ANGIN DUKA

Oleh : Adi Putra

“Jadi,” kataku sambil menghempaskan punggungku di sandaran kursi kafe. Diseberang, gadis berjilbab menekuk wajah manisnya yang menentang.

Sebelah tangan membekap tangan lain, menyembunyikan cincin di jari manis. Aku tak sanggup menatap wajahnya, membuat hatiku teriris, “siapa orangnya, Nis?” “Hendri. Kau mengenalnya.”

“Lebih dari kenal, tentu saja. Tapi, mengapa dia? Bukankah sebelum kita jadian kau mengatakan ada pria lain di tempat kerjamu yang mengajakmu menikah? Karena itu aku mendahuluinya!” Nisa terdiam. Tatapannya jauh.

“Jawab, Nis!” suaraku naik dua oktaf dan dapat kupastikan orang-orang di kafe melirik kami dengan tatapan penuh tanya lalu berbisik-bisik, berasumsi.
“Apa kau memberiku pilihan lain?” Sekilas kulihat matanya berpijar di antara kilauan air mata yang bakalan membuncah. “Kau mencampakkanku!” Suaranya lantang dan bergetar lirih.

Aku mendengus, jengah sekaligus marah. Kini saatnya aku menjelaskan semua kekaburan yang selama ini kulakukan. Tapi, kata mencampakkan itu seolah membuatku ditampar dengan ribuan pelepah pisang. Kata apa itu? Terdengar tidak senonoh dan menyerang harga diriku. Aku tak pernah berpikir untuk mencampakkannya.

Naif sekali. Bahkan di dalam tidur sekalipun aku masih sempat memikirkan keindahan bersamanya. Bukan pikiran vulgar yang merendahkan martabat, tetapi lebih pada keinginan untuk selalu bersama selamanya.

“Aku selalu menegaskan padamu tentang hubungan kita. Tapi, kau tak pernah puas. Bahkan kau lebih senang bertanya, mencari tahu pada    orang lain yang sekarang menjadi calonmu. Hahh, kenapa aku tak heran, ya?”

Aku tak menyadarinya sejak dulu. Hendri pernah mengingatkanku tentang hubungan kami yang nyaris renggang. Dia mengatakan banyak pria yang menginginkan Nisa. Kata-kata itu seolah menjelma menjadi bilahan pedang tajam yang menusuk punggung, nyaris tembus ke dada. Sakit. Dan lebih sakit lagi melihat dirinya menjadi pendamping orang yang berhasil menyinggahi pelabuhan hatiku yang kini remuk dihantam beliung.

“Salahkan dirimu!” Mata itu masih sanggup menahan bendungan air matanya dan kini menudingku, telak. “Kau terlalu pengecut menentukan sikap!”
Baiklah. Tudingan. Aku tidak suka.

“Lupa, ya?” kataku, mengontrol emosi. Aku tak tahu seberapa lama aku bisa menahannya. “Sejak mengikrarkan diri, aku seolah menelanjangi diriku di depanmu. Aku mengatakan apa adanya tentang diriku, apa yang kusuka dan yang tidak kusuka sampai kebiasaan buruk dan kelemahanku pun kubeberkan padamu. Aku secara tegas mengatakan padamu bahwa aku tidak sekedar mencari pacar tapi pendamping hidup. Dan aku butuh waktu untuk itu.”

Aku mengakui kelemahanku; tidak pandai mengekspresikan diri dalam hubungan sehingga terlihat  kaku dan dingin. Dibalik itu semua aku memendam keinginan yang hampir membuatku terbakar dan setengah gila.  Impian. Aku tak ingin hal itu hanya sekedar wacana dan menjadi kata mati, membangkai di dalam angan-angan. Aku ingin mewujudkannya, tak peduli seberapa keras aku mencoba. Dan semua itu pasti ada harganya. Aku membayarnya terlalu mahal dengan menggadaikan kebahagiaanku. Mungkin ini penyebabnya, kurasa.

“Aku tak pernah lupa. Semua itu kau lakukan untuk menggantungku. Aku tak suka digantung. Dan semua wanita pasti setuju,” tuduhnya. “Ohh, naif sekali pikiranmu.” “Tidak, tidak. Yang kukatakan itu benar. Kau menggantungku de?” “Itu karena kau mendesakku!” potongku, mengerang. Wajah manis itu masam. Bibirnya bergetar. “Mende-sak?” katanya, gagu. “Dalam hal apa?”

“Yah, sikapmu seolah mendesakku untuk menjalin hubungan pada tingkatan yang lebih serius lagi. Padahal kau tahu pekerjaanku apa, keadaan keluargaku seperti apa dan keinginanku apa. Semua sudah kubeberkan padamu. Di tengah masalah yang kuhadapi, kau justru mendesakku, mengacaukan semua dan nyaris membuatku kehilangan pekerjaan meski sekarang aku melepaskannya juga. Jangan kau pikir aku tak punya target untuk kehidupanku mendatang.

Aku punya, bahkan aku telah menyusunnya disini,” aku mengetuk jariku di dahi, “di dalam benakku. Kehidupan yang sangat indah. Dan kau tidak sabar menunggunya.” Gadis berjilbab, tertunduk. “Aku tidak mendesak. Aku hanya butuh kepastian dan perhatian, itu saja. Apa berlebihan?”

“Aku tak bisa memberikan lebih pada hubungan yang belum halal dan sudah kukatakan itu. Tak ada hak dan kewajiban diantara hubungan kita sebelum perkawinan.” Mataku melirik cincin yang tersingkap di balik dekapan tangannya dan aku terbakar, hatiku panas. “Kuakui aku salah. Seharusnya aku mengikatmu dengan pertunangan. Tapi apa itu jawaban sedangkan kau sama sekali tidak mengetahui apa yang kuinginkan?”

“Aku tahu. Kau ingin impianmu terwujud dan menyelesaikan semua masalah-masalahmu sehingga membuatnya tampak sempurna. Sampai kapan? Kau tak memberi kepastian.”

Diriku serasa meluncur ke dasar jurang. Nisa benar untuk beberapa hal. Aku tak memberinya kepastian. Dia manis, pintar, baik, bekerja di pemerintahan dan cukup umur. Apa yang diharapkannya selain pernikahan? Orang-orang selalu mengatakan bahwa aku beruntung memilikinya. Secara garis besar aku mengamininya saat itu. Tapi mereka lebih memandang pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan ketimbang yang lain. Kata mereka, aku akan aman. Menggelikan. Aku tak pernah menganggapnya begitu, meski pekerjaanku rawan PHK.

Aku menyurukkan jari-jariku ke rambut lalu meluncurkannya ke wajah yang memerah. “Argh,” erangku. “Apa dia lebih baik dariku, eh?” “Tak ada yang sempurna.” “Begitu juga aku!” “Apa yang kau harapkan? Sebentar lagi aku akan terikat dengannya.”

Apa yang kuharapkan? Ah, tentu saja aku tak bisa berharap ini akan berakhir seperti film India dimana pernikahan bisa dibatalkan oleh pihak laki-laki lain dan membawa pengantin wanita dari pelaminan tanpa ada penolakan. Omong kosong! Tapi pernikahan mereka masih beberapa bulan lagi. Dan aku tidak cukup gila untuk mencegah dan mengacaukannya.

“Aku… aku ingin kau menikah denganku.” Sadar atau tidak, aku telah mengucapkan harapan pahit yang sulit kutelan. “Menikahlah denganku. Aku akan membahagiakanmu jauh dari yang kau harapkan dan tanpa syarat. Aku jamin. Demi nama sang pencipta, akan kutorehkan kebahagiaan di lembaran hidupmu.” Gadis dihadapanku mengekeh, sedih. “Meski hati ini mempunyai seribu celah, tapi sudah tertutup untukmu.”

Sebongkah meteor raksasa berdiameter tak terhingga menghantam telak dadaku, meninggalkan kawah hitam tak berdasar. Bayang-bayang gelap menyelimuti cahaya kehidupanku. Sejenak duniaku gelap, sunyi seperti di alam kematian. Aku meringis, sakit. Ahh, aku tak ingin hal ini terlihat atau terdengar menyedihkan. Tapi inilah aku, aku layu di depan seorang gadis. Yeah, seorang gadis yang bukan siapa-siapaku lagi.

Aku menyeruput minuman yang dibawa pelayan kafe. Suara yang kutimbulkan sedikit kasar dan arogan, tapi tetap saja tidak mampu menyegarkan kehidupanku yang dahaga. Air yang kuminum bagai titik-titik duri tajam,  merembes ke celah-celah diriku yang berlubang dan menguap dihembus angin duka.

Aku mengangkat diri, meletakkan tangan di atas meja. Kulit wajahku memerah dan aku mencitrakan diriku sebagai makhluk merah bertanduk gerigi yang siap mengamuk. Nafasku menggembor, mengeluarkan asap tebal seperti asap kereta api uap yang memacu kecepatan. Beberapa detik kemudian bahuku melorot dan tubuhku menghempas di bangku berduri. Citra diri sebagai monster menakutkan hilang. “Pergilah,” lirihku dengan wajah tertunduk. “Tak ada gunanya.”

Nisa menggeser kursi ke belakang. Dia berdiri dengan wajah separuh pucat dan basah. Bibirnya bergetar sambil menatapku dengan sorot mata sayu.
“Semoga kalian bahagia,” kataku, malas.  “Kuharap kau datang?” “Untuk mempermalukan dan menghancurkan diriku?” sambungku dengan nada perih.

Nisa mendengus dan menyentakkan diri lalu pergi. Aku menatapnya hampa lalu mengekeh lirih. Apa dia pikir aku sanggup melihatnya bersanding dengan teman dekatku. Mendengarkannya saja membuat diriku seolah meregang nyawa. Dapat kupastikan roh dan tubuhku akan rontok, berceceran di jalanan sebelum tiba di pekuburan pesta. Meskipun begitu, aku tetap akan datang, datang sebagai angin duka yang meraung-raung meratapi kesedihan. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: