Tukang Bakso dan Pelacur

Oleh: Aris Kurniawan

Magrib baru saja berlalu. Gerimis masih menitis. Rumah-rumah menutup pintunya rapat-rapat. Dari gorden yang disibak separuh tampak televisi menyala, lalu terdengar derai tawa. Agaknya ada acara lawak.

Ada satu rumah yang pintunya terbuka. Tampak seorang ibu sedang memangku anaknya, matanya berkaca-kaca. Seorang lelaki, tentulah suaminya, berdiri dengan wajah memerah. Agaknya mereka tengah bertengkar. Apakah kiranya yang membuat mereka bertengkar?
Aku mendorong gerobak bakso yang terasa makin berat di atas jalan aspal yang tidak selalu mulus, di sana sini terdapat lubang yang digenangi air hujan sehingga aku harus berhati-hati supaya roda gerobak tidak terperosok. Aku berteriak “Baksoooooo”, dan memukulkan sendok ke mangkuk berkali-kali. Teng, teng, teng….Tapi tak ada sahutan dari setiap rumah yang kulewati. Gardu pos ronda dekat lapangan bulutangkis yang biasanya ramai, kali ini terlihat sepi. Air hujan tampak menggenang di permukaan lapangan bulutangkis yang licin.
Aku terus mendorong gerobak perlahan-lahan seraya memukul mangkuk dengan ujung sendok lebih keras. Tapi sampai seluruh gang di kompleks perumahan ini kususuri tak seorang pun penghuni kompleks ini yang membuka pintu, memanggilku, dan memesan bakso. Aku tak putus harapan, kucoba mengulanginya sekali lagi, siapa tahu mereka tadi sibuk menonton acara lawak di televisi sehingga tak mendengar teriakanku maupun bunyi denting mangkuk yang dipukul sendok.
Barangkali ini malam yang buruk buat daganganku. Lihatlah, mereka tetap bergeming di depan televisi seperti disihir kotak ajaib sialan itu. Heran, biasanya cuaca dingin begini daganganku sangat laris. Bukankah sangat nikmat menyantap bakso dengan kuahnya yang hangat dan pedas di tengah cuaca dingin begini? Ketika gerobak bakso hampir kubelokkan di ujung jalan, mau keluar dari kompleks perumahan, tiba-tiba terdengar orang berseru memanggil,“Bakso!”
Bergegas aku menghentikan langkah, memutar gerobak, berbalik arah ke asal suara. Rupanya penghuni rumah di pojok yang memanggilku. Seorang perempuan. Dandanannya seronok dan seksi. Dia berdiri menunggu di depan pintu pagar rumahnya sambil mengisap rokok. Dadanya yang besar membusung terlihat menyembul separuh dari balik bajunya yang tidak dikancing secara benar, berkilat oleh keringat. Bibirnya yang tebal dipoles gincu merah menyala. Aroma parfumnya menyengat menggelitik penciumanku.
“Campur dua, bang, pedas, bawa ke dalam ya,” perintahnya, kemudian berlalu masuk ke rumahnya. Sepintas aku melirik rumahnya. Cahaya suram kemerahan tampak di dalam sana. Agaknya bohlamnya dicat merah. Sementara di teras rumah hanya diterangi sinar bohlam 5 watt. Ada kepul asap rokok yang dihisap seorang lelaki yang tengah duduk menghadap ke dalam. Siapakah laki-laki itu? Suami perempuan tadikah? Atau pacarnya? Ah, apa peduliku.
Bergegas aku melayani pesanannya penuh semangat. Aku berharap ini penglaris yang akan disusul pembeli-pembeli yang lain. Kuraih mangkuk dan mengelapnya, lalu menjumput sohun dan mi basah ke dalam mangkuk, menaburinya dengan garam, vetsin, daun seledri yang dipotong kecil-kecil, cairan cuka, lalu kusiram dengan kuah yang mendidih dan bulatan-bulatan bakso. Mengakhirinya dengan membubuhi saus, kecap, bawang goreng, dan sambal banyak-banyak yang kupisahkan di tempurung sendok. Dengan nampan, aku membawa dua mangkuk bakso ke dalam rumah.
Aku berdiri tertegun di ambang pintu, “permisi” seruku.
“Masuk, bang” sahut suara perempuan dari dalam. Perlahan aku masuk. Begitu aku bergerak dua langkah ke dalam, mendadak aku berhenti. Kulihat perempuan itu sedang berciuman dan berpelukan mesra sekali dengan lelaki tadi. Antara terkejut dan malu, aku menyurutkan langkah ke belakang. Ketika melihatku masuk mereka sejenak menghentikan pekerjaannya. “Letakkan saja di meja, Bang” kata si perempuan, santai, lalu meneruskan kesibukan mencium dan memeluk tanpa merasa risih. Sepertinya mereka sengaja memperlihatkan adegan panas tersebut padaku. Buru-buru aku meletakkan dua mangkuk bakso pesanannya di meja. Di atas meja, sempat kulirik ada kemasan kondom yang telah robek.
Aku keluar dengan perasaan bergemuruh tak menentu. Benar-benar malam yang buruk, pikirku. Bertahun-tahun aku berjualan bakso di kompleks perumahan ini baru kali ini aku mendapati pengalaman memalukan seperti ini. Aku mencoba menetralkan perasaan dengan memukul mangkuk dengan sendok lebih keras lagi. Tetap tak ada sahutan. Dan perasaanku makin tak keruan. Suara decap bibir dan napas mereka yang menderu seperti makin terdengar nyaring di telingaku.
Rasanya aku ingin segera mendorong gerobakku pergi meninggalkan kompleks perumahan ini. Biarlah kurelakan dua mangkuk bakso ketimbang tersiksa mendengar deru napas dan decap bibir sepasang kekasih yang bercinta. Tapi entah kenapa langkahku seperti tertahan, penasaran. Kurasakan tubuhku gemetar membayangkan mereka makin seru bercinta. Meski hanya melihat sepintas, adegan panas itu tak mau pupus dari mataku. Perempuan itu duduk di pangkuan lelaki yang hanya tampak rambut dan punggungnya dengan pakaian berantakan. Kedua kaki perempuan itu menjulur, melilit kaki belakang kursi, sementara tangannya melingkar di leher si lelaki.
Aku menyesal telah melewati gang ini. Seandainya tadi aku tak mengulang melewati gang ini tentu aku tak perlu mendapati pengalaman memalukan ini. Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Ketika aku hendak mendorong gerobakku meninggalkan gang depan rumah perempuan itu, tiba-tiba suara perempuan itu memanggilku. Aku tertegun beberapa detik, bimbang, antara masuk ke dalam memenuhi panggilannya untuk mengambil mangkuk dan uang atau pergi begitu saja.
“Bang, ini sudah mangkuknya,” terdengar lagi perempuan itu memanggil dari dalam. Aku tak menyahut, diam berdiri kaku, memegang tangkai gerobak, siap mendorong ketika perempuan itu akhirnya keluar dari rumah, melangkah ke arahku.
“Berapa, bang?” tanyanya cuek seraya menyorongkan selembar lima puluh ribuan.
“Sepuluh ribu” sahutku. Tanpa mengangkat wajah dan menatap matanya aku meraih uang dari tangan perempuan itu.
“Mangkuknya ambil di dalam, bang,” kata perempuan itu setelah menerima uang kembalian seraya kembali ke masuk dalam rumahnya.
“Biarlah, mba, besok saja saya ambil,” sahutku. Mendengar ujaranku perempuan itu berbalik, dan menatap mataku yang segera kupalingkan ke gerobak baksoku. Kikuk rasanya menatap bibirnya yang merah dan dadanya yang besar membusung.
“Kenapa besok? Bagaimana kalau besok saya tidak di rumah?” kata perempuan itu. Nadanya terdengar mengetesku.
“Besoknya lagi,”
“Kalau besok saya juga pergi?” kejarnya.
“Ya sudah kapan-kapan saja kalau saya sempat,”
“Bagaimana kalau sebelum abang sempat mengambilnya saya sudah keburu pindah dari rumah ini?”
“Ya sudah saya relakan mangkuknya untuk situ,”
“Wah, mangkuk saya banyak. Saya tidak memerlukannya lagi,” tukasnya.
Sebenarnya aku ingin ngomong tolong ambilkan mangkukku, tapi jelas itu tidak sopan. Aku khawatir dia tersinggung. Jangan sampai pelanggan merasa kecewa, bisa mengurangi rejekiku. Ini prinsip pedagang yang harus kupegang baik-baik.
“Baiklah,” putusku cergas menguntit langkah perempuan itu masuk rumah. Tapi manakala sampai di ambang pintu, perempuan itu tiba-tiba menahan langkahku.
“Abang bakso, kenapa kamu tadi tak mau mengambil mangkukmu?” tanyanya, seperti memojokkan aku.
“Tii…tidak…apa-apa,” ujarku gugup dan salah tingkah. Sungguh perempuan ini aneh sekali.
“Kamu tadi melihat kami sedang bercinta, kan?” desaknya.
“Maaf, aku tidak sengaja,” kataku makin gugup.
“Hai abang bakso, kamu tak perlu gugup seperti itu. Kami tidak marah kamu melihat kami tadi bercinta. Adakah kamu belum pernah bercinta?” perempuan itu terus melontarkan pertanyaan seperti menginterogasiku. Kenapa dia tahu kalau aku belum pernah bercinta.
Sampai usiaku menginjak 31 sekarang ini, aku memang masih melajang. Dengan penghasilanku sebagai tukang bakso yang tidak seberapa aku belum berani menikah. Dan sampai detik ini pula aku memang belum pernah bercinta. Apalagi bercinta di atas kursi dan dilihat orang pula. Tapi kalau melihat orang bercinta bukan sekali ini aku alami. Aku pernah beberapa kali mengintip tetangga sebelah kamarku yang sedang bercinta.
“Hai abang bakso, jangan pura-pura. Kamu juga sebenarnya suka kan melihat kami tadi?” pertanyaan ganjil perempuan itu membuatku tergagap.
“Maaf, mba, bisa saya ambil mangkuknya sekarang?”

***
Malam itu aku pulang dengan dagangan hanya laku separuh. Tapi ini tidak membuatku sedih seperti biasanya. Karena pikiranku terus tertuju pada perempuan itu. Sungguh perempuan itu telah memberiku pengalaman yang barangkali tidak bisa aku lupakan seumur hidupku.
Aku tidak jadi masuk ke dalam rumah perempuan itu untuk mengambil mangkuk. Tapi sebelum pergi meninggalkan rumahnya, perempuan itu berbisik padaku, bahwa kalau aku mau bercinta dengannya dia tidak keberatan. “Datanglah nanti jam sebelas setelah laki-laki itu pulang,” kata perempuan itu. Aku tidak menolak ataupun mengiyakan. Tapi, begitulah sambil menunggu jam sebelas aku cuma berputar-putar mendorong gerobak baksoku di kompleks perumahan itu. Sesekali berhenti sebentar melayani satu dua orang pembeli.
Ketika tiba waktu yang ditunggu aku mendorong gerobak melewati rumah perempuan itu. Semula aku ragu. Tapi kulihat perempuan itu benar-benar tengah menungguku, dia melambaikan tangan. Lambaian tangannya seperti memberi tenaga yang amat kuat padaku untuk mendorong gerobakku masuk ke halaman rumah perempuan itu. Lalu menutup pintu pagarnya pelan-pelan.

Pondok Pinang, 2009

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Kumpulan cerpen, Logung Pustaka, 2005,) Lari dari Persembunyian (Kumpulan Puisi, Komunitas Kampung Djiwa, 2007). Ayah sepasang anak ini sehari-hari bekerja sebagai wartawan.
Nomor Kontak: 0856 897 0995. Nomor rekening: 868 0633 496 BCA KCP Cikokol, Tangerang, Banten.

Tag: ,

Satu Tanggapan to “Tukang Bakso dan Pelacur”

  1. ababiel Says:

    salam hangat saya ucapkan sebagai sesama penulis…….saya undang untuk datang ke blog saya….semoga anda menikmati novel saya seperti saya menikmati bacaan di posting ini…trims….(btw artikelnya mau tak baca di rumah…minta izin untuk di download….trims)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: