Lebaran Lupa Makna?

Penulis: Oleh: Doi Ahada Wartawan Bangka Pos Group

Menjelang lebaran, biasaya kesibukan duniawi sangat terasa. Hampir setiap orang sepertinya berlomba mempercantik diri, padahal kesemuanya itu adalah asesoris dunia. Sangat sedikit sekali mereka yang mempercantik batiniah

ALHAMDULILLAH syukur kehadirat Ilahi Rabbi dan kemuliaan Ramadhan. Esok hari tanggal 20 September 2009 Insya Allah umat Islam akan menyambut Hari Raya Idil Fitri 1430 H. Tak sabar rasanya. Setelah sebulan berpuasa, tibalah saatnya kita merayakan kemenangan ini.

Segala persiapan seolah telah diatur untuk hari raya. Biasanya segala kelengkapan diri maupun kediaman sudah siap. Rumah siap menanti kedatangan para tamu. Kita bisa lihat seminggu menjelang lebaran ini, sepertinya sudah menjadi kebiasaan pasar-pasar diserbu pembeli. Terutama pasar-pasar tradisional yang menjual pakaian.

Semakin mendekati hari lebaran, pasar terasa sesak dijubeli pengunjung. Lonjakan dari hari ke hari begitu terasa. Tak pelak, kadang-kadang jalanan menjadi macet. Bahkan bisa dikatakan semerawut. Tidak peduli berhimpitan, tidak peduli banyak copet yang mengincar, tidak peduli kepanasan di tengah pikuknya pasar tradisional. Nekad…?? Yang penting kebutuhan lebaran dapat dibeli.

Lain lagi pasar swalayan yang sibuk membanting harga, diskon sampai 70%, tujuannya biar semua orang (yang mau dan mampu) membeli pakaian untuk persiapan lebaran.

Kalau melihat banyaknya pengunjung sepertinya mereka tidak pernah krisis sama sekali. Harga lada yang terjun bebas, karet yang kekurangan getah dan pasir timah yang sulit terjual sekarang ini seolah tidak menjadi hambatan bagi masyarakat Bangka Belitung untuk “menghamburkan” uang mereka belanja pernak-pernik lebaran. Pada hari biasa, terasa betul masyarakat kita mengirit pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi lain menjelang lebaran ini, jika perlu berhutang pun menjadi keharusan hanya untuk memperoleh uang guna belanja pernak-pernik lebaran.

Memang, sebagian masyarakat kita masih menggunakan momen lebaran untuk mengganti pakaian –terutama untuk anak-anak kecil yang masih memaknai lebaran dengan wajib berpakaian baru–, mengganti kendaraan baru maupun perabotan baru.

Bagi sebagian warga, lebaran juga dijadikan ‘peluang’ mengais rezeki. Dengan keterampilan membuat kue lebaran, mereka terlihat sibuk ‘mengejar’ deadline pesanan. Sehingga tak jarang, rumah disulap menjadi home industri.

Selain disibukan dengan berburu baju baru dan jajanan, sebagian warga disibukan untuk pulang kampung (mudik–red). Sedikitnya 20.000 warga Bangka Belitung tahun ini keluar Pulau Bangka untuk mudik ke daerah asal Pulau Jawa dan Sumatera.

Jadi tak heran jika pesawat terbang penuh sesak, kapal laut membludak. Bahkan satu bulan sebelumnya persiapan sudah di mulai para pemudik memboking atau membeli tiket.

Fenomena lebaran ini setiap tahun menunjukkan intensitas yang cukup tinggi. Kesibukan duniawi sangat terasa. Hampir setiap orang sepertinya berlomba mempercantik diri, rumah maupun kendaraan yang kesemuanya itu adalah asesoris dunia. Sangat sedikit sekali mereka yang mempercantik batiniah.

Lebaran seringkali identik dengan kebebasan dan kemeriahan. Padahal makna sesungguhnya dari lebaran adalah ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kekuatan dan rahmatnya kepada kita sehingga dapat melaksanakan puasa dan ibadah didalamnya sebulan penuh.

Terkandung harapan sejak takbir Idul Fitri berkumandang, segala perbuatan yang jelek yang dilarang agama segera ditinggalkan. Jadikan satu bulan ramadhan sebagai kawah candradimuka pengemblengan lahiriah dan batiniah. Sehingga ketika Idul Fitri datang, terbitlah cahaya keimanan dan ketaqwaan, sebagai bekal mengarungi dunia ini 11 bulan kemudian. Inilah lebaran yang sesungguhnya.

Makna Lebaran

Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati. Dimana hari ini Allah SWT akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Allah SWT juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak ya? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhamad SAW? Jawabnya, Allahu ‘alam, kita tak tahu sejatinya.

Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya. Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.

Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad Akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi harus memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.

Jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial.

Idul Fitri merupakan hari bahagia, hari bermaaf-maafan sesama Insan yang tidak luput dari salah dan silap yang pernah dilakukan. Pada hari yang mulia ini jangan ragu-ragu untuk mengakui salah silap yang mungkin pernah kita lakukan kepada sesama saudara kita muslim atau bukan, terutama kepada orang tua dan sanak saudara.

Mungkin ada perasaan hasad dengki, khianat, ataupun berbagai kejahatan dan penganiaayaan yang pernah kita lakukan, maka mohonkanlah maaf, Insya-Allah dihari baik dan bulan baik ini orang akan mudah memaafkannya. Dan terutama yang meminta maaf dan yang memaafkan Insya Allah akan mendapatkan berkah dan maghfirroh dari Allah SWT.

Sungguh banyak keutamaan yang terkandung dalam Idul Fitri, yang merupakan hari kemenangan bagi mereka yang menundukkan hawa nafsu yang biasanya susah dikendalikan, baik nafsu makan, minum, nafsu syahwat, dan berbagai nafsu lainnya. Idul Fitri hari bermaaf-maafan hari mempererat tali silaturrahim sesama keluarga dan masyarakat sekeliling sehingga seolah-olah kita lahir kembali dengan semangat baru, hidup baru sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. (*)

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: