Tak Mau Serakah

Bendul dan Benjot sudah lama tak bertemu. Hari itu mereka bertemu di pasar. Penampilan Bendul dan Benjot tak jauh berbeda. Pakaian sama-sama kusam dan tidak rapi. Bahkan Benjot tampak kotor dan tercium aroma tahi ayam. Mereka sepakat duduk di tempat penjual minuman, dan memesan es dawet segar. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya Bendul curhat juga tentang masalah keluarganya.

“Aduh, pusing aku. Baru seminggu kemarin gajian, uangku habis. Anak menangis minta susu, istriku sewot. Katanya malu disuruh ngutang terus di warung. Aku harus gimana lagi ya, Njot?,” keluh Bendul.

Benjot cuma manggut-manggut sambil asyik ngupil. “Hei Njot, kamu ini seperti tidak peduli dengan kesusahan teman,” kata Bendul. “Hehehe, bukan begitu Ndul. Kamu tidak tahu ya, orang-orang kaya itu juga pusing. Mereka juga punya banyak kebutuhan yang harus dibayar,” kata Benjot.

“Tapi Njot, kualitas kebutuhan orang miskin seperti saya dengan orang-orang kaya kan beda Njot,” protes Bendul. “Maksudmu apa Ndul?” Benjot balik bertanya. Benjot kaget juga mendengar omongan Bendul yang menyebut-nyebut kualitas kebutuhan. Seperti orang pintar saja Bendul ini, padahal cuma lulus SMA, batin Benjot. “Ya iya Njot, kalau aku kan makan cukup pakai tahu dan tempe, sesekali pakai ikan. Berangkat kerja naik angkot. Anakku sekolah di SD pelosok desa kita ini. Dan, aku pusing karena harus mengais rezeki untuk makan dan susu anak-anakku,” kata Bendul.

Benjot tersentak. Iya juga ya, pikir Benjot. Orang kaya dan orang miskin memang sama-sama memiliki kebutuhan, tapi kualitasnya beda. Misalnya kualitas makan si miskin cukup tempe dan garam, orang kaya harus lengkap dengan daging, sayur, dan buah-buahan impor. Pendidikan si miskin cukup di sekolah negeri dengan kualitas seadanya. Sedangkan si kaya di sekolah favorit, guru bagus, fasilitas lengkap, dan tentu saja mahal. Operasional kerja, si miskin cukup jalan kaki, naik sepeda atau motor butut (kalau punya), sedangkan si kaya naik mobil mewah yang ganti merek setiap tahun.

Benjot baru menyadari perbedaaan curam itu. Pada dasarnya manusia tak akan pernah puas. Selalu kurang. Tapi, nilai kurangnya orang miskin dan kaya berbeda. Kalau orang miskin sering mengeluh dan merasa kurang, itu wajar, karena belum menikmati hidup layak. Tapi kalau orang kaya masih merasa kurang, bukankah itu artinya serakah?

“Ini Ndul, untuk beli susu anakmu,” kata Benjot memberi lembaran uang ratusan ribu kepada Bendul. Benjot pamit pulang. Dia harus segera mengurusi usaha ternak ayamnya seluas 15 ha yang tadi pagi baru panen.

http://www.lampungpost.com/nuansa/10212-tak-mau-serakah.html

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: