Ketika Ambon Tercabik Lagi

Betapa mahalnya kehidupan masyarakat yang aman, tenang, dan tenteram. Sekali kedamaian terusik oleh huru-hara seperti yang terjadi di Ambon baru-baru ini, terlalu banyak yang dikorbankan. Rasa aman hilang. Belum lagi adanya kerugian harta benda dan korban jiwa. Itu sebabnya, pemerintah harus meredakan konflik sekaligus menindak pelaku kerusuhan.
Huru-hara di Ambon disulut oleh kabar yang menyesatkan. Seorang tukang ojek yang tewas sempat dikabarkan dibunuh, padahal ia meninggal lantaran menabrak pohon dan tembok. Kebetulan lokasinya dekat dengan tempat pembakaran sampah. Tapi kabar burung itu telanjur memicu lagi kerusuhan pada Minggu sore lalu. Dua kelompok orang di kota itu saling melempar batu, bahkan menyerang dengan senjata tajam. Beberapa kendaraan bermotor pun dibakar. Akibat pertikaian tersebut, enam orang meninggal dan belasan terluka.
Harus diakui kepolisian cukup sigap meredakan kerusuhan sehingga tidak berkembang luas seperti konflik berlatar belakang agama yang pernah terjadi sebelumnya. Petugas keamanan langsung menghalau massa yang mengamuk. Kepolisian kemudian menempatkan banyak petugas bersenjata lengkap di titik-titik yang rawan bentrokan. Markas Besar Kepolisian RI juga mengirim ratusan personel ke Ambon untuk memperkuat pengamanan.
Masyarakat pun dilarang menenteng senjata tajam demi mencegah terulangnya kerusuhan. Razia terhadap orang-orang yang masuk Ambon dilakukan pula, terutama mereka yang mencurigakan atau membawa senjata. Hanya pengerahan petugas keamanan ini perlu dibatasi, bahkan harus segera ditarik jika konflik benar-benar telah padam. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ekses pengamanan berlebihan yang justru dapat memancing konflik lagi seperti beberapa tahun lalu. Pendekatan keamanan secepat mungkin ditanggalkan dan diganti upaya melakukan rekonsiliasi.
Pemerintah pusat dan daerah mesti segera mempertemukan para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Ambon demi menghapus kesalahpahaman. Proses rekonsiliasi penting untuk menghilangkan rasa saling curiga, terutama antara kalangan Islam dan Kristen. Ini juga untuk mencegah agar pertikaian tak berkepanjangan seperti pada 1999.
Pengusutan terhadap provokator dan dalang kerusuhan itu harus pula dilakukan, mulai pihak yang menyebarkan kabar burung hingga pelaku di lapangan. Sulit dibayangkan masyarakat tergerak dalam waktu serempak untuk membuat onar bila tak ada yang memprovokasi. Dugaan bahwa kerusuhan itu terkait dengan adanya konflik elite lokal juga perlu diselidiki. Tidak terlalu sulit penegak hukum mengungkap semua itu. Mereka bisa menelisik penyebaran pesan pendek berisi hasutan lewat telepon seluler. Polisi juga bisa mengidentifikasi pelaku yang terekam dalam kamera televisi atau foto. Proses penegakan hukum ini sama pentingnya dengan upaya menciptakan perdamaian lewat rekonsiliasi. Soalnya, membiarkan para pelaku tak dihukum dengan alasan takut merusak perdamaian juga kurang bijak.

Opini tempointeraktif.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: