Makna Mudik Telah Bergeser

Oleh: Cucuk Suparno

DALAM masyarakat Indonesia, Idul Fitri identik dengan mudik atau pulang ke kampung halaman untuk menemui orang tua dan kerabat setelah lama merantau. Tradisi mudik ternyata menjadi fenomena sosial-kultural yang unik. Mudik tidak hanya berefek sosial dan ekonomi, tetapi juga kultural.

Tidak ada catatan jelas, sejak kapan perilaku mudik menjadi tradisi tahunan di negeri ini. Hanya dalam ajaran Islam diisyaratkan bahwa kurang afdol jika setelah puasa sebulan penuh lantas ber-Idul Fitri tanpa mengunjungi orang tua dan kerabat, meskipun jaraknya jauh. Isyarat tersebut memunculkan perilaku saling berkunjung dalam rangka mempererat tali silaturahmi.

Namun, seiring perkembangan zaman, para pemudik tidak sekadar “saling mengunjungi kerabat.” Terdapat dampak lanjutan yang pengaruhnya lebih besar dalam masyarakat. Yakni, dampak kultural yang melingkupi tradisi mudik tersebut. Bias kultural ini membuat tradisi mudik memunculkan “persoalan” tersendiri.

Kenyataan ini membuat mudik menjadi tidak “sederhana” lagi. Mudik tidak lagi menjadi urusan individu umat Islam. Namun, mudik telah menjadi urusan bersama, aparat dan pengusaha jasa angkutan. Pendeknya, mudik telah menjadi urusan negara! Ini karena di waktu yang sama, ratusan ribu orang bepergian ke tempat yang -nyaris- sama, sementara angkutan dan daya tampung jalan sangat terbatas. Apa yang terjadi?

Pesta Kaum Urban

Mudik adalah pesta migrasi kaum urban. Diakui atau tidak, dikotomi kaum pedesaan dan kaum urban (perkotaan) masih lekat dalam mindset masyarakat Indonesia. Sejak negeri ini berdiri, pusat pemerintahan di suatu wilayah selalu menjadi pusat ekonomi, pendidikan, dan segala aktivitas sosial-politik yang menjadi magnet menggiurkan yang lazim disebut kota. Di sisi lain, pemerataan semu pembangunan nasional menimbulkan kesenjangan sosial-ekonomi antara desa dan kota.

Akibatnya, kota begitu menarik. Kota begitu menjanjikan. Kota juga mampu menyeret siapa pun -dari desa- untuk mewujudkan mimpinya. Apalagi, banyak contoh orang sukses hidup di kota. Tak ayal lagi, gelombang besar-besaran hijrah meninggalkan desa pun terjadi. Ribuan orang -kebanyakan bermodal nekat- bergerak mengais rezeki di kota. Mereka bekerja apa saja. Kenyataan ini menimbulkan problem sosial sangat kompleks.

Para pendatang yang memadati area perkotaan tersebut adalah kaum urban. Yakni, kaum pendatang yang memadati kota-kota besar dan bekerja di sektor informal. Jika keberuntungan berpihak, mereka akan memperoleh pekerjaan layak. Namun, tak jarang kaum urban tidak memiliki pekerjaan jelas dan hidup nomaden. Kota pun semakin padat dan sesak oleh kaum urban ini.

Kembali ke pokok persoalan bahwa mudik adalah perilaku kaum urban untuk kembali “menyambangi” kerabat di daerah asal yang lama ditinggalkan. Pada titik inilah transformasi kultural terjadi. Saya gunakan istilah “transformasi” karena tidak menemukan padanan makna yang tepat untuk mewakili kenyataan di balik fenomena mudik. Transformasi berarti perpindahan sebuah pola pikir, perilaku, dan performa (penampilan) sosial akibat proses akulturasi.

Dalam konteks mudik, transformasi kultural terlihat dari “penampilan” para pemudik. Pola budaya perkotaan mendominasi perilaku mereka. Coba cermati, ketika Idul Fitri nanti, suasana damai pedesaan seolah berubah menjadi riuh “atribut perkotaan”. Di jalanan desa berjajar mobil bagus, serta berseliweran orang-orang “asing” dengan logat dan dandanan ala kota. Itulah cermin bahwa kota telah mampu mengubah segalanya. Dalam mainframe “kaum urban”, ukuran kesuksesan adalah banyaknya materi yang mampu diusung dan diperlihatkan ketika mudik.

Jadi, mudik adalah sebuah pesta. Pesta kaum urban merayakan kesuksesan. Esensi silaturahmi tak jarang tenggelam dalam euforia perilaku pamer. Mudik kultural pun terjadi, di mana kultur perkotaan -sebagai simbol kemewahan- diusung ke tanah asal kelahiran sebagai ruang unjuk kesuksesan.

Bias Kultural

Mudik pun telah mengalami distorsi makna. Sekaligus mudik memunculkan persoalan tersendiri bagi negara. Mengurus pemudik ditengarai menghabiskan anggaran cukup besar dan menyita perhatian ekstra. Ditambah lagi, bias kultural yang terjadi jauh lebih rumit. Penampakan kultur kota -sebagai simbol kesuksesan- tentu menarik kerabat lain di desa untuk mencoba peruntungan.

Rasa tertarik ini mengakibatkan pemudik tak jarang menggandeng rekan atau saudara sekampung jika kembali ke kota. Inilah masalah yang terjadi hampir setiap tahun. Efek kultural perilaku mudik menghadirkan problem besar bagi tata kehidupan kota.

Namun, tidak ada yang melarang pergi mudik. Perilaku serupa terjadi di Amerika Serikat ketika Thanksgiving Day, yakni seluruh kerabat diharapkan berkumpul di rumah orang tua atau kerabat tertua untuk ber-thanksgiving. Bedanya, di negeri Paman Sam perilaku tersebut itu tidak dibarengi dengan transformasi kultural dan pelakunya juga bukan kaum urban.

Di Indonesia mudik menghadirkan sensasi tersendiri. Karena itu, Lebaran tanpa mudik “bukan dikatakan” Lebaran yang sebenarnya. Sayangnya, saat ini, bagi sebagian orang, esensi mudik telah bergeser, bukan lagi aspek silaturahmi, melainkan didominasi aspek kultural dan cenderung sekadar ritual. Dengan mudik kelompok ini seolah ingin mengatakan; Saya sukses di kota! (*)

*). Cucuk Suparno SPd , Humas Lembaga Baca-Tulis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: