Turut Belasungkawa dan Berdukacita

Lampung Post, 21 Sep 2011. Ninawati Syahrul, Pegawai Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta

Ketika ada kerabat atau teman tertimpa musibah sehingga menyebabkan kematian, kita segera menggirimkan ucapan “Kami turut belasungkawa dan berdukacita yang sedalam-dalamnya atas musibah…”, atau “Kami sekeluarga mengucapkan turut belasungkawa dan berdukacita atas meninggalnya…”.

Ucapan seperti itu sepertinya sudah mentradisi di lingkungan kita. Penggunaan kata belasungkawa dan berdukacita tampaknya selalu hadir bersama. Yang menjadi permasalahan di sini adalah sudah benarkah pemakaian kedua kata itu secara bersamaan?

Memang tidak ada salahnya jika kita mengirimkan ucapan sebagai tanda simpati atau mengungkapkan perasaan sedih kita tatkala ada teman atau kerabat yang sedang tertimpa musibah, apakah berupa bencana alam, seperti tanah longsor, gempa bumi, dan banjir.

Yang menjadi permasalahan di sini adalah isi ucapan yang mengungkapkan ikut bersedihnya perasaan kita terhadap orang lain yang tertimpa musibah. Jadi, yang kita soroti adalah faktor kebahasaan.

Dari sudut bahasa, ada dua hal yang patut kita kemukakan dalam kaitannya dengan belasungkawa dan berdukacita. Kata belasungkawa biasanya untuk menyatakan perasaan sedih. Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, yakni bela yang berarti menuntut bela, turut serta, dan sungkawa berarti susah, sedih.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, belasungkawa berarti
‘pernyataan turut berdukacita’. Oleh sebab itu, ungkapan “Kami turut belasungkawa dan berdukacita atas…” mengandung kemubaziran kata karena dalam kata belasungkawa sudah terkandung pula makna “turut
berdukacita”.

Dengan kata lain, kata turut berdukacita tidak perlu lagi digunakan dalam ungkapan itu. Kata dukacita mempunyai makna kesedihan hati, kesusahan hati dan berdukacita berarti bersusah hati, bersedih hati. Dukacita berkaitan dengan sedih. Kata sedih berarti (1) merasa sangat pilu dalam hati, susah hati (2) menimbulkan rasa susah (pilu dan sebagainya) dalam hati, duka.

Ada kalanya dalam ungkapan dukacita kita menggunakan kata berkabung. Berkabung adalah kata lain untuk menyatakan dukacita, (1) memakai kabung sebagai tanda berdukacita karena ada keluarga yang meninggal, (2) berdukacita karena keluarga, kerabat, dan sebagainya meninggal.

Berdasar maknanya, kita bisa memilih salah satu di antara kata-kata itu. Jadi, kita dapat memilih salah satu ungkapan berikut. (1) Kami berbelasungkawa atas…, (2) Kami mengucapkan belasungkawa atas…, (3) Kami turut berdukacita atas…, (4) Kami turut berkabung atas…

Dalam bahasa Indonesia ada kata-kata yang mempunyai makna sama yang disebut dengan kata bersinonim. Dari segi keefektifan bahasa, pemakaian kata sinonim secara bersamaan akan menimbulkan kemubaziran.

Oleh sebab itu, agar tidak mubazir dan bahasa yang digunakan menjadi efektif, sebaiknya kita pilih salah satu saja yang digunakan.

http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/09/21/turut-belasungkawa-dan-berdukacita/#more-2041

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: