Memaknai Idulfitri, Menjadi Bangsawan Hati

Oleh: KARNITA

TAK ada seorang pun di muka bumi ini yang terhindar dari konflik dalam berinteraksi sosial, meski kadarnya sangat ringan. Terjadinya konflik merupakan suatu hal yang wajar. Itu merupakan bagian dari dinamika hidup sebagai konsekuensi dari suatu langkah maju yang ditempuhnya dalam kompetisi. Sebesar apa pun benturan konflik dalam pertandingan itu, jika kompetisi sudah usai maka usai pula konfliknya. Namun, rasa permusuhan akibat konflik hendaknya jangan terus berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Jangan sampai satu sama lain menghindar dan membuang muka.

Di sinilah arti penting momentum Idulfitri 1430 H yang seyogianya dijadikan kesempatan untuk berbagi maaf terhadap kekhilafan siapa saja, dosa-dosa siapa saja, dan kejahatan siapa saja. Setiap diri berusaha membersihkan hatinya dari penyakit mendendam pada sesamanya. Ia harus mewaspadai bahaya penyakit tersebut, menghindari penyebabnya, dan mencamkan dalam hatinya bahwa tidak ada kebencian yang berlebihan.

Kerap terjadi, orang yang dibenci pada suatu waktu mungkin akan menjadi kawan. Sebaliknya pula, orang yang dicintai akan menjadi orang paling dibenci. “Tak ada kawan abadi dan tak ada lawan yang abadi,” begitu kata sebagian orang. Selain itu, hendaknya diyakini pula, sejelek-jeleknya makhluk Allah SWT, apalagi manusia, tentu memiliki nilai kebaikannya.

Di dalam sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan orang-orang yang dicintai Allah, di antaranya adalah orang pemaaf.

Tak sekadar basa-basi

Berkenaan dengan ikhwal maaf dan memaafkan ini, Mills dalam Nugroho (2007) membedakan permintaan maaf yang tulus (genuine apology) dengan permintaan maaf yang palsu (phony apology). Permintaan maaf yang palsu hanya merupakan lip service, tidak diikuti ikhtiar sungguh-sungguh untuk mengubah makna, peran, tindakan historis, dan aneka dampaknya pada masa kini dan masa depan.

Dalam hadis Qudsi ditegaskan, Nabi Musa AS pernah mengajukan pertanyaan kepada Allah, siapa di antara hamba-hambanya yang lebih mulia menurut pandangan Allah. Allah menerangkannya, “Mereka adalah orang yang berhati mulia, berlapang dada, bersikap toleran terhadap musuh atau orang yang memusuhinya di saat ia berkuasa melakukan sekehendaknya.” (H.Q.R. Khairathi dari Abu Hurairah RA).

Sumardjo (2001) menunjukkan kisah dalam Mahabarata, yang menyimpan banyak kilau mutiara sifat pemaaf dari para pelakunya. Prabu Yudhistira misalnya, ketika ditanya istrinya, Drupadi, tentang sikapnya terhadap para Kurawa yang telah begitu jahat terhadapnya dan para Amarta. Dia tidak menaruh benci dan dendam. Dengan sangat mengagumkan dia menjawab, “Benarlah bahwa kasih sayang membinasakan yang satu dan menolong yang lain. Tapi amarah yang dipupuk menjadi sumber keruntuhan, dan amarah yang dikendalikan mendatangkan hasil yang besar. Amarah ialah kesia-siaan, meniadakan surga. Bagaimana jadinya bila dunia ini kalau yang pahit melahirkan kepahitan, kalau hinaan dibalas hinaan, kebencian dibalas kebencian. Memaafkan adalah pengorbanan. Memaafkan adalah adat istiadat kita. Memaafkan adalah penebus dosa kesucian. Memaafkan akan menjaga keutuhan dunia. Janganlah membujukku untuk tidak memaafkan, istriku. Memaafkan dan kelembutan adalah kebajikan orang yang arif.” Sungguh ucapan tersebut terasa segar bagai mata air pegunungan yang menyejukkan.

Sejatinya, memberi maaf itu menunjukkan kekuatan dan kemuliaan manusia. Pemberi maaf itu termasuk golongan bangsawan hati. Si pengampun atau pemberi maaf itu selalu berada di atas. Percayalah, dunia ini akan cepat hancur kalau resep dendam dan pembalasan kita pelihara. Hanya mereka yang benar-benar berjiwa besarlah yang dapat saling memaafkan. (Penulis, praktisi pendidikan)**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: