Tommy dan Masa Depan Golkar

Oleh : Ahmad Nyarwi

MENJELANG Munas Golkar pada 4-7 Oktober di Pekanbaru, bursa kandidat ketua umum Partai Golkar memanas. Salah seorang kandidat ketua umum yang cukup kontroversial adalah Tommy Soeharto. Siapa yang tak mengenal Tommy Soeharto, putra mendiang mantan Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun di negeri ini. Label Soeharto ada pada nama Tommy merupakan nama yang masih melekat kuat di benak mayoritas rakyat Indonesia. Persepsi kontroversial memang masih melekat pada nama tersebut. Kendati demikian, popularitas nama itu tak diragukan lagi.

Dugaan saya, Tommy Soeharto kembali berkiprah ke dunia politik tidak semata-mata karena nama besar Soeharto. Namun, para tim sukses dan pendukung yang mengusung dia dalam bursa kandidat ketua umum Partai Golkar, saya yakin, menempatkan nama besar Soeharto sebagai daya pemikat publik.

Bagi mayoritas masyarakat pedesaan dan kelas menengah bawah di Indonesia, sihir Soeharto memang masih tersimpan dengan rapi di ingatan mereka. Kendatipun, bagi kalangan menengah atas di perkotaan, nama Soeharto merupakan mimpi buruk yang ikut menyumbang kehancuran negeri ini. Tapi, seberapa besarkan jumlah mereka? Jika dihitung dengan persentasi, jumlah itu barangkali tidak lebih dari 20 persen total penduduk Indonesia.

***

Ada yang menarik dari alasan Tommy Soeharto maju sebagai kandidat ketua umum Golkar ketika mendeklarasikan diri sebagai calon ketua umum Partai Golkar di Gedung Granadi, Kuningan, pada Kamis, 10 September 2009. Pertama, Tommy berjanji akan membawa Golkar lebih merakyat dan independen. Kedua, Tommy ingin membawa Golkar sebagai partai bukan partai koalisi pemerintah, namun harus menjadi partai yang mementingkan kepentingan rakyat. Ketiga, Tommy berjanji bakal menghidupkan kembali budaya konvensi menjaring sosok capres di internal Golkar.

Ditinjau dari visi yang disampaikan, sebenarnya Tommy belum menawarkan sesuatu yang baru. Isu-isu kerakyatan sempat menjadi isu utama Partai Golkar dalam Pemilu 2004 ketika bergabung dalam ”Koalisi Kerakyatan” untuk melawan ”Koalisi Kebangsaan”. Tentang budaya konvensi dalam menjaring capres juga pernah diterapkan Akbar Tandjung ketika memimpin Golkar pada kurun waktu 1999-2004. Hasilnya memang memberikan citra positif bagi Golkar dalam Pemilu 2004.

Derajat kemajuan Golkar sebenarnya adalah faktor yang cukup kompleks. Faktor internal, terkait dengan jejaring kelembagaan politik Golkar yang sering dan terus-menerus terfragmentasi karena pertimbangan pragmatisme kekuasaan. Fragmentasi itu juga membawa dampak pada arsitektur dan kekuatan mesin politik Golkar dalam pilkada, pemilu legislatif dan Pilpres 2004-2009.

Faktor eksternal terkait kondisi pemilih, regulasi pemilu, kompetitor politik, dan perkembangan isu-isu politik. Pascareformasi bagaimanapun terjadi perubahan perilaku pemilih yang cukup drastis. Demikian juga, regulasi pemilu yang menggeser pola pemilihan dari parpol ke kandidat dalam banyak hal sebenarnya memberikan dampak besar bagi Golkar. Menguatnya partai-partai baru, seperti Partai Demokrat dan partai papan menengah lainnya- menjadi tantangan serius bagi Golkar dalam memperebutkan hati pemilih. Belum lagi, kecepatan perkembangan isu yang menuntut pada positioning dan keberpihakan isu. Selama satu periode terakhir, Golkar tampak lambat merespons keempat hal tersebut.

***

Niat baik Tommy Soeharto untuk memajukan Partai Golkar bagaimanapun harus diapresiasi. Sebagai penerus generasi Soeharto, nama besar keluarga itu juga masih menjadi modal politik yang memikat di kalangan masyarakat pedesaan dan kelas menengah bawah. Namun, pembenahan Partai Golkar tidak cukup hanya dengan mengandalkan nama besar figur politik.

Sebagai partai tua, yang mewarisi mesin politik tua, untuk mendongkrak kekuatan Golkar butuh sebuah terobosan politik jitu. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan pintu masuk. Pertama, menata kelembagaan dan jejaring politik Partai Golkar. Hingga kini, kelembagaan dan jejaring politik Golkar sebenarnya lebih maju bila dibandingkan dengan partai papan menengah yang lain. Namun, absennya keseriusan penataan kelembagaan dan jejaring politik Golkar pada level pusat hingga daerah justru menjadikan lemah dan mudah porak-poranda ketika diterjang kepentingan pragmatis.

Bukan hanya itu, persaingan tidak sehat dan fragmentasi tanpa arah antarlembaga-lembaga politik di bawah payung Golkar sering bersifat kontraproduktif bagi kelembagaan Partai Golkar.

Kedua, menegaskan plaform politik Partai Golkar secara konsisten dan kontinu. Golkar harus menegaskan platform politiknya secara jelas, baik ketika ada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Sikap abu-abu dan pragmatisme Golkar yang selalu ingin mencapai jalur kekuasaan dengan berbagai cara dalam jangka panjang akan semakin mengaburkan platform politiknya. Itu tentu akan semakin menjadikan Golkar tercerabut dari akar ideologis, soliditas politik, dan memori politik para pendukungnya.

Ketiga, menentukan positioning yang jelas dan tepat kepada segmen pemilih. Dalam arena pertarungan politik modern, Golkar harus memiliki positioning yang jelas. Bandul kekuasaan yang bergerak di luar Partai Golkar mestinya tidak menjadikan Golkar mengorbankan positioning politiknya sehingga menjadikannya jauh dari ingatan pemilih. Posisining dibutuhkan agar publik/pemilih dapat secara jelas memandang posisi Golkar di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.

Ketiga hal di atas justru akan lebih penting bagi Golkar pada masa depan daripada terjebak dalam kontroversi figur. Euforia peran figur dalam kancah politik selama dua periode saat ini memang cukup penting. Namun, figur saja tidak cukup. Sebab, dalam format politik modern ke depan, kekuatan figur bagaimanapun tetap memiliki keterbatasan. Menurut saya, saat ini Golkar membutuhkan comandante, bukan sekadar figur. (*)

*). Ahmad Nyarwi , staf pengajar Program Pascasarjana Departemen Ilmu Komunikasi, Fisipol, UGM, Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: