak Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudoyono, semuanya masih berkejaran dalam arus perubahan politik yang terus bergulir tanpa arah. Warisan orde sebelumnya bukannya dihilangkan, tetapi justru diperkuat dengan beragam legitimasi kekuasaan. Korupsi yang tadinya masih bersifat individu, sekarang justru semakin semarak, dengan berjamaah. Ironisnya, ketika rakyat semakin terjepit oleh jerat kemiskinan, wakil rakyat dan pejabat tinggi negara lainnya justru bersenang ria dengan gaji tinggi dan makin gencar korupsi uang negara secara besar-besaran. Moralitas wakil rakyat semakin jatuh dengan tragedi skandal seksual. Ya, wakil rakyat justru menjadi pengkhianat pertama dan utama bagi rakyat.

Menjelang Pemilu 2009, makna kemerdekaan akan makin banyak dibajak kaum elite. Pemilu akan menjadi pertarungan kuasa egoisme. Buktikan saja dan lihat sejak sekarang. Konsolidasi demokrasi yang dijalankan partai politik hanyalah ornamen politik untuk mengukuhkan jebakan pragmatisme yang terus mereka tancapkan. Janji-janji manis akan terus diulang-ulang dalam berbagai seminar, diskusi, dan kampanye kolosal. Tampilan-tampilan palsu dalam pencitraan diri semakin merajalela. Ya, Indonesia sejatinya sedang dijual dengan pragmatisme, materialisme, dan egoisme kekuasaan.
Kalau ini terus terjadi, Indonesia akan berdiri tanpa kekuatan (ma laha min qoror). Peringatan kemerdekaan justru menjadi peringatan pelapukan, keruntuhan.

Saatnya berbenah
Ayat Alquran yang dicuplik tersebut di atas, QS Ibrahim: 24-26, dapat kita renungkan dalam membenahi Indonesia di usianya yang ke-63. Tiadakah engkau lihat bagaimana Allah menciptakan metafora tentang “kalimat yang baik” sebagaimana “pohon yang baik”, akarnya kuat (terhunjam) dan cabangnya ke langit (menjulang). Menurut Jadul Maula (2007), ayat tersebut bisa dibaca sebagai jangkar imajinasi sosial yang memberikan kerangka dan arahan bagi upaya mengatasi silang-sengkarut dan saling tabrak antarberbagai sumber daya sosiokultural yang ada di Indonesia. Dalam ayat tersebut, “Kalimat yang Baik”, yaitu kesaksian “La ilaha illa Allah” yang meliputi penghayatan individu maupun proses sosial, diibaratkan seperti “Pohon yang Baik”, artinya berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk terus hidup-dinamis-produktif, yaitu yang “Akarnya menghunjam di Bumi”. Artinya, secara individu berakar pada penelusuran ke dalam diri sendiri yang paling dalam dan secara sosial berakar pada pembentukan modal sosiokultural sendiri yang paling kuat.

Sementara “Ranting Pohon itu menjulang ke Langit”, lanjut Jadul, artinya secara individu proses penghayatan sampai kepada puncak tertinggi, yakni kebebasan dari rasa takut dan secara sosial proses pengelolaan sumber daya sosiokultural sampai pada puncak tertinggi, yakni kedaulatan bangsa.

“Pohon itu berbuah setiap saat, atas izin Tuhannya”, artinya proses pencapaian kebebasan individu dan kedaulatan bangsa tersebut tidak pernah berhenti, berlangsung terus-menerus, dan senantiasa memberi inspirasi kepada individu-individu maupun bangsa-bangsa lainnya untuk menapaki jalan yang sama. Kemudian sebaliknya, metafor bagi “Kalimat yang Buruk” seperti “Pohon yang Buruk”: “Tercerabut dari Akar-Bumi” dan akibatnya “Tidak punya Kekuatan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: