Ibrah – Komunitas Tangan di Atas

Dan bahwasannya manusia memperoleh apa yang telah diusahakannya. (An-Najm [53]: 39)

Al-Balkhi seorang pedagang yang saleh. Sebelum berangkat berdagang ke negeri seberang, ia berpamitan kepada Ibrahim bin Adham, guru spiritualnya. Tidak seperti biasanya, kali ini Al-Balkhi pulang sebelum sampai ke negara tujuan.

Sebagai guru, Ibrahim ingin tahu mengapa muridnya mengurungkan niatnya berdagang. Setelah didesak Al-Balkhi lalu membuka pembicaraan. “Suatu hari, di tengah perjalanan aku melihat sebuah keanehan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan tua, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Dalam benakku timbul pertanyaan, bagaimana burung yang pincang dan buta ini bisa bertahan hidup sementara ia berada jauh dari teman-temannya. Tak lama kemudian ada seekor burung yang bersusah payah menghampirinya dengan membawa perbekalan makanan yang cukup. Seharian penuh aku memperhatikan burung yang cacat tersebut, dan aku dapati burung itu tak pernah kelaparan. Ia selalu mendapatkan jatah makanan dari teman-temannya yang sehat.”

“Peristiwa ini telah memberi pelajaran kepadaku bahwa Allah, Sang Pemberi rezeki telah memberi karunia rezeki kepada burung yang cacat, sekalipun ia tidak bisa berusaha sendiri. Jika demikian maka aku yakin bahwa Allah akan mencukupkan rezekiku. Maka aku pulang, dan tidak mau lagi bekerja.”

Mendengar penuturan muridnya, Ibrahim bin Adham berkata, ”Wahai Al-Balkhi, sahabatku. Mengapa serendah itu pikiranmu? Mengapa kamu menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa kamu tidak mencontoh burung lain yang sehat, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda bahwa tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah!

Al-Balkhi kemudian sadar atas kekhilafannya. Ia pun bekerja kembali, berdagang lebih giat lagi. Ia insyaf bahwa kemuliannya terletak pada usahanya untuk memuliakan dirinya dan memuliakan orang lain.

Allah yang menghidupkan kita di dunia ini menjamin atas penghidupan kita. Dia yang memberi hidup, Dia pula yang menjamin sarana kehidupannya. Tak usah khawatir, tak usah ragu terhadap hal ini. Jangankan kepada manusia, sedang kepada makhluk-Nya yang lebih rendah saja, Allah telah menjamin rezekinya.

Masalahnya, dengan cara apa kita mendapatkan rezeki tersebut, di situlah letak derajat manusia. Ada sebagian yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk sekadar mendapatkan harta dunia, bahkan ada yang rela berbuat zalim untuk mendapatkannya.

Sebaliknya, ada juga manusia yang mengikhlaskan dirinya untuk hidup atas belas kasih orang lain. Mereka berpangku tangan dan malas bekerja. Mereka rela menjadi bagian komunitas masyarakat “tangan di bawah”.

Keberhasilan seorang Muslim diukur dari kesuksesannya membangun dua kehidupannya, dunia dan akhirat. Kesuksesannya terletak pada kemampuannya mengatasi problem kehidupan dunia dengan cara mempelajari ilmu dunia, dan kemampuannya mengatasi masalah akhirat dengan mempelajari ilmu agama.

Tapi, terdapat perbedaan yang prinsip antara dua kehidupan tersebut. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sejati, sedang kehidupan dunia hanyalah saat berinvestasi. Ad-dunya mazra’atul akhirah.

http://majalah.hidayatullah.com/?p=2451

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: