Lailatul Qadar

Oleh H Toto Tasmara

Mereka yang merindu cinta Ilahi, menjelang sepuluh malam terakhir, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dengan penuh harap, ia mendamba malam seribu bulan, berkah tersembunyi rahasia langit yang kuncinya di tangan Ilahi.

Lailatul Qadar, malam paling agung di mana para malaikat dan roh suci mengelepakkan sayapnya turun ke bumi untuk menyampaikan salam sejahtera dan kedamaian. Pada saat itu, rasa cemas menderu haru sebongkah hati para perindu, merenda rintihan doa mohon pengampunan.

Setiap kali ia mengingat betapa sedikitnya amal kebaikan, betapa besarnya keburukan; tampaklah dari wajah mereka air mata menetes, mengiringi setiap kalimat yang membuncah dari hatinya yang basah. Seraya mengenang kembali Nabi Adam dan Siti Hawa, dua hamba Allah SWT yang terusir dari surga.

Dalam derita yang ternista, mereka berdua bermunajat, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf [7]: 23).

Penggalan akhir Ramadhan ini adalah saat untuk menanggalkan segala pakaian kemaksiatan dan berganti salin dengan pakaian keridhaan-Nya yang berhiaskan maghfirah. Mereka para perindu Ilahi itu seakan membaiat untuk dirinya sendiri, ”Demi Allah, kini kuhanguskan segala amal keburukan dan kuganti dengan menebar benih kesalehan.”

Betapa malunya hati bila para malaikat itu menemukan dirinya di tempat keramaian dunia yang hampa dari zikir. Sungguh sengsaranya diri bila malam itu jiwa masih disibukkan oleh hiasan fatamorgana yang berhias diri di pusat perbelanjaan.

Adakah tujuan Ramadhan hanya untuk membelanjakan uang melebihi dari hari-hari biasa. Merajut nikmat sesaat menumpuk utang? Apakah pantas para perindu Ilahi pengikut uswah Rasulullah SAW mencampakkan malam kemuliaan?

Berjuta pertanyaan yang mengadili hati nuraninya sendiri mengetuk-ngetuk pintu kalbunya. Ia melakukan muhasabah. Ia melakukan interogasi pada diri dan amal-amalnya sebelum datang di mana dirinyalah yang akan ditanya di Yaumil Akhir.

Setelah menemukan kesejatian diri, melawan segala bentuk ornamen godaan dunia, kini ia tenggelam dalam makrifat memburu syafaat Ilahi. Hanya 10 dari 365 hari, ia menghabiskan waktunya dalam ibadah, bersujud hikmat sambil menderaikan air mata.

Napasnya berdesah bagaikan bersenandung lagu cinta, menimba fatwa dari penasihatnya mulia, Alquran Alkarim. Betapa cerianya orang yang merindu takwa mengharap Lailatul Qadar. Seakan merintihkan rasa cemas dan harap, bila kelak waktu hamba tak sampai, ampunilah dosa-dosa hamba dan masukkanlah hamba dalam rombongan para shalihin danmuttaqiin.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: