Mengingat Garuda di Dada

Kekalahan 0-2 dari Bahrain pekan lalu berbuntut kemelut dalam timnas. Ada kabar perlawanan sejumlah pemain terhadap kepemimpinan pelatih Wim Rijsbergen. Kendati muncul serangkaian bantahan tentang runyamnya hubungan di antara pemain, pelatih, dan pengurus PSSI, sulit dimungkiri kesan menguatnya disharmoni di antara mereka. Kita lagi-lagi disuguhi tontonan kampungan pada bidang yang seharusnya mengusung kemodernan.

Sepak bola adalah permainan. Sebagai permainan dalam dunia modern, ia terbatasi oleh nilai-nilai. Hal terpokok di dalamnya adalah keteraturan. Tak heran ada ketentuan soal peran wasit, penjaga gawang, penonton, hakim garis, waktu bermain, luas lapangan, serta bagaimana tendangan diawali dan diakhiri. Organisasi modern yang mengelolanya pun terikat pada ketentuanketentuan semacam itu.

Bertahun-tahun kita menyaksikan pelanggaran atas beragam keteraturan itu. Kepemimpinan yang menyiasati statuta dan ketentuan FIFA, misalnya, atau tawuran antarpemain saat bertanding dan perilaku buruk penonton yang merusak stadion dan fasilitas kota saat tim mereka kalah. Kita kehilangan respek pada sepak bola tanah air sendiri dan justru mendapatkan hiburan dari sepak bola benua lain.

Kita berharap, kepemimpinan baru PSSI dapat membendung persoalan-persoalan itu. Tapi, kita ternyata tak ada bedanya dengan timnas Malaysia yang tercoreng kemenangannya dalam Piala AFC oleh sorotan lampu “laser” suporter mereka ke wajah tim lawan. “Demo petasan” di Stadion Gelora Bung Karno ketika timnas kalah dari Bahrain pekan lalu menjadi penanda awal bahwa kita belum berubah. Untungnya, kekisruhan tak meluas ke luar stadion.

Masih ada empat pertandingan. Kita masih punya harapan. Bahkan, andai tak mungkin lolos sekali pun, kita tak pada tempatnya merusak keempat pertandingan sisa itu. Jadi, kita berharap, siapa pun yang kini punya peran besar di dalamnya dapat menahan diri. Kapten tim, pelatih, ketua umum PSSI, juga kita sebagai pendukung sebaiknya memulai dari prinsip dasar sebuah permainan; sepak bola menjadi indah karena kita mengindahkan peraturan permainan.

Betul ada kekecewaan pelatih terhadap pemain. Betul juga ada kejengkelan pemain terhadap pelatih. Mungkin pula tersisa masalah pascapergantian pelatih dan kepengurusan PSSI. Namun, kita harus ingat ada Garuda di dada kita. Singkirkan egoisme masing-masing. Mari bicarakan ganjalan di hati masing-masing, dengan baik-baik, tapi jangan sampai muncul tindakan boikot maupun sanksi murahan.

Jangan sampai kita kehilangan lagi suasana saling menghargai. Kita mungkin tak bisa tampil di final Piala Dunia pada saat ini, tapi kita tetap harus menanam sesuatu yang benar untuk masa depan. Pembinaan, pembenahan, bukanlah suatu hal yang dapat berbuah dengan cepat. Kita masih harus belajar bersabar. Pemain tak pada tempatnya menolak pelatih. Pelatih perlu mengerti cara berkomunikasi yang tepat dengan pemain.

Tajuk Republika, Selasa, 13 September 2011 pukul 11:03:00

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: