Rapat Para Perempuan

Rudy Prayala

Di tengah kesejukan angin senja di sebuah lapangan kecil,  dibawah rerimbun bambu, segerombolan perempuan sedang berembuk dengan khusyuk, tampak keseriusan mencuat dari wajah mereka masing-masing. Mereka adalah perempuan yang sekarang telah menjadi wanita, perempuan yang sebelumnya mereka sendiri anggap bijaksana, yang paling benar, dan yang cinta dan taat suami.

Sejak pagi mereka berkumpul di tempat tersebut, layaknya rapat para petinggi-petinggi negara, mereka pun demikian. Perempun yang sekarang telah menjadi wanita tersebut duduk membentuk lingkaran, merapatkan diri satu sama lain hingga tidak ada celah sedikitpun untuk orang lain ikut berembuk. Tak ada sedikitpun rasa lelah terpancar dari wajah mereka, segala pendapat maupun argumen yang mereka utarakan satu-persatu mereka ikuti dan tidak satupun yang terlewatkan atau terlupa. Benar-benar selayaknya rapat negara.

Pertama-tama, salah seorang dari mereka memandu pembukaan acara tersebut, dengan sambutan dari petuah diantara mareka yang intinya adalah musyarah kali itu haruslah diikuti dengan seksama, salam hormat pembukaan,dan pembukaan secara resmi perembukan tersebut.

Tak lupa mereka menyanyikan Hymne perempuan-perempuan serta Ikrar perempuan-perempuan yang mereka susun sebelumnya, acara itu memang telah mereka rancang sesempurna mungkin.

etelah semua itu selesai, barulah mereka masuk kepada acara inti yakni penyampaian segala keluhan, dan bagaimana cara penyelesaiannya. Tentunya haruslah dahulu dipimpin oleh moderarator, maka perempuan yang berambut agak keriting berdiri dan memandu berlangsungnya acara inti.

“Baiklah rekan-rekan sekalian…baiknya kita langsung saja menyampaikan keluhan kita masing-masing, karena kita sudah tahu bahwa tidak baik membuang-buang  waktu, memperlambat waktu, dan menunggu-nunggu waktu untuk kita yang terbuang oleh waktu. Maka saya persilahkan siapapun di antara kalian terlebih dahulu ingin berbicara. Oleh karena itu….”

“Tunggu dulu! saya tidak suka jika engkau yang memimpin acara inti ini, karena engkau adalah orang yang juga tersiksa oleh suami” wanita gemuk berkata.

“Ya benar…”

“Benar..”

“Benar…” yang lain menimpali.

“Kalau begitu bagaimana kalau ibu Hajah saja?” lanjut wanita gemuk tersebut.

“Jangan! Kita ini rapat perempuan, bukan rapat keagamaan.” Wanita berkaca mata menyanggah.

“Ya sudah…biar saya saja yang memimpin” yang tertua dari mereka menawarkan diri.

“Setuju…”

“Ya, setuju..”

“Tapi saya tidak setuju…! Saya mau bu RT  saja, dia adalah yang tertua disini.”

“Tapi bu RT  baru saja di tinggal suaminya.!”

“Apa salahnya?”

”Jelas salah..!”

“Bagaimana bisa”

“Jelas bisa, seseorang yang baru saja di cerai suaminya, tentu tidak bisa memimpin rapat ini sebab ia belum sepenuhnya di cerai suami”

“Tapi kalau tak salah, engkau yang sering disakiti suami, bagaimana tidak…setiap hari engkau berkumpul dengan laki-laki muda yang umurnya separuh dari umurmu. Jadi wajar kalau suamimu marah-marah dan memukuli kau setiap hari.”

“Dan kau, kau juga suka selingkuh,..”

“Jadi kau mau apa?”

“Aku tetap mau bu Hajah yang memimpin, ..”

“Tidak bisa!”

“Bisa…!”

“Tidak!”

“Bisa!”

Wanita berkaca mata berdiri dari duduknya terus menampar wajah wanita bertubuh kurus itu. Tamparan yang begitu keras hingga membuat wanita kurus menitikkan air mata tanpa membalas tamparan itu.

“Subhanallah….nyebut bu…istighfar..” bu Hajah menasehati.

“Bu hajah diam saja, ini tidak ada urusannya sama sekali dengan ibu.

“Tapi bu..”

“Diam…..!” tamparan keras juga mendarat di pipi bu Hajah. Tapi ia tidak menangis, hanya duduk kembali dan memperbanyak zikir.

Yang lainnya hanya bisa terdiam. Tanpa meminta maaf, wanita berkaca mata duduk kembali, semua bungkam. Wanita berkaca mata tersenyum, sekarang ia merasa ia yang pantas memimpin acara inti. Sementara yang lain terdiam, tanpa dipersilahkan wanita berkaca mata langsung berbicara. Seakan-akan ialah yang pantas memimpin, ia berdiri.

Tidak ada satupun yang ingin dulu berbicara, semua bungkam…seperti ada keraguan yang datang.

Usai beberapa saat. Wanita berkaca mata berkata

“Siapa yang tidak senang kepada saya? Siapa !”

Mereka tetap diam.

Wajah-wajah yang semula bahagia kini berubah menjadi kecewa. Acara inti berlangsung tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka mengharapkan acara yang telah disiapkan dapat sempurna, tapi malah wanita berkaca mata mengambil alih kekuasaan yang seharusnya adalah kekuasaan bersama. Memang diantara yang lain, wanita berkaca mata adalah wanita yang terkenal keras dan sering memukuli suami, Seperti sekarang tak ada yang berani berbicara.  Mereka membiarkan wanita berkaca mata menjadi penguasa sementara.

“Baiklah…jika diam,  berati setuju.”

“Sepertinya jika menunggu-nunggu setiap dari kita berbicara, maka tidak akan ada habisnya, sebaiknya kita mulai dengan siapa yang ingin bicara, maka langsung saja bicara, siapa yang diam saja, maka itu adalah kesalahan dari yang ingin diam saja.”

Kini, mereka semua tampak pasrah terhadap apapun yang akan terjadi. Wanita berkaca mata seperti singa yang mengaum galak dimata mereka semua.

Dengan terpaksa acara inti di pimpin oleh wanita berkacamata. Semua peserta rapat berkumpul membentuk lingkaran dengan posisi merapatkan diri satu sama lain, agar tak ada yang mendengar. Acara inti dimulai, mereka berbicara dengan suara setengah berbisik, satu-persatu dari mereka ingin jika masalahnya dapat terselesaikan. Mereka membentuk musyawarah yang begitu khusyu’ dengan permasalahan inti adalah keadaan suami yang memuakkan.

Setelah lama berembuk dan mengungkapkan keluhan satu sama lain, akhirnya mereka dapat mengambil kesimpulan, kali ini mereka mengizinkan perempuan berambut keriting untuk menyimpulkan permasalahan setiap dari mereka secara umum.

“Baiklah rekan-rekan sekalian, kita telah mendengar berbagai keluhan dari masing-masing. Yakni bu Hajah mempermasalahkan kalau suaminya terlalu sibuk dengan dakwahnya, hingga beliau tak ada waktu untuk menafkahinya. Wanita gemuk mempermasalahkan suaminya itu terlalu lembut dan lembek padahal ia tak menyukai hal itu. Si Anu suka selingkuh dan mempermasalahkan tak ingin di cerai suaminya. Dan berbagai keluhan lainnya.

“Jadi rekan-rekan sekalian…maka sepakatlah kita untuk melaknat suami kita masing-masing, sebab suami adalah orang yang sombong dan suka berkuasa sendiri, mengambil keputusan sendiri, main hakim sendiri…”

“Setuju…”

“Ya,..setuju…!”

“Bagus..!”
“Yaa…sepakat..!’

Mereka tertawa.

“Baiklah rekan-ekan sekalian, mari kita ungkapkan apa saja yang akan kita lakukan terhadap suami kita yang bodoh dan sebentar lagi akan kita campakkan itu…”

“Kalau saya, sepulang dari rapat ini, saya ingin mengunci segala yang patut dikunci dari rumah saya, agar suami saya yang tolol itu tak bisa pulang. Wanita kurus tersenyum.

“Aku…aku mau menyimpan segala surat menyurat tanah dan segala harta benda baik milikku, maupun milik suamiku..dan akan aku simpan dibawah ranjang tidurku” ucap bu Hajah dengan raut tidak sabar.

“Aku juga begitu, semua surat menyurat akan aku simpan di rumah ibuku.”

“Aku juga…aku akan meminta suamiku menandatangani surat warisannya dengan segera, agar aku bisa memilikinya dengan sah.

“Hahahahahaha…..”

Mereka semua tertawa dengan indahnya, seindah senyum suami-suami mereka di balik rerumpun pandan tidak jauh dari rapat tersebut dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: