Mudik

Kata orang saat seperti ini banyak orang berseloroh raga masih di Batam, nyawa sudah di kampung halaman. Lebaran memang sebentar lagi. Tak terasa bulan penuh berkah, Ramadan, akan segera meninggalkan kita. Pertanyaannya sudahkah Ramadan tahun ini kita manfaatkan dengan baik? Sudahkan kita beribadah dengan lebih tekun senyampang Allah melipatgandakan pahala di bulan Ramadan?
Khatib di setiap salat tarawih tak hentinya mengingatkan umat Muslim untuk lebih tekun beribadah. Membaca Alquran, bersedekah, silaturahim dan sebagainya. Kini Ramadan telah di ujung masa. Kesibukan orang beralih ke acara mudik. Sebuah acara silaturahim yang menjadi ciri khas Indonesia. Dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak tradisi mudik di Indonesia menjadi tradisi sangat menarik.
Kaum migran menjadikan acara mudik sebagai sebuah kewajiban. Andai saja bisa cuti saat lebaran pastilah lebih banyak orang yang akan mudik. Tetapi ada beberapa lembaga yang tidak mengizinkan pegawainya mudik saat lebaran. Polisi misalnya. Pemko Batam pun mengeluarkan ketentuan tidak boleh izin cuti seminggu sebelum dan seminggu sesudah Lebaran.
Bukan hanya setiap keluarga yang ”sibuk” dengan acara mudik. Pebisnis pun ikut ”ribut”. Mudik adalah peluang untuk menambah neraca penjualan. Yah, mudik membuat energi ekonomi bergerak. Setiap pemudik akan membelanjakan uangnya di kampung halaman. Setahun sekali memang, tapi jumlahnya berlipat.
Mudik menjadi sesuatu yang penting tatkala kita setahun di perantauan. Ada yang berpendapatan mudik sama dengan menghabiskan tabungan. Memang mudik tidak murah. Apalagi dilakukan saat lebaran, harga tiket perjalanan melambung tinggi. Akan tetapi mudik tetap harus dilakukan. Mudik bukan sakadar masalah uang, mudik adalah sebuah kesempatan. Kesempatan menjalin silaturahmi dengan anggota keluarga lain yang telah lama tak dijumpai.
Sebuah kesempatan untuk bertemu orang tua. Magnet mudik paling besar adalah bertemu orang tua. Sejauh apapun untuk bertemu orang tua akan dilakukan. Ini masalah momentum, selagi orang tua masih sehat. Saat orang tua telah berpulang, energi mudik akan habis dengan sendirinya.
Dengan mudik akan terjalin hubungan keluarga antarsaudara. Jarak tinggal yang jauh tentu menyulitkan untuk saling mengenal dalam acara mudik semua keluarga berkumpul, saat itulah semua orang bisa saling tahu dan mengenal. Jadi tak ada akan orang yang sanggup membendung semangat untuk mudik meski dari hitungan tabungan bisa jadi dinilai boros.
Selamat mudik saudara semua, tapi jangan lupa mengoptimalkan ibadah di sisa Ramadan. Menyambung keinginan Pemko Batam, jangan ajak saudara ke Batam saat balik mendatang. Ingat, daya dukung Batam sangat terbatas. Air, perumahan, kesehatan, sekolah, dan sebagainya. Semua sangat terbatas, semakin banyak penduduk, semakin berat memenuhi semua kebutuhan itu. Sebarkan saja bagaimana meraih sukses di perantauan. Di manapun merantau, sukses bisa menjelang. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: