Monumen

HIDUP tanpa ingatan adalah kesia-siaan belaka. Hampa! Untuk itulah sejarah ada dan ditulis untuk mengabadikan apa pun yang pernah terjadi. Hari ini pun kita tengah menulis sejarah masa depan. Kita ingin membuat sesuatu yang kelak bisa kita kenang. Kita selalu punya harapan bagi kehidupan masa depan yang lebih baik.

Negarabatin suatu ketika dalam angan Mamak Kenut adalah sebuah wilayah yang aman, damai, dan sejahtera. Kondisi ini bisa tercapai karena terjalin hubungan yang harmonis di antara semua komponen bangsa.

Negarabatin suatu ketika dalam batin Mat Puhit adalah daerah demokratis yang memiliki pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Di sana semua orang bebas mengeluarkan pikiran dan pendapat tanpa takut ada harus ada yang tersinggung, apalagi sampai nggak enak tidur, enggak enak makan atau marah-marah dan mengamuk enggak keruan.

Negarabatin dalam pikiran Minan Tunja adalah suatu tempat yang melindungi hak-hak penghuninya dan suatu tempat di mana orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Egaliter! Pemimpin tidak mentang-mentang punya kuasa lalu semau-maunya. Ia mau mendengar dan memperhatikan keluhan dan pendapat rakyatnya. Pemimpin itu kan hanya peran yang harus dilakoni. Ya, bagi-bagi peranlah dengan rakyat.

Sebab itu, pemimpin jangan membiarkan rakyat ngambek enggak mau dipimpin. Biasanya kalau orang ngambek, dia enggak peduli dengan orang lain. Begitu juga kalau rakyat ngambek, dia masa bodoh dengan pemimpinnya. Terserah maunya penguasa, kira-kira begitu.

Tapi, syukurlah tidak semua orang suka ngambekan sehingga selalu ada yang bersikap kritis terhadap berbagai kelakuan penguasa. Bayangkan kalau semua apatis. Cuek-cuek saja terhadap apa yang terjadi. "Enggak usah serius-serius mikirin negara. Wong negara saja enggak mikirin kita."

Jangan terlalu pasrahlah. Harus ada yang kita perbuat sekadar agar hidup tak menjadi sia-sia. Tentu saja setiap orang punya batas-batas kemampuan. Sebab itu, harus sadar diri dan segera mengukur diri. Bagaimana mungkin bisa mengubah segalanya kalau kita tidak memunyai kekuatan apa-apa? Kita kan hanya bisa berjuang lewat kata-kata, teriak kencang, meskipun tak ada yang mendengar.

Siapa sih yang tak ingin mengukir kenangan, menancapkan monumen setiap kali ada momentum yang tepat. Apalagi seorang pemimpin yang mengukuhkan komitmen ingin mengubah segalanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tapi sekali lagi, jangan norak. Banyak hal yang harus mendapatkan pertimbangan dari sebuah keinginan, sebuah kehendak, sebuah impian.

Ya, kita memang memerlukan monumen yang menjadi kebanggaan kita bersama. Masalahnya, mengapa harus mengorbankan segala sesuatu yang lebih substansi untuk membangun monumen itu. Sesuatu yang lebih esensi itu adalah rakyat yang masih menjerit ketika berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan sikap tidak manusiawi yang acap mereka temui. Sesuatu yang lebih pokok adalah rasa lapar, kegetiran hidup, kemiskinan, keterbelakangan, dan kemiskinan yang masih melanda.

Sesuatu yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan kecerdasan, kemampuan mengubah nasib, dan mendongkrak pendapatan rakyat. Sesuatu yang lebih bermakna adalah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan berbagai usaha meningkatkan peradaban manusia.

Kita memang memerlukan monumen. Sebab, monumen hadir dari sebuah sejarah. Tapi, jangan noraklah! (ZULKARNAIN ZUBAIRI)

Nuansa Lampungpost

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: