Pembantu Rumah Tangga

STRES tingkat tinggi. Seorang teman menuliskan kalimat itu di pesan pribadinya pada suatu layanan pesan instan smartphone.

“Kenapa Pin, stres?” tanyaku padanya.

“Aduuuh…Najla marah-marah ke pembantu di rumah, waktu aku enggak di rumah. Sekarang pembantunya kabur,” ujarnya memulai cerita.

Menurutnya, putri kecilnya kerap marah ke pembantu. Tapi, ya namanya anak-anak, omongan mereka lebih sering meniru tontonan sinetron di televisi.

Tapi, kalau si teman yang hanya ibu rumah tangga dengan dua anak seusia anak-anakku bisa stres begitu, apalagi aku yang bernasib sama tanpa pembantu rumah tangga. Belum lagi, masih harus bekerja dan meninggalkan anak-anak.

Permasalahan sulitnya mendapatkan pembantu rumah tangga selalu muncul setelah Hari Raya. Maklumlah, pembantu yang mudik menjelang Lebaran biasanya memilih tidak kembali ke rumah majikannya. Belum lagi, jika di kampung halamannya bertemu teman yang dilihatnya bernasib lebih baik dengan menjadi pekerja pabrik.

Fenomena kelangkaan bedinde tidak terjadi di daerahku saja. Seorang teman di Pekanbaru pun bernasib sama. “Sudah telepon ke yayasan-yayasan penyalur pembantu. Tapi semua bilang belum ada. Bingung karena kita harus bekerja, sementara anak tidak ada yang jaga,” keluhnya.

“Iya Mbak, sekarang lulusan SMP, SMA sudah enggak mau lagi jadi pembantu rumah tangga. Mereka memilih jadi buruh pabrik ke Jakarta atau menjadi penjaga toko,” ujarku.

“Mereka gengsi kalau harus bekerja jadi pembantu. Meski sebenarnya, pendapatan menjadi buruh pabrik tidak lebih besar dari menjadi pembantu rumah tangga. Karena menjadi buruh, mereka masih harus mengeluarkan biaya untuk makan, tempat tinggal, dan kebutuhan hari-hari,” timpalnya.

Tapi, terkadang pembantu juga banyak yang tidak tahu diri. Bekerja semaunya sehingga menjadi dilema bagi majikan. Dibiarkan tetap bekerja tapi makan hati. Diberhentikan, susah lagi cari pengganti.

Memang, kondisi tenaga kerja pembantu rumah tangga di Indonesia kerap memprihatinkan dan tidak mendapat perlindungan hukum. Tidak hanya di luar negeri. Perlakuan kasar majikan terhadap pembantu pun sering terdengar di negeri ini. Belum lagi, waktu kerja mereka yang tidak terbatas dan ruang lingkup pekerjaan yang sangat luas. Sementara upah yang mereka terima relatif kecil.

Jadi teringat sebuah nasihat. “Pembantu itu ya membantu, jadi jangan bebankan semua pekerjaan kepadanya.” (NOVA LIDARNI)

Nuansa Lampungpost

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: