LEBARAN

DJADJAT SUDRADJAT

MALAM Lebaran. Mungkin “bulan tak hanya di atas kuburan.” Mungkin di atas lautan dan gunung-gunung. Mungkin di atas Papua, Bandung, dan Jakarta. Saya tak tahu bagaimana Sitor Situmorang menulis sajak pendek, Malam Lebaran, beberapa puluh tahun lalu, yang isinya hanya sebuah klausa Bulan di atas kuburan. Sajak yang menghebohkan karena tak pernah habis mengundang tafsir. Mengundang perdebatan. Mengundang ahli sastra dan bahasa mengerahkan seluruh “energi” keilmuannya. Ah, Sitor….

Malam Lebaran (Idulfitri 1432 H) kali ini justru mengundang perdebatan dalam tataran praksis. Bukan dalam puisi. Perbedaan yang kita dendangkan sebagai keindahan menghadapi gugatan. Inilah Lebaran yang paling membuat banyak “penikmatnya” tak nyaman. Ada prasangka yang mungkin bisa tak dimunculkan, tapi sukar disembunyikan. Ia jadi rasa curiga yang laten akhirnya … Sesuatu yang ingin dijaga, tetapi tak semua kita punya bakat menjadi pemain watak. Ia bukan serupa lakmus yang larut ke dalam bumi melainkan jadi semacam hama.

Begitulah mulanya. Ketika sidang isbat digelar yang hasilnya larut malam di hari Senin itu. Keputusannya: Lebaran digelar hari kedua tanggal merah almanak. Banyak tempat ibadah yang bersiap takbiran jadi diurungkan, tapi juga tak menutupnya dengan salat tarawih berjamaah di surau atau masjid. Segera muncul respons beraneka ragam dari publik yang menunggu. Publik yang menggerutu. Kenapa kelambanan (pemerintah) terjadi untuk urusan sepenting ini?

Sidang larut malam, seolah sebuah isyarat Lebaran tak digelar esok pagi … Bagaimana dengan masyarakat Indonesia di bagian Tengah dan Timur yang berselisih waktu masing-masing satu dan dua jam dengan di Barat? Lagi-lagi, kecuali mereka yang memang berketetapan hati Lebaran di awal dan di akhir tanggal merah almanak, memang tak jadi soal. Atau ini memang sebuah afirmasi bahwa waktu Lebaran antara Muhammadiyah dan pemerintah memang berbeda. Tapi, soalnya adalah, bagaimana dengan publik yang menunggu sidang isbat sedangkan dari aspek persiapan sesungguhnya berkeyakinan seperti yang sudah-sudah: Lebaran umumnya ditetapkan hari pertama tanggal merah almanak.

Di lingkungan warga RT kami di sebuah wilayah Jakarta Barat, hanya tiga keluarga yang salat id di hari pertama. Ada perasaan canggung dengan para tetangga dan warga. Dari ekspresi dan bahasa mata mereka seolah bertanya kenapa kami berbeda? Lagi-lagi, dalam kehidupan nyata, sebuah asumsi atau teori, memang kerap tak “seindah warna aslinya”. Meskipun kami terlebih dahulu Lebaran, kami tetap tak mau demonstratif makan minum secara terbuka. Karena masih banyak yang puasa. Belakangan kami banyak tahu, sesungguhnya banyak pula warga yang salat id sesuai dengan keputusan pemerintah, tetapi di hari itu sudah tak berpuasa…

Ini semacam “jalan” tengah menghadapi dua Lebaran yang berbeda hari. KAMI salat id. Di sebuah lapangan yang hijau meskipun musim kemarau. Kendaraan roda empat para jemaah diatur parkir mengelilingi lokasi. Secara tidak sengaja di lapangan yang hanya punya satu pintu masuk/keluar itu, deretan kendaraan yang berlapis-lapis hingga pintu masuk, serupa benteng yang menjaga para jemaahnya. Seolah “musuh” kapan saja siap menyerang.

Khotib yang lebih banyak menyelipkan bahasa Jawa mengawali khotbahnya dengan mengutip Alquran, yang menciptakan manusia bersuku-suku (berbangsa-bangsa) untuk saling berjodoh (silaturahmi). Bahwa Tuhan paling suka hiteroginitas. Keberagaman itu asunatullah. Sebab itu, Lebaran yang berbeda harus dihormati semua umat Islam. “Tugas pemerintah adalah menjaga dan memberi rasa aman untuk semua warga bangsa.” Ia juga mengutip inti demokrasi adalah bekerja sama dalam perbedaan.

“Perbedaan tak usah disanjung bagai dewa. Perbedaan juga bisa menjadi laknat. Dalam konteks Lebaran, sesungguhnya perbedaan tetap sebuah jalan berselisih. Bagaimana logikanya berbeda lebih indah daripada bersama? Bukankah Lebaran berbeda menjadi sebuah kerepotan luar biasa?

“Perbedaan adalah rahmat, ini menjadi tempat persembunyian pemerintah atas ketidakmampuan bermufakat untuk memutuskan hanya satu hari Lebaran,” kata seorang jemaah kepada saya meminta persetujuan. Saya tersenyum.

Saya sepakat dengan khotib yang dengan berapi-api mengingatkan jemaah bahwa Islam mundur ratusan tahun karena tak mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena umat lebih lebih sibuk bicara surga-neraka tanpa mengamalkan secara subtantif kandungan Alquran.

Kata khotib, diturunkannya surat Al Alaq, perintah untuk membaca, yang pertama kali, adalah isyarat yang amat gamblang agar Islam mengembangkan pendidikan; ilmu pengetahuan, dan rasionalitas.

“Islam tak akan bisa maju hanya dengan kerapnya meneriakkan ‘Allahhu Akbar’ tanpa mengembangkan ilmu pengetahuan. Tanpa peduli pada pendidikan, umat Islam akan terus menjadi penonton dalam kompetisi dunia yang kian ketat. Islam tak akan dipandang hanya dengan sweeping dan marah-marah pada mereka yang dianggap munkar. Islam itu rahmat bukan laknat,” kata sang khotib menjelang akhir khotbahnya.

Saya terkejut lagi mendengar seorang warga di Jakarta Selatan. Ia tetap mengikuti Lebaran sesuai dengan keputusan pemerintah meskipun ia sendiri punya keyakinan sama dengan Muhammadiyah. Tapi karena telah bekerja di pemerintahan lebih dari 35 tahun, ia tak merasa berkhianat jika berbeda dengan pemerintah. Saya kaget karena di zaman ini ada orang yang tetap menjaga loyalitas pada pemerintah. “Biar saja, kalau ternyata yang benar Muhammadiyah, biarlah yang menanggung dosanya pemerintah. Bukankah berpuasa pada 1 Syawal adalah haram?” katanya dengan ekspresi serius. Saya tahu ia seorang pendidik yang baik.

Diskusi Lebaran yang berbeda juga berlanjut hingga ke kampung halaman saya di Banyumas, Jawa Tengah. Semuanya seperti kompak menyalahkan pemerintah. Sebagai wartawan, saya diminta untuk terus kritis dan mendesak pemerintah agar seluruh Indonesia hanya ada satu hari Lebaran. Terlebih lagi setelah pengumuman hasil sidang isbat, ada beberapa orang yang memaksa mereka yang tengah takbiran untuk berhenti. Alasannya, pasti pemerintahlah yang paling benar dalam menentukan Lebaran. “Pemerintah sungguh tak memikirkan dua hal sekaligus. Yang pertama soal iman, soal keyakinan. Yang kedua soal kultur Lebaran yang telah menjadi kerepotan pesta (termasuk ritual mudik).

Diskusi Lebaran yang berbeda terus berlangsung hampir sepanjang malam selama saya mudik. Orang-orang biasa itu justru kerap mengejutkan. Mereka kritis, terbuka, spontan, dan tanpa beban. Saya menyarikannya: Islam mestinya menjadi risalah yang layak dikenang, bukan dibuang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: