Dedy Myzwar Membuat Agama Familiar

Setiap Ramadan, wajah Bang Jack dalam sinetron Para Pencari Cinta (PPT), muncul di televisi. Bang Jack, sosok tokoh agama kampung yang bersahaja, familiar, menyampaikan pesan-pesan agama dengan mudah, dan tidak kehilangan karakter khas sebagai warga biasa (tidak formal).

Beberapa film yang digarap Dedy Mizwar, begitu nama asli Bang Jack, ini juga bernada religius, antara lain Lorong Waktu, Hikayat Pengembara, Lorong Waktu 1-6, Demi Masa, dan Kiamat Sudah Dekat. Ini memang film bernapas religius yang laku keras.

Tapi sebetulnya Dedy bukan hanya aktor film religius. Puluhan film berbagai genre, mulai dari komedi hingga serius ia bintangi. Salah satu filmnya yang banyak dibicarakan adalah Si Naga Bonar. Deddy Mizwar lahir di Jakarta, 5 Maret 1955. Aktor senior dan sutradara ini beristrikan R. Giselawati Wiranegara, dan memiliki dua anak, masing-masing Senandung Nacita, Zulfikar Rakita Dewa. Saat ini ia Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional periode 2006—2009.

Berbagai penghargaan ia raih. Selain nominasi 12 kali Piala Citra, ia juga meraih Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Arie Hanggara (1986), Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI dalam Opera Jakarta (1986), Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Naga Bonar (1987), Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI dalam Kuberikan Segalanya (1987).

Ia juga meraih Pemeran Pembantu Pria Terbaik Piala Vidia FSI dalam Vonis Kepagian (1996), Pemeran Pria Terbaik dan Sutradara Terbaik sekaligus Sinetron Terbaik FSI dalam Mat Angin (1999), serta Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Naga Bonar Jadi 2 (2007).

Saat ini dikenal sebagai seorang sutradara yang memproduksi film-film bertema keislaman yang menuai pujian dan sambutan hangat dari masyarakat.

Baginya, mengangkat tema keislaman dalam sebuah film atau drama merupakan bagian dari syiar dan dakwah Islam. Ia menilai beberapa film yang diproduksi sejumlah sutradara lainnya yang mengangkat tema keislaman, cukup menarik. Hanya, film-film itu seolah islami, padahal jauh dari nilai-nilai Islam.

Filmnya memang banyak yang kelihatan Islam, padahal dia sama sekali tidak islami karena yang bikin bukan orang Islam. “Saya sedih melihat umat Islam Indonesia ini begitu pasif dalam dunia film. Sampai dalam syiar agamanya pun meminta bantuan kepada nonmuslim,” kata dia.

Menurut Dedy, Islam itu indah. Islam itu rahmatan lilalamin, bersih, baik, dan menyenangkan. Enggak ada cerita orang mengambil tanah orang lain yang belum tentu ceritanya benar, kemudian kuburannya dipenuhi belatung. Atau, ketika digalikan kuburan keluar air menggenangi galian. “Jelas saja ada airnya, karena ada pipa air kena cangkul di galian itu,” kata dia.

Bagi Dedy, film adalah media untuk menyampaikan pikiran, ide, dan gagasan. “Syukur-syukur kalau ide yang disampaikan berdampak positif bagi penontonnya,” kata dia.

Menurut dia, bekerja di dunia perfilman harus ada muatan nilai ibadahnya, bukan hanya sebagai lahan mata pencaharian. “Kalau bekerja diniatkan untuk ibadah, enggak repot lagi kita bicara soal bagaimana membuat sinetron yang baik,” kata Dedy.

Sebab, kalau pembuatan film diniatkan untuk beribadah, filmnya akan jelas ke arah mana. Sebaliknya, begitu membuat film hanya sekadar mencari duit, itu enggak akan jelas ke mana arahnya.

Dedy mengingatkan orang Islam harus introspeksi diri, harus mau belajar banyak ilmu, termasuk perfilman. “Itu yang diajarkan oleh Rasulullah. Semua ilmu pengetahuan itu berasal dari Allah. Ilmu nuklir berasal dari Allah, hanya digunakan untuk apa dan oleh siapa. Ilmu itu netral, cuma di tangan siapa ilmu tadi. Ia menjadikan ilmu itu manfaat atau tidak,” kata dia.

Karena minimnya pengetahuan umat Islam dalam perfilman, tiba-tiba yang masuk ke koridor itu bukan orang Islam. Pedagang yang bukan dari kalangan Islam yang masuk ke sana, akibatnya salah kaprahlah nilai Islam di layar kaca. Sehingga kesannya Tuhan orang Islam kejam, tidak rahman dan rahim.

“Tetapi, mereka enggak salah, yang salah umat Islam sendiri. Mereka itu tidak tahu apa-apa tentang Islam, makanya banyak terjadi kesalahan dalam menggambarkan Islam,” kata dia.

Menurut dia, umat Islam harus menguasai pengetahuan perfilman untuk tujuan syiar. Mungkin kalau Rasulullah masih hidup saat ini, beliau akan anjurkan untuk belajar pengetahuan perfilman. “Masalahnya waktu itu belum ada film, tapi syiar dianjurkan ke mana saja. Makanya, kalau film bisa digunakan untuk media syiar, pasti dianjurkan oleh Rasulullah saw.,” kata dia.

Inspirasi Lampungpost

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: