Masjid yang Ramah

Oleh: Zaim Uchrowi

Sabtu pekan lalu, saya tak shalat Subuh di masjid dekat rumah. Saya sengaja keluar mencari masjid lain yang ternyata sampai di Masjid Cut Mutia. Sebuah masjid bekas kantor pengembang kawasan Menteng Jakarta di masa kolonial Belanda. Pagi itu, suasana sekitar Cut Mutia terasa ramai. Ada sekelompok orang yang tampaknya membagi-bagi sahur, dan menjadikan masjid itu sebagai markasnya. Jadilah banyak ‘orang umum’, bukan cuma jamaah konvensional, di sekitar masjid itu.

Ingatan saya melayang ke masa 1980-an. Saat itu, banyak masjid memfasilitasi kegiatan remaja masjid.Di Jakarta, Cut Mutia, merupakan salah satu pusat kegiatan selain Masjid Sunda Kelapa dan Al-Azhar. Di Bandung ada Masjid Istiqamah, di Surabaya Masjid Al-Falah. Hampir di berbagai kota ada masjid semacam itu, yang membuat para remaja merasa bangga terasosiasi dengannya. Mereka berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang. Tak semuanya dari keluarga santri. Banyak yang berlatar biasa, tak santri-santri amat (bahkan cenderung ngepop) yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatannya.

Di lingkungan seperti itu, yang berjins dan berbaju koko duduk bersama. Yang berambut potongan ‘bob’ dengan yang memakai jilbab besar mengaji bareng. Raharjo yang atlet ski nasional, Nur Hidayat yang pengajar Sekolah Luar Biasa, dan Hasan yang guru mengaji menelaah agama secara bersama. Yang jelas, masjid begitu ramah buat semua. Masjid menjadi semacam ‘oase’ yang mengundang siapa pun untuk tanpa ragu mendatangi dan mereguk kesegarannya buat mengusir rasa dahaga jiwa. Itu suasana saat itu, saat komunitas Remaja Masjid Sunda Kelapa atau ‘Riska’ sangat identik dengan komunitas radio Prambors.

Waktu seperti itu sudah berlalu. Sebuah insiden membalikkan keadaan menjadi sangat berbeda. Tragedi Imron yang berpuncak pada kasus ‘Woyla’, membuat kegiatan remaja masjid porak poranda. Masjid tak lagi menjadi tempat ‘nongkrong’ yang sehat di sela-sela waktu salat. Rasa dahaga terhadap komunitas yang meneguhkan spiritualitas lalu dicari di pengajian-pengajian tertutup dan diam-diam. Hal yang tak mungkin lalu dijangkau oleh para remaja yang juga masih ingin main-main dengan budaya pop. Secara berangsur, masjid bergeser menjadi tempat yang ‘lebih serius’ dan ‘lebih sakral’. Masjid bukan tempat ‘main-main’.

Saya pikir itu fenomena biasa saja. Tanpa sadar saya menerima pergeseran realitas itu hingga masjid menjadi tempat yang lebih spesifik untuk salat dan pengajian serius seperti sekarang. Bukan tempat yang menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat, terutama remaja, seperti dua puluhan tahun lalu. Sampai kemudian saya shalat Subuh di Masjid Cut Mutia, dan menemukan kebetulan itu. Yakni bahwa selama ini, disengaja atau tidak, telah terjadi pergeseran peran masjid tersebut. Pergeseran menuju peran masjid sebagai tempat utama para orang-orang tua. Terutama, yang sudah melampaui masa-masa puncaknya dalam menjalani dunia kerja. Kalangan muda yang terlihat di sekitar masjid praktis hanya mereka yang sudah sama serius dalam beragama dengan orang-orang tua.

Melihat realitas seperti itu, sebuah pertanyaan kecil pun menggelitik pikiran. Bagi ‘orang-orang umum’, apalagi para ‘Anak Baru Gede’ yang tengah mencari identitas diri, ke mana mereka harus mencari keteduhan spiritual. Di mana rumah keberagamaan yang mereka bisa datangi setiap saat buat bersandar tanpa ada beban bila masjid semakin disiplin dengan format keberagamaan serius yang kini seperti distandarkan?

Tidak bolehkah orang-orang umum untuk bersosialisasi secara perlahan dengan lingkungan masjid, tanpa harus memikul beban penilaian apa pun? Apakah mereka hanya layak beredar di sekitar mal dan kafe, dan hanya boleh ke masjid bila merasa benar-benar telah tobat entah atas dasar dosa apa? Di bulan puasa ini, setelah Subuh di Masjid Cut Mutia itu, saya rindu dengan suasana masjid dulu. Suasana masjid yang ramah buat semua.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: