Tentang Suara-Suara yang Tak “Memuaskan” Sepanjang Bulan Puasa

Oleh Natalia Laskowska*

Saya sudah tidak ingat kapan saya mulai membeda-bedakan antara arti kata ‘puasa’ dan kata ‘puas’, tapi mungkin sekali ini terjadi pada suatu malam ketika sahabat saya selesai dengan konsernya. Dengan sedih dia berbisik “Aku tidak puas dengan suaraku malam ini,” dan langsung dia pulang. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, muncul kata puasa tanpa huruf ‘a’. Sebelumnya saya tak pernah puas. Untuk mengatakannya dengan lebih tepat – saya tak pernah berucap saya puas, meskipun saya sudah lama tahu kata puasa.

Sejak malam itu pasangan puasa-puas menemani saya kapan saja salah satunya muncul dalam percakapan atau bacaan. Dan karena konteks pertamanya, sangat sering soal suara turut serta. Apalagi pada bulan Ramadan.

Di Jogjakarta ada satu masjid yang saya amat sukai. Tempatnya biasa dan sederhana. Segi zahirnya sama sekali tidak menarik. Tapi batinnya, pembawa batinnya, suara azannya… subhanallah. Dia menggema ke seluruh penjuru rumah, ke segala urat tubuh saya. Alangkah indahnya suara azan itu. Dia bening, kalau suara bisa bening. Dia benar, kalau suara bisa benar. Dia jujur pada asalnya, tanpa rasa padang pasir. Dia seiring dengan irama gamelan Jawa. Luar biasa mengharukan.

Saya jadi ingat film Fitzcarraldo. Tokohnya adalah seorang pecinta opera, pengusaha besar yang mewujudkan mimpinya membangun gedung opera di tengah rimba Amazon. Kemudian dia mengundang ke situ Enrico Caruso, sang tenor yang amat terkenal pada awal abad silam.

Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.

Saya pernah tinggal di kos-kosan yang terletak antara dua masjid yang masing-masing dimiliki dua organisasi besar Islam. Dengan mulainya Ramadan saya memutuskan, telinga kanan akan saya sediakan untuk masjid yang sebelah kanan, dan telinga kiri untuk masjid yang sebelah kiri. Beginilah cara saya menantikan keharmonian dalam bulan puasa. Namun akhirnya saya sukar menyaksikannya.

Mulai jam 3 pagi, setiap pagi, sampai subuh, kedua masjid mengunakan pengeras suara untuk menyampaikan bacaan-bacaan dan doa. Saya tak faham dan saya yakin saya takkan memahami mengapa pengeras suara begitu diperlukan dalam hal seperti itu. Sayangnya saya juga tidak tahu apa yang dibacakan pada waktu itu karena kedua masjid menyetel suara dengan volume yang maksimal.

Oleh sebab suara ini datang dari masjid, dan membawakan ayat-ayat al-Qur’an pula, kita memaksakan diri untuk tidak berfikir ini semua menjengkelkan. Kita takut, terutama pada diri kita sendiri, untuk menganggap suara itu bising dan jelek. Kita menerimanya sebagai ujian kesabaran pada bulan puasa, ujian agar kita benar-benar berusaha sabar dalam semua hal, baik yang kita lakukan maupun yang kita pikirkan. Tetapi tentu tidak adil jika ada yang hendak memeriksa ambang batas kesabaran orang lain atau ambang teknis alat pengeras suara.

Alangkah menyedihkan suara yang datang dari pengeras kedua masjid yang di dekat kos-kosan saya itu. Suara itu tidak mengikuti irama apa-apa; hanya seperti berlomba saja siapa yang lebih keras terdengar selama bulan puasa. Saya tidak puas. Tidak apa-apa, tiada salahnya, tak semua orang harus memiliki suara Enrico Caruso. Tetapi kalau kita tahu kita bukan Caruso, mestinya kita coba menahan diri dan menyelamatkan orang lain dari suara kita. Menggunakan pengeras suara menimbulkan efek yang justru sebaliknya.

O the word which eats the Sahur meal,
Be silent so that anyone
Who knows fasting will enjoy fasting.

Bait-bait ini konon berasal dari karya Rumi. Mungkin juga ini bukan karya Rumi yang asli, tapi apapun, pesannya bagus sekali. Saya puas. Sambil mau puasa.

*Penulis adalah mahasiswi PhD Department of Oriental Studies, University of Warsaw, Polandia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: