Pesan Moral Puasa

Setiap ibadah yg kita lakukan sebetulnya merupakan riyadhah untuk mendidik nilai moral tertentu. Baik ibadah shaum atau ibadah lainnya di dalamnya terkandung pesan moral. Bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah SAW menilai ‘harga’ suatu ibadah itu dinilai dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah itu tdak meningkatkan akhlak kita, Rasulullah menganggap bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain, kita tidak melaksanakan pesan moral ibadah itu.

Seseorang bisa saja melakukan ibadah puasa. Ida sanggup mematuhi seluruh ketentuan fiqih, teteapi dia sering tidak sanggup mewujudkan seluruh pesan moral ibadah puasa itu. Rasulullah bersabda: “Banyak sekali organg yg berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”.

Sekali lagi, semua ajaran Islam mengandung pesan moral. Dan pesan moral itulah yg saya pikir dipandang sangat penting di dalam Islam. Mengapa Islam menekankan prinsip moral itu..? Mengapa Islam menekankan prinsip akhlak itu..? karena kedatangan Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan zikir dan doa. Nabi tegas mengatakan bahwa misinya ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Lalu, apa yg menjadi pesan moral ibadah puasa..? Salah satu pesan moral yg utama dalam ibadah puasa adalah supaya kita menjaga diri dari memakan sembarang makanan. Bahkan makanan yg halal pun tidak boleh kita makan sebelum datang waktunya yg tepat. Jadi, jangan sembarang makan. Jangan asal makan saja. Kita harus memperhatikan apa yg kita makan itu. Sayyidina ALI as pernah berkata; “Jangan jadikan perutmu sebagai kuburan hewan”. Maxutnya, kita tidak boleh memakan daging terlalu banyak, apalagi diperolehnya dengan cara yg tidak halal.

Pesan moral Ramadhan adalah agar kita tidak menjadikan perut kita sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut anda sebagai kuburan orang kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut anda. Itulah pesan moral Ramadhan, yang menurut saya, relevan dengan kondisi saat ini. Ketika kita dikejar-kejar olen konsumtivisme (senang pesta dan berbelanja barang-barang yg tidak bermanfaat) dan
dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial, tidak jarang kita berani memakan hak orang lain.

Tidak cukup hanya sampai disitu. Ibadah puasa juga mengajarkan bahwa walaupun harta itu milik kita, kita tidak boleh memakannya sendiri. Saya ingin mengutip lagi ucapan Imam ‘ALI as “Tidak pernah aku melihat ada orang yg memperoleh harta yg melimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yg ia sia-sia kan”. Kita tidak usah menjadi Marxis untuk menyadari bahwa keuntungan yg berlimpah ruah dimiliki
orang-orang kaya yg tinggal di negara-negara miskin, misalnya, karena upah buruh yg murah sehingga si pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yg besar.

Seandainya kita memperoleh gaji yg tinggi, di dalam islam, kita tidak boleh memakan semua yg kita terima walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Bagi yg mempunyai gaji yg berlebih, ia bertanggung jawab untuk menyantuni orang-orang miskin. Puasa tidak akan bermakna apa-apa sebelum kita memberikan perhatian yg tulus kepada orang-orang yg menderita di sekitar kita. Itu pesan moral ibadah puasa.

Kalau seseorang puasanya cacat, atau puasanya batal, atau melakukan hal-hal yg dilarang dalam ketentuan fiqih, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral puasa itu. Misalnya, pada bulan Ramadhan, sepasang suami istri bercampur pada siang hari, kifaratnya ialah memberi makan 60 orang miskin. Orang yg tidak sanggup berpuasa, di dalam Al-Quran, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang orang miskin. Memperhatikan orang orang lapar dan menyantuni fakir miskin adalah pesan moral puasa.

Lebih jauh lagi, marilah kita simak sekilas beberapa penafsiran batiniah tentang hadis-hadis puasa.

Hadis pertama; diriwayatkan bahwa seorang yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Mengapa Tuhan mewajibkan puasa dalam 30hari..?” Rasul yang mulia menjawab, “Itulah waktu ketika yg dimakan Adam mendekam dalam perutnya”.

Hadis kedua; diriwayatkan dari Muhammad bin Sinnan bahwa Imam ALI bin Musa Al-Ridha as berkata, “sebab diwajibkannya puasa adalah agar manusia merasakan kelaparan dan kehausan, sehingga ia mengetahui kerendahan, kehinaan dan kemiskinan dirinya; juga agar ia mengetahui beratnya kehidupan akhirat, sehingga bisa meninggalkan berbagai dosa dan maksiat”.

Hadis ketiga; diriwayatkan dalam Mishbah Al-Syari’ah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Puasa melindungi diri dari kejelekan dunia dan siksa akhirat. Apabila hendak berpuasa, niatkanlah puasamu untuk menahan diri dari dorongan syahwat, dan memutuskan pikiran yg sering dipengaruhi oleh godaan setan. Bayangkanlah dirimu sebagai seorang yg sakit yg tidak menginginkan makanan atau minuman apapun. Dan berharaplah selalu agar Allah Yang Mahakasih memberikan kesembuhan dari setiap penyakit yg ditimbulkan karena dosa. Sucikanlah batinmu dari setiap apa yg bisa membuatmu lalai dari berzikir kepada Allah”.

Berkenaan dengan hadis hadis ini, seorang Sufi Al-Qadhi Sa’id Al-Qummi berkata, “merenungkan makna makna batiniah tentang puasa, pada hadis pertama Rasulullah SAW mnceritakan bagaimana perjalanan hidup manusia adalah cerminan dari apa yg terjadi pada Nabi Adam as. Setelah Adam melanggar perintah Tuhan, pengaruh dari “dosa” yg ia lakukan bertahan selama 30hari dalam perutnya. Karena itulah, Tuhan syariatkan puasa selama 30hari dalam setahun untuk menyucikan manusia dari
dosa-dosanya. Sebagaimana Adam yg bertobat pada waktu maghrib, anak keturunan Adam diizinkan Allah untuk berbuka pada saat yg sama ketika Bapak seluruh manusia memanjatkan doanya kepada Allah SWT.
Panjatkanlah doa pada waktu berbuka karena ia adalah waktu yg utama.

Sedangkan makna hadis kedua dan ketiga yg menyebutkan puasa sebagai perisai adalah bahwa dengan puasa kita dihindarkan dari makanan dan minuman, karenanya terhindar juga kita dari kemungkinan didera penyakit jasmaniah. Tetapi puasa juga adalah latihan untuk
mengendalikan hawa nafsu, karenanya menjadi sarana untuk menyembuhkan penyakit ruhaniah.

Sedangkan makna “menjauhkan diri dari siksa akhirat” adalah bahwa dengan puasa manusia akan berlatih untuk memasrahkan dirinya pada ketentuan Allah, sehingga –dengan merasakan lapar, dahaga dan membayangkan siksa akhirat yg lebih berat daripada lapar dan dahaga- manusia akan berusaha untuk lebih menyucikan dirinya.

Walhasil, puasa –sebagaimana sabda Nabi- bukan sekedar menjalankan syariat menjaga diri dari hal (seperti pada ketentuan fiqih), tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran sosial, menyambungkan persaudaraan, dan yg paling penting semua, untuk membawa ruh kita kembali pada kesucian.

http://my.opera.com/sigundul/blog/index.dml/tag/Pesan%20Moral%20Puasa%20-%20Tasawuf

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: