Konflik

oleh: Agus Ismunarno

PERNYATAAN yang dikutip Tempo itu disampaikan Komjen Susno Duaji tanpa konfirmasi lebih lanjut; siapa yang dimaksud buaya dan siapa cicaknya. Saya hanya bilang begitu. Saya tidak menyebut lawannya siapa, kata Susno.

Publik membaca ada drama konflik sesudah polisi memanggil petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk pemeriksaan dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang. Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Febridiansyah seperti dikutip detik.com menyarankan; KPK harus prioritaskan kasus Century. KPK harus duluan, tetapi buktinya harus kuat. Dengan bukti yang kuat, KPK juga bisa memanggil Susno Duaji yang diduga terlibat.

Konflik yang tidak termenej dengan baik tentu akan merugikan bangsa dan kita semua. Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman menandaskan, kalau Polri, Kejaksaan dan KPK bertengkar terus, koruptor akan senang.

Drama konflik itu menjadi perhatian publik. Bentuk konflik lain yang di masa depan akan merugikan bangsa ini adalah ruh reformasi khususnya pemberantasan korupsi versus RUU Tipikor yang dikhawatirkan mereduksi kewenangan KPK.

Sejumlah konflik lain bisa kita catat akhir-akhir ini. Publik tahu betul konflik berkepanjangan antara KPU versus Peserta Pemilu yang berujung usulan penggantian pengurus KPU yang dinilai tidak becus. Di ranah hukum, Insan Pers dan pejuang hak asasi menyatakan konflik dengan pemerintah dan DPR sekiranya RUU Rahasia Negara disahkan karena akan memberangus kebebasan pers yang mewakili hak publik untuk tahu.

Konflik Indonesia versus Malaysia  soal klaim kekayaan seni budaya, konflik oknum aparat yang berbisnis timah versus pengusaha timah, konflik KPU yang memberi kemewahan pelantikan DPR hingga 11 Miliar versus keinginan publik agar dilantik secara sederhana, konflik di tempat kerja, konflik di keluarga kita hingga konflik Anang versus Krisdayanti.

Bagi M. Stern konflik bisa dipandang sebagai jalan buntu: Jalan buntu merupakan motivasi terkuat bagi seseeorang untuk mencari jalan lain. Orang yang baik akan meninggalkan kapal yang tenggelam
dan cuma kayu saja yang tinggal.
***

KONFLIK, ketegangan, perselisihan, bahkan pertengkaran dapat terjadi di mana saja, kapan saja, mengenai apa saja dan menyangkut siapa saja. Konflik muncul manakala orang atau sekelompok orang dalam atau antar institusi berselisih paham dan berbenturan kepentingan dalam hidup,kerja dan perkembangan pribadi mereka sehingga perilaku mereka berlawanan, menghalangi dan merugikan usaha mereka untuk mencapai tujuan masing-masing.

Orang atau orang-orang itu berbeda persepsi dan kepentingan tentang sesuatu, entah orang, perkara, peristiwa atau persoalan tertentu. Karena perbedaan pandangan dan kepentingan tiu timbul juga perbedaan perilaku yang tidak saling mendukung, bahkan saling menghalangi dan merugikan, kata AM Hardjana dalam buku Inspirasi Kerja bagi Eksekutif Muda.

Dalam buku Democracy and Deep-Roteed Conflict: Options for Negotiators, Peter Harris dan Ben Reilly mengajak kita melihat dengan lensa analisis segitiga konflik. Salah satu cara yang paling sederhana untuk memandang konflik adalah dengan membayangkannya sebagai sebuah segitiga dengan tiga titik – keadaan, sikap dan tingkah laku – yang mana pun bisa menciptakan konflik.

Manajemen konflik yang arif harus mampu memandang kecenderungan konflik yang mengalami eskalasi dan deeskalasi dan kemana ia menuju dengan urutan; tahap diskusi, polarisasi, segregasi dan destruksi. Dengan mengenali spiral eskalasi diharapkan tercipta kesepakatan antara semua pihak yang terlibaat dan hasil  bersama yang menyentuh semua elemen, kebutuhan dan kepentingan bersama.

Pendekatan adversarial melihat konflik sebagai kita lawan mereka kalah atau menang, semua atau tidak sama sekali. Sedang pendekatan reflektif melihat ke dalam dan merefleksikan kepedihan dan kesakitan yang telah ditimbulkan oleh konflik dan mempertimbangkan hal terbaik untuk mencapai tujuan yang sebenarnya. Pendekatan integratif lebih melihat kepada baik diri sendiri maupun kebutuhan untuk memahami pandangan lawan.

Konflik akan terus berada di sekitar kita. Keheranan bahwa konflik terjadi bisa melemahkan penanganan kita. Sikap realistis mengatakan, konflik itu wajar terjadi dan dapat ditemukan sebab-sebabnya serta dapat diatasi, bahkan dapat pula didayagunakan untuk kemajuan keluarga, institusi atau bangsa kita.

Konflik bisa pula dipandang sebagai gejala gunung es yang bisa membawa kita kepada realitas yang sesungguhnya dan mengatasinya dengan sistem komunikasi yang lebih baik. Dengan cara yang tepat dan smart penyelesaian konflik justru akan memperkokoh mereka yang semula berbeda pendapat asalkan komunikasi yang digunakan adalah komunikasi dengan hati.

Komunikasi itu seperti nomor telepon.
Jika Anda menghapus satu angka saja,
yang hanya sepuluh persen dari keseluruhan nomor,
panggilan Anda tidak berhasil.
Jika Anda menekan kode daerah
pada akhir angka karena baru teringat,
panggilan Anda tidak akan berhasil.

Anda memerlukan semua angka itu
agar bisa berhasil,
dan Anda membutuhkan semuanya itu
sesuai dengan urutan yang tepat
kata Dr Rick Brinkman Dr Rick Kirschner dalam buku Dealing with Difficult People.

Seorang optimis akan memandang bahwa konflik adalah salah satu dari faktor positif yang paling kuat menuju perubahan dalam suatu komunitas. Tanpa konflik kita akan tinggal diam. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: