Hari Penentuan

Oleh : Hendri Dunan Naris

Sepasang Suami Istri tengah terlibat pembicaraan serius diruang tamu. Raut wajah tua mereka terlihat datar dan penuh beban. Sementara ketiga anak mereka terlibat dalam pergulatan yang serius dengan buku-buku pelajarannya.

“Bu, Bapak bukan tidak mendoakan Seto tidak lulus. Tapi Bapak khawatir saja!” ungkap si Bapak.

“Apa yang Bapak khawatirkan?” tanya si Ibu.

“Anak kita itukan tidak terlalu pintar di sekolah. Peringkat lima besar di Kelasnya bukan jaminan ia bisa dengan mudah lulus Ujian Nasional. Apalagi dengan kondisi kita yang seperti ini?”Ucap Bapak penuh keraguan.

Si Ibu tidak dapat membantah apa yang Bapak katakan. Seto, putra pertama mereka memang terdaftar sebagai pemegang peringkat lima besar di sekolahnya. Akan tetapi peringkat itu diperolehnya tidak dalam kelas anak-anak unggul. Melainkan kelas yang telah dilakukan dua kali penjaringan, maka masuklah ia kelas 3 IPS 3. Di tambahkan  pula dengan kondisi rumah yang tidak nyaman untuk belajar karena terlalu sempit dan berisik.

Sebuah pabrik pengolahan karet berada persis 30 meter di depan rumahnya. Aroma busuk dari limbah karet ketika malam akan terasa sangat menyesak di hidung. Terbiasa dengan kondisi seperti itu, maka aroma busuk itu bukan lagi halangan. Deru dan raungan mesin mobil-mobil yang datang mengantarkan karet mereka semakin memeriahkan irama malam disela deru mesin penggilingan karet.

Dalam kondisi penuh kekurangan seperti ini Seto masih mampu mengukir prestasi di sekolah. Sungguh kebanggaan bagi Sarmini dan Karjito menjadi orang tua. Bahkan, ketika ditanya oleh teman-teman kerjanya di pabrik, Pak Karjito menjawabnya dengan tegas, dan bangga. “Anakku Seto peringkat dua. Hebat dia bisa mengungguli 38 siswa lainnya”

Demikian pula di Ibu, kepada tentangga di lingkungannya. Hal yang biasa ia lakukan begitu selesai melihat isi raport Seto bergegas ke rumah tetangga-tetangganya. Begitu banyak untaian kalimat pujian dan sanjungan kepada putra sulungnya. Bahkan tak jarang ada tetangga yang merasa Ibu Sarmini terlalu berlebihan, maka ia langsung pulang sambil menggerutu sepanjang jalan. Akibatnya dua adik Seto menjadi korban pelampiasan kekesalan hatinya.

“Apalagi yang mau kau buat. Kerjakan PR mu biar pintar seperti kakakmu. Nanti orang tidak meremehkan dan melecehkan kita. Jangan terus main!” Bentak ibu sebagai pelampiasan kesal.

***

“Bapak cobalah bertanya kepada Seto, apakah dia merasa mampu ketika menjawab soal-soal ujian tersebut?”pinta Ibu.

“Ibu sajalah yang memanggilnya. Bapak malas berdiri”tolak bapak dengan kembali memerintah bu Sarmini.

Tanpa berdiri, terdengar suara Bu Sarmini memanggil anak sulung mereka, “Seto, Bapak ingin bicara padamu”

Tak menunggu lama, Seto terlihat keluar dari kamarnya dan langsung duduk di hadapan Pak Kartijo. “Ya, Pak. Ada apa?”tanya Seto

“Mengenai kelulusan mu nanti. Bagaimana perasaanmu?”

“Cukup tegang juga, Pak.!”

“Apa kamu yakin bisa menjawab semua soal ujian kemarin?”

“tidak semua. Tetapi sebagian besar sudah saya jawab semampunya”

“kenapa sampai tidak bisa menjawab?”

“gimana mau konsentrasi belajar kalau kondisi kita seperti ini terus. Terlalu berisik. Yang Seti butuhkan itu kenyamanan dan ketenangan” Protes Seto

“Kondisi kita memang sudah seperti ini. Jadi mau apa lagi?”

“Setidaknya kita bisa pindah rumah kontrakan yang agak jauh dari sini. Lebih bagusan sedikit. Malukan pak kalau tiba-tiba kawan sekolah Aku ke rumah. Sudahlah kecil, sempit, baunya juga busuk”Gerutu Seto.

Bapak terdiam dengan kalimat Seto. Ia tak menyangka Putranya sudah berani berbicara seperti itu. Sementara Ibu hanya diam memandangi putranya. Tatapan matanya penuh selidik ke arah Seto. Setelah terdiam beberapa saat, barulah ibu kembali membuka pembicaraan.

“memangnya siapa teman yang ingin kau bawa ke rumah ini?”tanya ibu pelan.

Seto memandang ke arah Ibu, lalu beralih ke Bapak Kartijo. Seolah menyakinkan diri dengan kalimat yang ingin dia katakan tidak lagi membuat orang tuanya marah. “setokan sudah dewasa mak”

“teman laki-laki?”

Seto menggeleng

“Teman perempuan?!” ucapan ibu terasa tinggi

Perlahan Seto mengangguk.

Pak Kartijo dan Bu Sarmini hanya saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu mereka meninggalkan Seto seorang diri duduk di kursi. Bapak berasalan ingin mencari rokok dan menemui teman-temannya. Sementara ibu ada yang harus dipersiapkan untuk besok pagi.

“ya sudah kamu istirahat aja. Sembahyang dan berdoa kepada Tuhan agar besok pagi ketika pengumuman kelulusan kamu dinyakatakan lulus.” Perintah ibu

Seto diam saja tak beranjak dari kursi tempat duduknya. Matanya tajam memandangi punggung Pak Kartijo yang semakin menjauh di kegelapan malam.

* * *

Hari Penentuan

Ketika pagi-pagi sekali di rumah keluarga Pak Kartijo dan Bu Sarmin sudah terlihat kesibukan. Semua anak-anaknya dibangunkan untuk shalat berjamaah, memohon kepada Tuhan agar dihari penentuan ini Seto berhasil lulus UN.

“Seto kita pergi bersama saja. Biar nanti Bapak tidak bingung sendirian disekolahmu?”pinta Bapak.

Namun Seto menolak dengan alasan ingin pergi bersama teman-temannya. “Seto pergi dengan teman-teman. Malu ah sama yang lain, ntar dikatai apa lagi…?” tolak Seto.

Ketika Bapak ingin bertanya, tangannya lebih dahulu dipegang oleh Bu Sarmini.“Anak kita sudah dewasa pak. Bapak dengar sendiri ucapan dia semalam. Kalau dia sekarang sudah dekat dengan teman perempuannya. Bisa saja gadis itu sudah jadi pacarnya!”ungkap ibu.

Bapak terlihat terkejut “apa maksudnya? Apa Seto malu berjalan dengan Bapaknya sendiri. Apa dia malu dilihat perempuan itu saat dengan Bapak?” protes bapak.

“malu sih mungkin tidak Pak. Tapi kurang bebas bercerita dengan adanya bapak. Seto sudah dewasa pak. Sudah punya kepribadian sendiri” bela si Ibu.

“Ah…..sudahlah” teriak bapak kesal “Tapi kalau sampai ada rasa malu terhadap orang tua ini. Hanya karena kenal gadis itu. Benar-benar durhaka anak itu!”Ujar Bapak dengan wajah tegang.

Bu Sarmini mengerti kemarahan suaminya. Tapi ia tetap memberikan senyum. “Hati-hati di Jalan Pak”

***

Di sekolah terlihat Seto asik bercanda dengan seorang teman perempuan SMA nya. Bapak hanya melihat sekilah peristiwa itu. Dan itu sudah cukup baginya sebagai jawaban bahwa anaknya memang telah dewasa. Tetapi pertanyaan lain belum terjawab. Seto yang milihat kedatangan orang tuanya membuang muka kearah berlawanan.

Bapak segera mencari bangku di tempat yang telah disediakan. Para wali murid sudah banyak yang datang. Memang untuk kali ini pengumuman kelulusan dirangkai dengan acara perpisahan sekaligus. Sebab nanti akan dilakukan pendaulatan dari kepala sekolah dan pemberian hadiah kepada juara umum tingkat sekolah. Bahkan seluruh siswa diwajibkan datang pada acara ini hingga acara selesai.

Pikiran Bapak yang kacau membuat ia tidak menikmati hiburan yang ditampilkan para siswa-siswa adik tingkat Seto. Yang ada dihatinya hanya rasa bosan dan bingung sehingga tidak tau harus berbuat apa.  Ia hanya diam duduk dengan tatapan mata kosong. Sampai ia dikejutkan oleh teriakan seluruh siswa.

Waka kesiswaan naik ke atas pentas seni dan memegang mikrophone. Seluruh yang hadir spontan terdiam dan terlihat tegang menanti apa yang akan disampaikan.

“baiklah sesaat lagi acara puncak akan segera kita mulai. Tetapi sebelumnya Apa anak-anak semua sudah siap dan sepakat untuk menerima kenyataan tanpa memunculkan kekacauan” teriaknya dengan lantang.

Spontan disambut teriakan anak-anak murid tak kalah keras dengan suara sound system.

“Siap”

“Siap untuk lulus”

“Siap”

“Siap Untuk Her”

Tidak ada yang menjawab. Lalu meledaklah tawa para peserta dan undangan semua.

Beberapa tenaga Tata Usaha naik ke atas pentas dengan membawa tumpukan amplop yang berisi surat kelulusan. Pembagian undangan langsung dilakukan di atas pentas dan diterima oleh para wali murid sementara anak – anak mereka sendiri menjadi tegang dan takut kepada orang tua mereka sendiri jika sampai dinyatakan tidak lulus.

Satu nama, dua nama hingga sudah lebih dari setengah undangan yang diberikan namun nama Seto belum juga mendapat giliran dipanggil. Sementara suasana sudah mengharu biru. Ada yang berteriak-teriak gembira dan ada pula yang menangis. Keadaan ini semakin membuat Seto kian tertekan. Di sampingnya duduk Kartika yang juga tak kalah tegangnya.

“Nah…..Sampailah kita pada pengumuman Siapa yang menjadi Tiga Besar dan Juara Umum sekolah kita.”

“Apa semuanya sudah siap mendengarkan” teriak Wakakesiswaan.

“Siap ! ! ! ”dibalas teriakan siswa dengan kompak dan tepuk tangan.

Untuk kehormatan yang membacakan berita bahagia ini sekaligus memberikan bingkisan terimakasih sekolah diminta Kepada Dina Pendidikan dan didampingi kepada Sekolah untuk memberikan bingkisan. Kedua pejabat tersebut segera naik ke atas pentas seni yang disambut tepuk tangan meriah.

“Baiklah… point terbaik tiga jatuh kepada Kartika. Kelas 3A IPA”berita pengumuman itu disambut tepuk tangan  meriah.

Bapak melihat gadis itu meninggalkan Seto seorang diri setelah memberikan ucapan selamat. Terlihat ia melambai sebagai tanda kegembiraan disamping orang tuanya. Terlihat Orang tua Kartika demikian berwibawa dan berpenampilan seperti pejabat. Menyaksikan itu, bapak memandangi pakaian yang dikenakannya.

“Untuk Juara terbaik dua…….diperolah oleh ….Reonaldi Kelas 3 IPS 1” kembali tepuk tangan menggemuruh.

Detik-detik penentuan pun tiba….

“Untuk juara terbaik atau juara umum sekolah jatuh kepada…..SETO….”ujar Waka Kesiswaan.

Seto pun terkejut. Tak kalah terkejutnya Pak Kartijo serasa mendapat serangan jantung mendengar nama anaknya disebut sebagai pemegang juara umum. Rasa haru bagai meledak dalam dadanya. Sebaris air bening membasa di pelopak matanya. Tak sadar dirinya langsung bersujud syukur dan berdoa sesaat.

Terlihat Seto menuju ke atas Pentas Seni dengan tersenyum bangga.. Iringan tepuk tangan dan ucapan selamat terus diberikan kepadanya.

Di atas pentas Seto langsung menyalami Kepada Dinas dan Kepala sekolah serta wakakesiswaan yang membawa acara utama.

“Selamat untuk Seto. Dan untuk bingkisan sekolah yang berhak menerima adalah orang tua dari Seto. Kepada Bapak atau Ibu dimohon naik kepentas.”pinta Waka Kesiswaan.

Pak Kartijo yang masih terharu dan terhanyut dalam doanya sehingga sulit mengontrol diri. Keterlambatan yang fatal . . . .ketika terdengar sebuah suara yang tegas

“Mohon maaf. Orang tua saya tidak bisa hadir disini. Mohon diwakilkan kepada Papa Kartika yang lebih pantas” ucap Seto sambil tersenyum melihat Kartika.

Bagai petir disiang hari. Pak Kartijo mendengar kalimat itu. Tubuhnya langsung jatuh terduduk lesuh di bangku. Rasa bangga dan haru biru berubah menjadi pilu dan perih yang mengiris. Disela tepuk tangan meriah pembagian hadiah, pak Kartijo menyusup dan pulang. Pupus sudah harapan dan impian hatinya. Bersama hancurnya hati seorang ayah ketika si anak membuang muka ketika menatap kearahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: