Rasulullah Sang Cahaya

Rasulullah SAW, Sang Cahaya
(Persembahan Maulid Nabi SAW)

Ya Nabi, salam ‘alaika
Ya Rasul, salam ‘alaika
Ya Habib, salam ‘alaika
Shalawatullah ‘alaika
……

Anta syamsun, wa anta badrun
Anta nuurun fauqa nuuri,
(Engkau (laksana) matahari, engkau (laksana) bulan,
engkau (laksana) cahaya di atas cahaya)
….

Itu adalah salah satu salawat dari Hadad Alwi/Sulis yang paling saya gemari. Bagi sebagian orang yang “alergi” terhadap pujian kepada Rasulullah SAW, menganggap syair di atas berlebihan, kultus individu, bahkan ada yang menganggapnya syirk…. Apa sih sebenarnya kultus individu itu?

Kalau kita memuji sesuatu di atas dari yang selayaknya, itu adalah berlebihan. Seperti misalnya memuji anak kita yang masih SD tapi pintarnya sudah seperti seorang PhD. Namun, kalau sebaliknya, memuji seorang PhD dengan menyamakannya dengan pintarnya anak kita yang masih SD, sebenarnya kita bukan sedang memuji, meski memakai kata memuji.

Nah, bagaimana dengan ungkapan “Anta syamsun, wa anta badrun, Anta nuurun fauqa nuuri”, apakah ini juga berlebihan? Tentu kita paham, bahwa ini adalah ibarat. Seperti ungkapan “Indonesia adalah zamrut katulistiwa”. Ungkapan ini dengan indah menggambarkan Indonesia sebagai negara hijau subur di garis katulistiwa, sehingga seperti permata hijau zamrut… Ungkapan yang tepat sekali…

Sekarang kita ke ungkapan, “Engkau (laksana) matahari, engkau (laksana) bulan, engkau (laksana) cahaya di atas cahaya”. Apakah ini berlebihan? Tidak! Sebab ungkapan ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW merupakan sumber cahaya bagi umat muslim, bahkan banyak non-muslim juga, di seluruh dunia di bumi sepanjang masa, baik siang maupun malam. Sehingga cahaya Rasul SAW bagi kita semua di atas bumi, tepat seperti cahaya matahari di waktu siang, dan bulan di waktu malam bagi planet bumi.

Lalu bagaimana dengan, “Cahaya di atas cahaya”? Kita coba runut apa makna cahaya. Imam Al-Ghazali dalam Buku Misykat Cahaya-cahaya, memberi arti cahaya sebagai “sesuatu yang menjadikan nampak yang lain, dengan sebab dia”. Karenanya cahaya fisik adalah cahaya, karena dengan sebab cahaya fisik itu kita bisa melihat segala sesuatu di sekitar kita. Namun bukan hanya itu, mata, telinga, lidah, pancaindera yang lain, juga akal adalah cahaya, karena ia menjadi sebab atas nampaknya fenomena yang lain. Dengan ini kita bisa memahami, Rasulullah SAW adalah cahaya, karena tanpa ajaran beliau kita tidak bisa mengenal kebenaran. Bahkan cahaya Rasulullah SAW itu mengatasi cahaya-cahaya yang lain, seperti mata, telinga, bahkan akal. Selain Rasulullah SAW, para Nabi yang lain AS, para Ahlul Bait AS, Sahabat Nabi RA, para Salihin rh, wali, dll. semua juga merupakan sumber cahaya. Namun, Cahaya Rasululla SAW mengatasi Cahaya mereka semua! Rasulullah SAW adalah cahaya di atas cahaya! Ungkapan yang tepat sekali, tidak berlebihan.

Namun, tentu saja jangan membandingkan dan mempertentangkan Cahaya Rasulullah SAW dengan Cahaya Allah SWT. Karena seluruh Cahaya Rasulullah SAW bersumber dari Allah semata, Sang Maha Cahaya Yang Hakiki. “Tidaklah yang berasal dari Rasul itu dari keinginan sendiri, namun hanya wahyu (Allah) semata”. Kalau dibandingkan Allah SWT, tentu saja tidak ada Cahaya kecuali Dia Semata, Sang Maha Cahaya (An-Nuur).

Begitu, menurut saya, konteksnya…

Ungkapan Rasulullah SAW, sebagai Cahaya juga sebenarnya sangat dikenal dalam dalam kitab ulama2 terdahulu. Saya sebutkan sebagian, saya kutip dari beberapa buku.

Dalam Al-Quran disebut: ” Telah datang kepadamu cahaya ….. ” (QS Al Maidah : 15), Cahaya di sini maksudnya adalah Rasulullah SAW.

Dalam Al-Quran terdapat ayat cahaya yang terkenal dalam surat Cahaya:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

Al-Qurtubi dalam Jami’al Ahkam: Ka’ab Al-Ahbar RA (salah seorang sahabat Nabi) menyatakan bahwa seluruh surat ini merujuk kepada Cahaya Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah misykat, lampu adalah kenabian, kaca adalah hatinya, pohon yang diberkati adalah wahyu dan malaikat yang membawanya, minyak adalah bukti dan hujah yang mengisi wahyu.

Syaikh Ali Al-Qari rh, ketika mengomentari ayat:
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. 33:45-46)
pada bagian sirajam munira. menulis:

Muhamad (SAW) adalah cahaya yang luar biasa dan sumber dari segala cahaya, dia juga kitab yang membawa dan membuat jelas segala Rahasia. Sirajam munira artinya cahaya matahari, karena Firman-Nya:

Dia menjadikan juga padanya matahari (sirajan) dan bulan yang bercahaya (munira). (QS. 25:61)

Ada petunjuk dalam ayat ini bahwa matahari adalah cahaya yang tertinggi dari seluruh benda bercahaya dan bahwa semua cahaya yang lain berasal dari dia. Serupa dengan itu Rasulullah SAW adalah cahaya spiritual tertinggi dan cahaya yang lain berasal darinya… (Dikutip dari Syaikh Al-Kabbani, the Approach of Armagedon, hal.63).

Karenanya, tidak diragukan Rasulullah SAW adalah Nur (cahaya), Sirajam Munira (pelita yang menerangi). Yang dari cahayanya kita mengharapkan, pelita untuk mengarungi perjalanan menuju Allah SWT.

Allahumma shali ‘ala Sayidina wa Habibina wa Maulana Muhamad wa ‘ala aalihi wa salim.

http://abuafkar.multiply.com/journal/item/97/Rasulullah_SAW_Sang_Cahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: