Kesadaran Ketuhanan dan Penaklukan Egoisme

Penulis: Oleh: Basri, MA Dosen Tetap Sosiologi Agama STAIN SAS Bangka Belitung
Secara psikologis, manusia,akan lebih sehat bila ia melakukan kebaikan, berjalan di atas fitrahnya yaitu kecenderungan (hanif) kepada kejujuran, kebaikan dan kesucian.

DI antara semua ibadah dalam Islam, puasa dapat dikatakan sebagai sebuah ibadah wajib yang memiliki tahapan yang mungkin paling banyak meninggalkan bekas mendalam dalam rentang perjalanan hidup seorang Muslim.
Aktivitas ibadah seperti tarawih, membaca Al Quran, sahur, berbuka sampai kegiatan menjalankan puasa itu sendiri diyakini memberi kesan dan pesan yang amat mendalam mulai dari masa kanak-kanak sampai usia dewasanya.
Belum lagi indikasi lain yang dapat dianggap sebagai pernik yang menambah semaraknya aktivitas berpuasa di bulan Ramadhan seperti semakin intensnya program dan aktivitas masjid, menjamurnya pasar Ramadhan, dan meriahnya berbagai kegiatan dakwah. Semua hal tersebut, mengutip pernyataan Sang Begawan dan Guru Bangsa kita, almarhum Nurcholish Madjid, menandakan bahwa ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang muslim sekaligus menjadi sarana pendidikannya di waktu kecil  sampai seumur hidupnya.

Kesan dan pesan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari pola pendidikan personal dan seumur hidup yang ada dalam ajaran Islam disamping bentuk-bentuk pendidikan lain di luar tuntunan berpuasa. Namun secara intrinsik, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, karena hanya orang yang berpuasa dan Tuhanlah yang tahu apa dan bagaimana seseorang menjalankan puasanya. Dengan demikian, berpuasa berkaitan erat dengan pembuktian keikhlasan dan ketulusan pribadi seseorang Muslim. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti sholat, zakat, apalagi haji, puasa tidak memerlukan penyertaan orang lain baik untuk alasan persyaratan maupun kemanfaatannya. Sekali lagi, hanya diri pribadi dan Tuhanlah yang mengetahui kualitas dan kuantitas puasa; apakah seseorang benar-benar sedang berpuasa, sudah berbuka atau tidak berpuasa sama sekali.

Sejalan dengan pernyataan di atas, esensi berpuasa menempatkan seorang muslim dalam latihan dan ujian kesabaran, kesadaran, dan pendewasaan diri. Sejumlah perilaku yang biasa, yang boleh, bahkan halal dilakukan di luar bulan ramadhan seperti makan, minum, berhubungan dengan pasangan yang sah, dalam waktu satu bulan diatur dan tidak diperbolehkan selama berpuasa sampai tiba waktu berbuka. Bentuk pengaturan dan  pelarangan ini memerlukan komitmen kesadaran dan keikhlasan yang luar biasa besar agar dapat dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Sebab tidak mudah untuk merubah perilaku yang telah menjadi kebiasaan dan sumber kenikmatan hidup jasmani yang selama ini sudah mendarah daging, ditambah segudang alasan lain yang mungkin dikemukakan untuk membenarkan agar tidak berpuasa. Dalam redaksi lain, puasa pada hakikatnya adalah bentuk keikhlasan, pengawasan diri dan penghayatan nyata akan makna ke-Mahahadir-an (omnipresence) Ilahi dalam kehidupan pribadi seorang hamba.

Dalam berpuasa, seorang Muslim dituntut untuk selalu menimbang, mewaspadai, dan mengendalikan setiap pikiran dan tindak tanduknya agar tidak menjadi penyebab puasanya menjadi batal. Setiap Muslim dalam berpuasa diingatkan kembali bahwa setiap getaran pikiran, tarikan nafas dan gerak fisik selalu berada di bawah penglihatan dan pantauan Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Menyaksikan.  Sampai sejauh itu, keengganan tanpa alasan yang jelas dan batalnya puasa dapat dilihat sebagai kemenangan egoisme yang merupakan lemahnya komitmen kesadaran dan keikhlasan diri, serta salah satu bentuk pengabaian atas kehadiran Ilahi dalam kehidupan seorang Muslim yang kuat, mampu dan dewasa untuk berpuasa.

Pada titik ini, cukup representatif bila kita menyimak signifikansi puasa dari Ibnu Qayyimu al-Jawzi, seorang ulama dan pemikir Islam modern dari Mesir: Berpuasa adalah sebagian dari sepenting-penting syari (manifestasi religiusitas) dan seagung-agung qurbah (amalan mendekatkan diri kepada Tuhan).

Bagaimana tidak, padahal puasa itu adalah rahasia seorang hamba dan Tuhannya, yang tidak dimasuki sikap pamrih. Seseorang yang berpuasa menahan dirinya dari syahwatnya dan kesenangannya sebulan penuh, yang di balik itu ia tidak mengharapkan apapun selain Wajah Allah Taala. Tidak ada pengawasan atas dirinya selain Dia. Maka hamba itu mengetahui bahwa Allah mengawasinya baik dalam kerahasiaan (privacy) maupun keterbukaannya (publicity). Maka ia pun merasa malu kepada Tuhan Yang Maha Agung itu untuk melanggar larangan-larangannya, dengan mengakui dosa, kezaliman, dan pelanggaran larangan (yang pernah ia lakukan). Ia merasa malu jika nampak oleh-Nya, bahwa ia mengenakan baju kecurangan, penipuan, dan kebohongan.

Karena itu, ia tidak berpura-pura, tidak mencari muka, dan tidak pula bersikap mendua (munafik). Bahkan ia pun tidak menyembunyikan persaksian kebenaran karena takut kekuasaan seorang pemimpin atau pembesar.
Dengan mencermati pernyataan di atas,  tampaklah bahwa panggilan cinta dari Ilahi kepada orang yang beriman agar berpuasa pada akhirnya membuahkan ketakwaan yang merupakan hakikat inheren ketakwaan itu sendiri.

Jika mengikuti analisisi Peter L. Berger, seorang sosiolog kontemporer dalam karyanya The Sacred Canopy, inilah kiranya yang dinamakan proses internalisasi dalam keberagamaan seseorang. Dalam proses internalisasi,  puasa dapat dianggap sebagai sebuah proses yang akan membawa seorang muslim untuk melakukan peresapan kembali akan keMahahadiran Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam struktur kesadaran subyektif, yaitu kemanusiaan sejati yang selalu bertanggungjawab dan selalu merasa berada dalam pengawasan-Nya .

Dengan demikian melalui proses internalisasi, puasa akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab, pribadi yang terbebas dari egoisme yang akan membawa pengaruh buruk, baik bagi diri pribadi maupun orang lain. Sebab dalam paradigma sufisme Islam, egoisme adalah penyakit hati dan tirai baja yang menghalangi manusia untuk melihat Tuhan; ego adalah rumah sempit yang harus ditinggalkan bila manusia ingin mendekati Dia. Padahal dalam perspektif psikologi Islam, manusia lebih mudah berbuat baik daripada berbuat jahat. Secara psikologis, manusia,akan lebih sehat bila ia melakukan kebaikan, berjalan di atas fitrahnya yaitu kecenderungan (hanif) kepada kejujuran, kebaikan dan kesucian.

Karenanya, kecurangan, penipuan, kebohongan, dan segala bentuk kesewenangan bermula dari pribadi yang melalaikan dan melupakan keMahahadiran Ilahi serta mengabaikan kontrol atau kendali terhadap pikiran dan perilaku yang menyimpang. Akhirnya dengan memakai barometer di atas, ijinkan saya mengajak Anda untuk menjalankan puasa dari awal dan sampai akhir waktunya nanti dengan ikhlas, sabar, dan sungguh-sungguh. Mudah-mudahan kita  mampu meresapi kehadiran dan kedekatan Ilahi dalam hidup ini, untuk selanjutnya memperkecil dan mengalahkan egoisme sehingga kita mampu merengkuh kesejatian kemanusiaan kita serta menjadi semakin sehat, baik jasmani maupun rohani.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: