Agar (sekali lagi)

Di kolom ini, 20 Februari 2009, saya mengulas agar, partikel kelas konjungsi yang kerap diperlakukan sebagai adverbia dalam berbagai judul berita. Di situ saya berpendapat bahwa peran tambahan kata sambung sebagai kata keterangan merupakan gejala evolusi ekspansif makna kata. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia belum mencatat fenomena itu.

Kali ini saya hendak memperlihatkan gejala serupa: pengayaan makna yang dilakukan masyarakat pada konjungsi penanda harapan, yang lagi-lagi belum termuat dalam dua kitab susunan instansi pemerintah itu. Oleh KBBI agar cuma disepadankan dengan supaya, ‘kata penghubung untuk menandai harapan’. Dalam TBBBI, agar dikelompokkan sebagai konjungtor subordinatif tujuan, yang bersinonim dengan supaya, biar.

Di tangan masyarakat, perilaku agar bisa liar dan tak mengikuti haluan berbahasa yang digariskan penyusun KBBI dan TBBBI. Fungsi-fungsi partikel yang lazim dijalankan bahwa (kata penghubung untuk menyatakan isi atau uraian bagian kalimat yang di depan), untuk (kata depan penanda hubungan peruntukan) bisa dimainkan agar.

Mari kita arungi dunia maya dengan mengetik ”harapan agar” di jendela Google. Inilah salah satu dari lebih sejuta fakta sintaksis semakna yang ditampilkan di sana: ”Harapan masyarakat agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pesan yang tegas sebagai langkah diplomasi untuk mengatasi ketegangan hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia ternyata tak kesampaian.” Agar dalam teras berita
rakyatmerdekaonline.com itu menggusur peran konjungsi pengantar obyek bahwa.

Mau contoh serupa dari penulis beken? Alois A Nugroho menerjemahkan satu kalimat dalam Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia karya Ernst Cassirer: ”Semua harapan agar alam tunduk kepada kata-kata magis telah dikecewakan.”

Kesepadanan antara agar dan untuk dalam kalimat bisa ditemukan dengan mengetik kombinasi bertujuan agar dan verba tertentu dalam tanda kutip di kotak pencarian Google. Saat saya ketik ”bertujuan agar
memperoleh”, yang muncul antara lain konstruksi kalimat ini: ”Usaha tani bertujuan agar memperoleh keuntungan maksimal, namun hal itu hanya dapat dicapai apabila penggunaan faktor produksi dalam keadaan optimal.” Kalimat yang diunggah dari jurnal ilmiah LIPI ini muncul di antara lebih dari 20.000 konstruksi kombinasi tiga kata kunci di atas.

Apa pendirian penyusun KBBI melihat fakta-fakta ini? Kalau pandangan Anton M Moeliono bahwa KBBI bukan kamus pembaku tapi perekam bahasa yang hidup di masyarakat masih berlaku, edisi mendatang KBBI harus mempertimbangkan memasukkan bahwa dan untuk sebagai padanan agar. Yang tak perlu dipertimbangkan sama sekali adalah gejala pemakaian berlebihan agar, yang kian jamak muncul di media massa cetak maupun elektronik. Agar yang demikian dihadirkan mengikuti verba transitif seperti dalam kalimat: ”Aktivis meminta agar koruptor besar ditembak mati; Pakar hukum mengharapkan agar KPK mengusut kasus Century”. Di situ agar harus dienyahkan.

Namun, jangan salah paham. Kalau saya menulis agar setelah meminta dalam kalimat ”Pengemis itu meminta agar diberi”, tak perlulah membuang sang agar karena meminta di sana saya maksudkan sebagai verba taktransitif. Bukankah dalam linguistik bentuk boleh sama tapi makna bisa beda? Kalimat itu selaras dengan: ”Saya percaya agar
diselamatkan”.

http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/09/16/agar-sekali-lagi/

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: