Kasih Ibu

AKU bertemu dengannya secara tidak sengaja sekitar dua tahun lalu. Namanya Ismah, usianya masih muda, baru sekitar 27 tahun, tapi wajahnya jauh lebih tua dari usianya. Saat itu dia berdiri di depan pagar rumahku sambil menawarkan seprai.

"Mbak, tolong beli seprai saya, Rp100 ribu ya, Mbak? Anak saya kejang-kejang karena terjatuh dari pohon dan kepalanya terluka saat umur tiga tahun," kata dia dengan wajah sedih.

Sebulan kemudian dia datang lagi, kali ini menawarkan piring, katanya uangnya akan digunakan untuk menebus obat anaknya yang harus diminum rutin setiap hari selama dua tahun. "Saya memang tidak punya apa-apa Mbak, tapi saya punya semangat dan keyakinan anak saya pasti sembuh, bantu saya ya, Mbak?" katanya dengan wajah memelas.

Penasaran, aku pun bertanya di mana rumahnya dan bagaimana kondisi anaknya. Akhirnya kutemukan juga rumah kontrakannya yang sempit di bilangan Kebon Jeruk, kontrakannya tepat di belakang warung buah yang cukup besar. Saat memasuki rumahnya, aku bertemu suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak, dan anaknya yang kala itu baru berumur 9 tahun. Seorang anak yang manis, ganteng, tapi tidak bisa sekolah karena sering kambuh kejang-kejangnya.

"Anak saya bercita-cita menjadi masinis kereta, makanya dia pengen dipanggil bapak kereta dan setiap hari pergi ke stasiun kereta menunggu kereta datang dan pergi," kata dia.

Sedih dan pilu juga hatiku melihat keluarga kecil ini, terharu pada kegigihan ibunya yang setiap hari rela berkeliling ke kampung-kampung menjajakan kue untuk menebus obat anaknya.

"Saya juga malu Mbak, menjual kemiskinan dan penyakit anak saya untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Tapi cuma ini yang bisa saya lakukan," kata dia.

Saat bertandang ke rumahku kemarin pagi, dia mengajak putranya ke rumah. "Alhamdulillah Mbak, karena berita Mbak Yuni banyak yang membantu, ada yang ngasih beras, uang, bahkan baju untuk Ricky, sekarang anak saya juga tidak dikucilkan lagi. Saya cuma ingin melihat dia tumbuh seperti anak normal," kata dia dengan mata terurai. Subhanallah, kasih ibu yang tidak pernah putus, apa pun kondisi anaknya dia selalu memberi yang terbaik. Semoga kita juga bisa memberi yang terbaik untuk anak-anak kita. Amin. (SRI WAHYUNI)

Nuansa Lampungpost

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: