Nuansa — ‘Lagu Merdu’

ENAM bulan yang lalu, tepatnya pada minggu pertama Maret 2011. Sebuah teriakan dari seorang pria yang tengah berjualan, membuyarkan konsentrasi saya di sore yang mendung. "Kung…!Kangkung..!!" teriak pria tua dengan mengendarai sepedanya. Saat itu saya terkejut.

Keterkejutan saya bukan pada teriakannya yang tiba-tiba. Bukan. Saya bukan kaget dengan keras teriakannya. Sebab, selama ini teriakan pria yang biasa dipanggil Pak De itu sudah lama menjadi “lagu merdu” penghuni kompleks perumahan.

Yang membuat saya heran sehingga membuyarkan konsentrasi saya yang sedang menggunting ranting tanaman adalah pada isi teriakannya. Pak De memang selalu mengendarai sepeda yang sudah tidak bercat dan lebih banyak karat untuk berdagang keliling. “Lagu” dagangan yang selalu ia teriakkan selama kami menjadi penghuni kompleks ini adalah: "Kong..!Singkong…!!"

Karena itu, ketika Pak De mengubah "Kong, singkong" menjadi "Kung, kangkung", saya heran. Keheranan saya itu membuat saya tertarik untuk membeli. Selama ini kami membeli singkong bukan karena tertarik pada teriakannya. Tetapi karena memang butuh singkong untuk digoreng atau direbus.

"Pak De, kok ganti dagangan?" tanya saya. Terus terang, saat itu saya ingin mengatakan kepada Pak De, kalau isi suaranya jangan diganti. Saya ingin mengatakan, kalau teriakan “Kong…!singkong…!! itu sudah menjadi ciri khasnya dalam berdagang. Teriakan “Kung..! Kangkung..!!, bagi saya terdengar wagu. Tetapi saya tidak sampai hati mengatakannya.

"Singkong belum bisa dipanen. Masih kecil-kecil. Daripada tidak ada yang dijual, saya jual kangkung. Ini juga saya tanam sendiri," kata Pak De.

Sebelumnya, ketika masih “aktif” berjualan singkong, Pak De mengobrol dengan saya. Katanya singkong itu ia tanam di pekarangan milik orang lain. Si pemilik tanah, menurut Pak De, adalah seorang dermawan karena tidak pernah meminta uang sewa kepada Pak De yang hidup berdua dengan istrinya. Tanah yang ia tempati itu ia olah sendiri dan hasilnya untuk mereka hidup.

Itulah percakapan saya dengan Pak De enam bulan yang lalu.

Tetapi sejak dua bulan yang lalu, pada pertengahan Juli hingga kini, saya tidak pernah lagi mendengar suara Pak De. Teriakan “kong” maupun “kung” seakan sirna seiring dengan masuknya musim kemarau.

Kabar yang saya peroleh dari pedagang-pedagang keliling lainnya, Pak De tidak bisa berjualan karena tidak bisa menanam. "Enggak ada air, Mas. Tanaman Pak De enggak tumbuh."

Hidup yang miris di negeri agraris. Gara-gara tidak ada air, Pak De tidak bisa lagi bercocok tanam untuk mempertahankan hidupnya. Hidup kembali keras. Rakyat dipaksa untuk mempertahankan hidupnya sendiri. Ada pemerintahan, namun hanya gemar menyanyikan “lagu merdu” yang tak sesuai dengan jeritan rakyat. Pemerintah punya uang banyak, tetapi itu tidak bisa menyejahterakan. Hanya koar-koar, kalau kita adalah bangsa yang besar.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: