KITA SEMUA WAJIB BERSYUKUR

KHUTBAH PERTAMA:

.

ǡ

ǡ
.

Ma’asyiral Muslimin A’azzanallah wa`iyyakum
Pada kesempatan yang mulia dan bahagia ini, marilah kita tidak lupa dan tidak bosan-bosannya untuk selalu dan senantiasa memanjatkan puja dan puji syukur kita ke hadirat Allah Taala atas segala limpahan karunia, hidayah, dan berbagai kenikmatan yang telah, sedang, dan insya Allah akan kita dapatkan, baik nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, nikmat kebersamaan, dan berjuta nikmat lainnya yang tidak akan mungkin bagi kita sebagai hamba yang lemah untuk dapat menghitung nikmat-nikmat tersebut. Allah Taala berfirman,

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala sesuatu yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Ibrahim: 34).

Syaikh as-Sa’di Rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “Maksudnya, Allah Taala telah menganugerahkan kepada kalian segala sesuatu yang menjadi angan-angan dan kebutuhan kalian, berupa berbagai macam kenikmatan yang kalian mohonkan padaNya, baik dengan li-sanul hal maupun dengan lisanul maqal.”

Kaum Muslimin Hafizhanallah wa`iyyakum
Jika kita mau menyadari dan merenungi betapa agungnya nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepada kita, niscaya tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk durhaka kepadaNya. Betapa tidak, sedangkan apa yang dialami seorang hamba dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan dalam tidur itu sendiri, semuanya itu tidak akan dapat ia jalani melainkan karena karunai dan izin dariNya. Apa yang ada pada diri dan jasad kita dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki adalah pemberian Allah. Apa yang ada di sekeliling kita dari mulai keluarga, kerabat, sanak saudara hingga harta benda adalah karunia Allah. Tidak ada satu detik pun yang dijalani oleh seorang hamba dalam kehidupannya di dunia ini, melainkan ia selalu berada di bawah karunia dan anugerah Allah Yang Maha Pencipta.

Allah Taala berfirman,

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah
(da-tangnya).” (An-Nahl: 53).

Ma’asyiral Muslimin Rahimanallah wa`iyyakum
Setelah mengetahui hakikat yang agung ini, lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba lemah yang tidak memiliki daya upaya apa pun untuk mewujudkan sesuatu melainkan karena pertolongan dariNya? Akankah kita durhaka kepadaNya padahal setiap detik kita menikmati pemberianNya? Akankah kita melalaikanNya karena kesombongan kita dengan mengatakan bahwa segala yang kita capai adalah karena usaha dan jerih payah kita belaka, padahal tidaklah kita tinggal melainkan di atas bumi-Nya dan bernaung di bawah langitNya?

Ada seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham Rahimahullah, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, maka nasihatilah aku!”

Ibrahim berkata, “Jika kamu mau menerima lima perkara dari-ku, dan kamu mampu melaksanakannya, maka perbuatan maksiat apa pun tak akan mencelakakan kamu.”

Maka orang itu berkata, “Apakah itu?”

Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Taala, maka janganlah makan dari rizkiNya!”

Orang itu menjawab, “Kalau begitu, dari mana aku makan, karena semua yang ada di bumi ini adalah pemberianNya?”

Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya?”

Orang itu menjawab, “Tidak, kemudian apa yang kedua?”

Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Taala, maka janganlah kamu tinggal di bumiNya!”

Orang itu berkata, “Ini lebih besar dari yang pertama, di mana aku harus tinggal?”

Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya dan tinggal di bumi-Nya?”

Orang itu menjawab, “Tidak, kemudian apa yang ketiga?”

Ibrahim berkata, “Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah Taala, maka carilah tempat di mana Allah Taala tidak melihatmu!”

Orang itu berkata, “Ke mana aku harus pergi, sedangkan Allah Taala mengetahui semua yang nampak dan tersembunyi?”

Ibrahim berkata, “Apakah pantas kamu bermaksiat kepada Allah, sedangkan kamu memakan rizkiNya dan tinggal di bumiNya serta Dia melihat apa yang kamu lakukan?”

Orang itu menjawab, “Tidak, kemudian apa yang keempat?”

Ibrahim berkata, “Jika malaikat maut datang untuk mengam-bil ruhmu, maka mohonlah kepadanya, ‘Berilah aku waktu agar aku dapat bertaubat dan beramal shalih!'”

Orang itu berkata, “Permohonanku tidak akan dikabulkan dan mereka tak akan menunda (kematian)ku.”

Ibrahim berkata, “Jika kamu tidak dapat menghindar dari datangnya kematian agar dapat bertaubat dan beramal shalih, maka kenapa kamu berbuat maksiat kepadaNya?”

Orang itu berkata, “Lalu apa yang kelima?”

Ibrahim berkata, “Jika di Hari Kiamat nanti, malaikat penjaga neraka datang untuk mengirimmu ke neraka, maka janganlah kamu menurutinya!”

Orang itu berkata, “Mereka tidak akan melepaskanku dan tidak akan mengabulkan keinginanku.”

Ibrahim berkata, “Jika demikian, bagaimana kamu berharap dapat selamat?” Orang itu pun berkata, “Cukuplah hal ini bagiku. Sungguh aku memohon ampun kepada Allah Taala, dan bertaubat kepadaNya.”

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah
Renungilah hikmah yang terkandung dalam percakapan di atas. Sebuah dialog yang dapat menggugah hati kita yang sudah semakin beku dan keras. Benarlah apa yang telah dinasihatkan oleh ulama mulia tersebut, bahwa ternyata tidaklah kita hidup dan menikmati kehidupan ini melainkan karena anugerah dan karunia dari Allah Taala. Tidak ada satu masa atau satu tempat pun, melainkan di sana ada nikmat Allah Taala.

Oleh karena itu, sudah menjadi suatu keniscayaan dan kewa-jiban yang tidak dapat lagi kita tawar, yakni untuk senantiasa ber-syukur kepada Allah Taala, kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Meski kita sadari, bahwa sebanyak apa pun kita berusaha untuk mensyukuri nikmat Allah Taala, niscaya syukur kita tersebut tidak akan mungkin dapat membayar segala kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada kita, bahkan syukur yang kita lakukan pun, adalah bentuk nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Karena tidak akan mungkin bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang bersyukur jika bukan karena ridha dan izinNya kepada kita. Allah Taala berfirman,

“Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172).

Ma’asyiral Muslimin yang Saya Cintai dan Saya Muliakan
Lantas bagaimana caranya kita bersyukur kepada Allah? Apakah cukup dengan mengucapkan “Alhamdulillah” ketika kita mendapatkan nikmat? Tentu tidaklah demikian, karena syukur tidak cukup hanya dengan lisan, melainkan harus dengan hati, juga lisan, dan anggota badan. Syukur dengan hati yakni kita mengakui dan meyakini bahwa apa pun nikmat yang kita peroleh, semata-mata datangnya dari Allah Taala. Sedangkan syukur dengan lisan, yaitu kita selalu membasahi lisan ini dengan dzikir dan ucapan syukur kepadaNya. Adapun syukur dengan anggota badan, maka kita menggunakan segala bentuk nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita sebagai sarana untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita pergunakan nikmat apa pun yang telah diberikanNya untuk merealisasikan tujuan utama kita diciptakan, yakni untuk beribadah kepada Allah Taala.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56).

Semoga Allah Taala menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang pandai bersyukur.

KHUTBAH KEDUA :

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada khutbah yang kedua ini, khatib hanya ingin berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jama’ah sekalian, marilah kita selalu berupaya semampu kita untuk menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri karunia Allah Taala, karena dengan bersyukur, kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita, karena kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Bersikaplah qana’ah, selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ǡ .

“Jadilah orang yang qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur.” (HR. Ibnu Majah, no. 4214, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Kebahagiaan tidaklah diukur dengan berlimpahnya materi dunia, akan tetapi dengan kenyamanan dan ketenangan jiwa, dan itu hanya akan diraih oleh orang mukmin yang selalu bersyukur kepadaNya.Syukurilah segala nikmatNya sekecil apa pun nikmat itu menurut kita, karena Allah telah menjanjikan pahala bagi orang yang mau bersyukur, dan mengancam dengan siksa bagi orang yang kufur. Sebagaimana FirmanNya,

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Marilah kita berdoa semoga Allah Taala menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang pandai bersyukur dan selalu qana’ah terhadap apa pun yang kita dapatkan).

.

.

.

http://daritemanuntukteman.blogspot.com/2009/07/khutbah-jumat-kita-semua-wajib.html

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: