Mencermati Semarak Dakwah Ramadan

Oleh: Nurhidayat Muh Said

(Doktor Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Jakarta, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Makassar)

Aktivitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari Rasulullah saw. Dakwah dapat dilakukan oleh siapa saja dalam bentuk yang sangat sederhana.

Sejalan dengan perputaran masa dan pergantian waktu, perkembangan masyarakat yang semakin meningkat, tuntutan yang semakin beragam, membuat dakwah dituntut untuk dilakukan secara modern. Untuk itu diperlukan sekelompok orang yang secara terus-menerus mengkaji, meneliti dan meningkatkan aktivitas dakwah secara profesional.

Kondisi mad’u (jemaah) akan selalu berubah dan berkembang sesuai tantangan dan kebutuhan yang dihadapinya sejalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat. Kenyataan itu menuntut adanya perubahan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Dakwah harus senantiasa turut dalam penyesuaian strategi ke arah yang lebih baik untuk mencapai sasaran yang diinginkan.

Teks Alquransebagai rujukan utama materi dakwah sudah final dalam artian tidak akan pernah berubah, tetapi mengisyaratkan adanya multitafsir terhadap teks ayat Alquran sesuai kondisi dan realitas yang dihadapi setiap umat yang selalu berkembang.

Kenyataan itu selalu menantang untuk merumuskan strategi baru dalam menjawab setiap persoalan yang muncul di masyarakat. Persoalan dan tantangan tidak akan pernah final (al-nusus qad intahat wa al-waqa’i la tantahξ). Dai sebagai pilar pelopor perbaikan umat harus memiliki sikap kreatif dan inovatif dalam menghadapi setiap tantangan yang muncul di masyarakat.

Perubahan Sebuah Keniscayaan

Ketika dakwah dipahami sebagai transformasi sosial maka aktivitas dakwah harus bersentuhan dengan teori-teori perubahan sosial yang mengasumsikan terjadinya progress (kemajuan) dalam masyarakat. Gagasan tentang kemajuan muncul dari kesadaran manusia tentang diri sendiri dan alam sekitarnya. Dalam konteks ini, realitas aktivitas dakwah dihadapkan pada nilai-nilai kemajuan yang perlu direspons, diberikan nilai, diarahkan dan dikembangkan ke arah yang lebih berkualitas.

Pendekatan dakwah yang tepat sebagai jawaban terhadap perkembangan masyarakat menuju kepada modernitas itu adalah melakukan reaktualisasi terhadap pemahaman agama yang bersifat fungsional, bukan yang simbolistik formal.

Pemahaman agama yang bersifat fungsional merupakan upaya untuk menjadikan aspek simbolistik formal lebih efektif dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya dakwah perlu diarahkan pada sebuah usaha mengatur gerak operasional dari dimensi simbolistik formal untuk kebutuhan yang lebih mendesak dipecahkan demi kemaslahatan umat dewasa ini.

Dakwah secara makro senantiasa bersentuhan dengan realitas yang mengitarinya. Dalam perjalanan sejarah, perjumpaan Islam dengan realitas sosio-kultural terdapat dua kemungkinan. Pertama, dakwah Islam mampu memberikan pengaruh terhadap lingkungan sehingga terbentuknya realitas sosial yang baru.

Kedua, dakwah Islam terpengaruh oleh perubahan masyarakat dalam arti eksistensi corak dan arahnya. Ini berarti bahwa aktualitas dakwah ditentukan oleh sistem sosio-kultural. Jika kemungkinan kedua ini yang terjadi maka dakwah akan bersifat statis atau terdapat dinamika dengan kadar hampir tidak berarti bagi perubahan sosio-kultural.

Dakwah yang efektif membutuhkan pendekatan yang berubah sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat sasaran dakwah. Memahami kebutuhan mendasar dalam setiap bagian masyarakat tertentu merupakan suatu modal dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Metode dakwah yang diterapkan senantiasa berpijak pada kecenderungan masyarakat sebagai objek dakwah.

Metode dakwah bukanlah sesuatu yang membatu dan beku, tetapi metode dakwah senantiasa menerima perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan intelektualitas masyarakat.
Di samping menggunakan metode yang sudah ada juga para dai wajib menggunakan metode baru sejalan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi sehingga dapat memberikan solusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi masyarakat. Aktivitas dakwah harus senantiasa memanfaatkan kemajuan sosial yang terjadi dalam kehidupan agar dakwah dapat muncul dengan berkepribadian di hadapan masyarakat modern.

Misi dan peran seorang dai, tidak jauh berbeda dengan misi dan peran seorang guru. Bagaimana sosok seorang guru dapat hidup dalam qalbu dan akal murid-muridnya, kemudian secara perlahan ia warnai qalbu dan akal mereka mengarah kepada sasaran dan tujuan yang diinginkan. Misi seorang dai, juga seperti misi seorang dokter.

Seorang dokter yang bertugas menyeleksi resep obat yang sesuai untuk pengobatan suatu penyakit pasiennya. Kesulitan yang dialami seorang dai dalam menyerukan dakwahnya, salah satu faktornya adalah pribadi dai sendiri. Seperti ungkapan faqiru asy-syai’ la yu’tihi (orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu itu pada orang lain).

Kegiatan dakwah baik sekarang maupun di masa mendatang akan terus mengalami proses diversifikasi. Hal itu disebabkan oleh mekarnya pluralisasi nilai, keragaman kebutuhan, serta semakin melebarnya kesenjangan sosial.

Memasuki abad XXI memang telah terjadi sindrom globalisasi yang seakan telah menciptakan tuntutan baru terhadap aktivitas dakwah, agar dapat berjalan seiring dengan kemajuan peradaban umat manusia. Jika tidak demikian, maka ajaran Islam akan sulit dilibatkan untuk menerangkan kemodernan dalam berbagai dimensi kehidupan umat manusia.

Dakwah Perlu Manajemen

Sudah bukan lagi waktunya dakwah dilakukan sambil lalu tanpa sebuah perencanaan yang matang, baik yang menyangkut materinya, tenaga pelaksananya, maupun metode yang digunakan. Agar dakwah berjalan efektif dan efisien dalam menjawab kebutuhan masyarakat maka sudah saatnya dibuat dan disusun stratifikasi sasaran dakwah, seperti tingkat usia, tingkat pendidikan dan pengetahuan, tingkat sosial ekonomi, lingkungan dan sebagainya.

Hal inilah yang dimaksud dengan peta dakwah yaitu gambaran yang utuh tentang keadaan atau kondisi yang dihadapi oleh obyek dakwah. Dari hasil identifikasi terhadap objek dakwah tersebut merupakan modal awal bagi dai untuk melangkah pada tahapan-tahapan dakwah berikutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: