Kultum oleh Bang Syam

ILMU

Kultum, 22 September 2011
Oleh Bang Syam

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillaahirabbil aalamin.
Wassolaatu wassalaamu alaa sayiidinia Muhammad. Ammaa ba’du.

Rekan-rekan yang berbahagia.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Solawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada para Nabi dan Rosul, wabil khusus Nabi kita Muhammad Saw.

Hadirin yang berbahagia
Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan tausiyah singkat yang berjudul ILMU.

Mengapa memilih judul itu? Karena kata Nabi, “Barang siapa berjalan dengan niat untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudah jalan baginya untuk masuk ke surga.”

Secara tertulis ILMU hanya terdiri dari 4 huruf: I,L,M, dan U. Namun secara luas, ilmu adalah pengetahuan. Ilmu adalah kepandaian. Ilmu adalah cahaya. Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat. Ilmu adalah sesuatu yang bisa menerangkan apa-apa yang sebelumnya kita tidak tahu kemudian menjadi tahu.

Rekan-rekan yang berbahagia
Mari kita renungkan, … dulu, saat kita lahir dari rahim ibu, kita adalah sosok bayi yang tidak berdaya. Kata Ebit, “kita benar-benar telanjang”. Tidak ada yang menempel di badan kita, kecuali sisa cairan air ketuban dan darah. Sedikit pun kita tidak mengetahui nama-nama benda di sekeliling kita, termasuk ibu dan bapak kita.

Lalu apa yang dilakukan para orang tua saat bayinya lahir?

Ingat …, yang pertama kali dimasukkan ke telinga bayi orang Islam bukan suara musik, bukan nada dering dan rington, bukan pula suara burung-burung, atau makhluk lain. Namun, bisikkan kalimat-kalimat tauhid. Yakni mengenal Allah dan Muhammad.

Di telinga kanan dihembuskan suara azan. Di telinga kiri dibacakan iqamat. Sebuah isyarat bahwa ilmu yang diperkenalkan kepada bayi-bayi orang Islam adalah ilmu ketuhanan. Ilmu yang menjelaskan siapa Tuhan kita dan siapa Nabi kita.

Dalam Azan ada kalimat Allahu Akbar, bahwa Allah Maha Besar. Kemudian ada kalimat yang menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Kemudian ada ajakan untuk mendekat kepada Allah dalam bacaan “hayya ‘alash sholah”, dan ada ajakan untuk sama-sama meraih kemenangan dalam bacaan “hayya ‘alal falah.” Kemudian ditutup dengan “laa-ilaa-ha illallah” (tidak ada Tuhan selain Allah).

Hadirin yang berbahagia
Sebagi penutup tausiyah, ada renungan indah dari Nabi tentang orang-orang yang berbagi ilmu.

Bahwasanya nanti di pintu surga, para malaikat keheranan. Kenapa banyak orang berkumpul, tidak lekas masuk ke dalam surga. Padahal di antara mereka ada para pahlawan, para ahli ibadah, orang kaya yang dermawan, pemuda yang taat, pedagang yang jujur, dst … akhirnya para malaikat penjaga surga mendatangi setiap kelompok itu. Dan jawaban mereka sama.

“Kami masih menunggu orang-orang yang telah mengajari kami. Kami masih menunggu orang tua kami yang telah mengajari kami makna hidup. Yang mengajari kami mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang halal dan mana yang haram. Atas jasa merekalah kami menjadi orang berguna. Atas jasa mereka kami bisa sampai ke pintu surga.”

Akhirnya, setelah orang-orang yang telah berjasa dan mengajari mereka masuk, baru mereka pun mengikuti.

Demikianlah hikmah berbagi ilmu, semoga bermanfaat, akhirul kalam.

Wassalaamu alaikum Wr. Wb.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: