Berlebihan

SUATU sore, kacung tergeletak di kursi dekat dapur Inem. Dia merasakan perutnya melilit tak keruan, dan badannya sulit digerakkan.

“Waduh…. Waduh.” Begitu rintihan Kacung terdengar di telingan Inem berulang-ulang. Kacung pun memegangi perutnya.

“Bang, istighfar, Bang. Ada apa sih? Makan sudah, sayur enggak begitu pedas, ngopi oke. Apa lagi?? Malah saya belum makan, karena nasinya dihabisin Abang.” Inem pun terusik dengan rintihan kolega karibnya itu. “Apa perlu saya siapkan kain kafan?” kata Inem.

“Hah…..Ya ampun Nem, niku no cawa ruta. Saya lagi kesakitan gini, malah didoakan mati,” kata Kacung lemah, sambil terus memgangi perutnya.

Siangnya tadi memang Kacung sangat lahab makan di dapur. Sebab, tuannya membelikan satai dua porsi, khusus untuk kedua pembantu di rumah itu, dan Kacung yang menerima pemberian itu. Dia pun makan, tanpa ingat bahwa ada haknya Inem. Dua porsi satai, ditambah dua piring nasi, plus lontong satu bungkus.

Inem disisakannya lontong satu bungkus plus bumbu satai. Tapi karena Kacung merasa Inem tidak di tempat dan tidak tahu ada jatah itu, sisikatnya sisa yang semula dia jatahkan untuk Inem.

“Itu lah Bang, bukannya saya tidak tahu. Saya rela kok Abang habiskan sampai tak tersisa sedikit pun,” kata Inem. “Tapi memang Gusti Allah mboten sare…ada saja dampaknya,” tambah Inem.

“Iya Nem, saya minta maaf. Karena makan berlebihan, akhirnya perut saya sakit,” kata Kacung.

Inem pun mulai menceramahi Kacung. “Memang kan sudah dikatakan Gusti…jangan berlebihan. Ya ternyata kalau berlebihan itu lebih parah sakitnya dari kekurangan, ya. Berlebihan itu biasanya enggak mikirin orang.”

“Jangan kan jatah orang yang kita sikat, sedangkan yang jelas jatah yang kita terima saja ada hak orang di situ. Jadi jangan ditelan sendiri. Liat saja di Jakarta si Nazar, triliunan uang milik 250 juta rakyat ditelannya semua. Ya….muntah dan ‘sakit’ dia.” sambung Inem.

“Iya Nem… ini pelajaran buat saya. Nyak ngilu mahap,” kata Kacung.

“Wah… kalau maaf itu mah sudah sejak saya tahu Abang makan jatah saya, Bang. Yang perlu itu Abang mohon ampun karo Gusti,” kata Inem.

“Ya kalau gitu, tolong dong pijitin punggung saya, biar berkurang sakit perutnya. Masak kamu enggak kasian sih,” kata Kacung.

“Yah…gitu deh, Bang, kalau sudah kena batunya. Baru minta
dikasihani.. Ya sudah mana balsemnya, Bang,” Inem beranjak dari tempat duduknya untuk memijiti karibnya itu. Astaghfirullah.

http://www.lampungpost.com/nuansa/10335-berlebihan.html

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: