Terbelenggu Masa Lalu

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah
penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqaaf [46]:13-14)

Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.

Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.
Sebutlah penjara “masa lalu”, siapa yang menciptakan. Betapa banyaknya orang yang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menyesali masa lalunya. Sebagian merasa menjadi korban, mereka mengeluh; mengapa saya dilahirkan dalam keluarga yang broken home. Seandainya saya dilahirkan oleh ayah dan ibu yang kaya raya, sekiranya saya dilahirkan dari garis keturunan bangsawan.

Masa lalu merupakan himpunan peristiwa yang terjadi sebelum sekarang. Masa lalu tidak bisa diulang, kecuali sekadar rekaman peristiwanya. Karenanya, masa lalu tidak boleh disesali, diratapi, apalagi dijadikan kambing hitam. Orang yang gagal (pecundang) selalu menjadi masa lalunya sebagai kambing hitam (alasan pembenaran), sedangkan orang sukses menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk menciptakan masa depan.

Adakalanya orang terbelenggu oleh masa lalunya, sebagian yang lain justru terpenjarakan oleh masa yang akan datang. Mereka dihantui oleh perasaan takut, gelisah, dan gundah gulana. Mereka merasa belum cukup bekal untuk menghadapi masa depannya. Mereka khawatir bersaing dengan sesamanya. Apalagi menyadari tentang pendidikannya yang rendah, keterampilannya yang belum bisa diandalkan, sedangkan modal finansial belum memadai.

Akibat kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan ini, mereka tidak berbuat apa-apa. Mau memulai langkah saja sudah takut. Mereka merasa kalah sebelum bertanding. Menyerah sebelum berbuat apa-apa. Inilah gambaran orang-orang yang dipenjara oleh masa depannya sendiri.

Bagi kita, yang ada di hadapan kita sekarang adalah “masa kini”, kita juga tidak tahu apakah besok atau nanti masih hidup dan memiliki kesempatan. Kita tidak tahu jatah umur kita, pendek atau panjang. Kita tidak tahu kapan kematian itu bakal menjemput. Yang pasti kita sudah berada dalam antrian. Di sana, nama kita sudah tercatat dalam “daftar tunggu” yang mau tidak mau harus diikuti dan diterima dengan ikhlas dan lapang.

Kematian bukanlah suatu yang menakutkan, karena kematian itu adalah sesuatu yang sudah pasti. Kematian hanyalah proses perpindahan alam, dari alam dunia menuju alam akhirat. Kematian merupakan salah satu stasiun dari beberapa stasiun kehidupan kita. Satu per satu stasiun itu kita lalui.

Hari ini akan menjadi masa lalu bagi hari berikutnya, dan hari berikutnya adalah masa depan hari ini. Untuk itu, jalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Jangan menunda-nuda pekerjaan, jangan sia-siakan kesempatan. Kalau bisa diselesaikan hari ini, mengapa disisakan untuk hari esok.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: