Tingkatan Berbuat Ihsan

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl [16] : 128).

Sebagai makhluk sosial, manusia tak pernah bisa hidup sendiri tanpa interaksi dengan yang lain. Mereka diciptakan dalam keadaan sangat lemah sehingga untuk menutupi kelemahannya itu, setiap manusia membutuhkan bantuan dan pertolongan. Maka terjadilah interaksi, hubungan timbal balik, saling tolong, dan saling membantu.

Dalam konteks ini, perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi terwujudnya kasih sayang, tolong menolong, dan saling membantu di antara sesama. Justru sebaliknya, perbedaan adalah rahmat yang dengannya manusia disatukan dalam ikatan kepentingan bersama. Laki-laki dan wanita adalah dua jenis yang berbeda. Akan tetapi justru perbedaan itu menimbulkan daya tarik sendiri, yang jika diikat secara benar akan melahirkan cinta dan kasih sayang yang mendalam.
Semestinya perbedaan yang lain, baik perbedaan suku, bahasa, adat istiadat, pendapat, dan apalagi sekadar perbedaan pendapatan, menjadikan kita bisa saling mendekat, menyatu, dan berbagi kasih sayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) memerintahkan kita untuk saling mengenal. (Al-Hujurat [49] : 13).

Mengenal dalam pengertian saling memahami (tafahum), saling
menghormati dan menghargai (tasamuh), saling tolong menolong (ta’awun), dan saling peduli dan saling menanggung (takaful).

Bagaimana mewujudkan hal tersebut? Allah SWT memberi contoh, yaitu berbuat baik (ihsan) kepada sesama, sebagaimana ayat di atas. Sungguh tak mungkin kita bisa berbuat ihsan seperti Allah berbuat ihsan kepada kita, tapi setidak-tidaknya kita berusaha untuk mendekati perilaku ihsan. Ada tiga tingkatan berbuat ihsan, yang masing-masing tingkatan menunjukkan posisi dan derajat manusia di hadapan Allah SWT dan di hadapan manusia.

Pertama, tidak menggangu orang lain (ihsan pasif). Seseorang bisa disebut telah berbuat ihsan manakala tangannya, kakinya, dan lisannya tidak mengganggu ketenangan orang lain. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadikan mereka terganggu, baik berupa gangguan fisik maupun psikologis.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam kecintaan, kasih, dan sayang mereka satu sama lain, ibarat satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang mengeluh, maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (Riwayat Muslim).

Tidak merokok di area publik adalah ihsan. Tidak berisik di tengah ketenangan adalah ihsan. Tidak membuka aurat yang menarik syahwat lelaki adalah ihsan.

Kedua, memenuhi hak-hak sesama. Ada hak-hak orang lain yang melekat pada kita sebagai akibat dari keberadaan kita sebagai makhluk sosial. Rasulullah SAW bersabda, “Hak Muslim atas orang Islam lainnya ada enam. Ditanyakan, “Apakah keenam hak itu hai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah yarhamukallah, jika ia sakit maka kunjungilah, dan jika ia mati maka antarkanlah jenazahnya.” (Riwayat Muslim).

Ketiga, membalas kejahatan orang lain dengan “maaf” dan do’a kebaikan. Kejahatan orang lain atas diri kita, Allah memberi dua alternatif. Pertama, membalas setimpal dengan kualitas kejahatannya. Kedua, memaafkan dan kita balas kejahatannya dengan kebaikan. Pekerjaan ini tidak ringan. Dibutuhkan kejernihan hati, kesabaran, lapang dada, ikhlas, dan spirit pengabdian.*

http://majalah.hidayatullah.com/?p=1064

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: