Khutbah — DEMI MASA

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, berbuat baik, dan saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran. (103:1-3)

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rosulullah, Muhammad SAW.

Iringan waktu terus berputar. Detik demi detik, jam demi jam, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan seterusnya … hingga zaman demi zaman atau masa demi masa. Al-Quran menyebut itu dengan al-Ashr (masa).

Dalam konteks negeri kita, negeri yang pernah dijajah negeri asing ini: ada masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, era demokrasi, era reformasi, dan hingga kini, kita menyebutnya era informasi dan teknologi.

Berputarlah dunia ini dan berbagai macam masa telah dilalui. Ada suka dan duka, naik dan turun, masa jaya dan masa runtuh, masa muda dan masa tua. Dan sebagai kaum beriman, kita meyakini, ada masa hidup kemudian mati.

Dalam ayat itu masa menjadi sumpah, atau sesuatu yang menjadi bahan peringatan bagi kita, WAL ASHRI, Demi Masa.

Kita hidup di dunia melalui masa. Setelah itu kita akan pergi. Dan apabila kita telah pergi, artinya mati, habislah masa yang kita tempuh. Yang lalu tidak dapat diulang kembali, dan masa selanjutnya akan diteruskan oleh mereka yang tinggal di bumi, silih berganti.

Ada yang datang dan ada yang pergi.

Diingatkan lagi masa itu kepada kita dengan sumpah, WAL ASHRI, Demi Masa.

Ayat itu mengingatkan kita, agar masa itu jangan disia-siakan, jangan diabaikan dan jangan dilalaikan, karena sejarah hidup manusia ditentukan oleh perputaran masa.

Dalam ungkapan Arab ada kiasan, ALWAQTU KASH SHOIFI, waktu itu ibarat pedang. Bila engkau tidak mempergunakan dengan sebaik-baiknya, waktu lah yang akan memenggal leher kehidupan kita. Berakhir baik atau buruk, berakhir sia-sia ataukan bermanfaat.

Dalam ayat selanjutnya Allah berfirman, INNAL INSAANA LAFII HUSRIN. Sesungguhnya manusia benar-benar ada dalam kerugian.

Ya, dalam masa yang kita lewati itu, nyata bahwa manusia itu selalu rugi. Sehari lahir ke dunia, di hari dan sehari itu umur sudah berkurang satu. Setiap hari dilalui, hingga sampai hitungan bulan dan tahun, sejak bayi, dewasa, hingga tua, hanya kerugian yang dihadapi.

Di waktu kecil, senanglah badan dalam pangkuan ibu, itu pun rugi karena belum merasakan apa arti hidup. Setelah mulai dewasa, bolehlah berdiri sendiri, beristri atau bersuami, namun kerugian pun selalu hadir. Sebab hidup mulai bergantung kepada tenaga dan kegiatan sendiri, tidak lagi ditanggung orang lain.

Di waktu muda dan gagah perkasa, harapan masih banyak. Tetapi bilamana usia mulai lanjut barulah kita insaf bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda telah tercapai.

Atas pengalamannya, banyak orang tua yang menyesal, hati kecilnya berbalik, seharusnya jangan begini, jalan itu salah, begini yang seharusnya.

Tetapi atas segala keterbatasan, amat berat mengulang kembali apa yang disesali itu. Setinggi-tingginya hanyalah menceritakan pengalaman itu kepada penerusnya. Sesudah itu kita bertambah lanjut, lantas kita pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Itu bila umur kita panjang.

Namun, bila umur kita pendek, kerugian itu akan lebih besar lagi. Karena belum merasakan apa-apa, kita sudah direnggut nyawanya.

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman, ILLALLADZIINA AAMANU …. SHOBRU.

DI SINI al-Quran menjadi obor atau lampu penerang. Dalam bahasa Al-Quran, HUDAN LIN NAAS, menjadi petunjuk bagi manusia.

Bahwa semua orang LAFII HUSRIN, benar-benar ada dalam kerugian, kecuali –seperti disebut ayat itu– orang yang beriman, orang yang suka berbuat baik, dan orang yang saling memberi nasehat untuk tetap berada dalam kebenaran dan kesabaran.

Demikian penutup dari surat pendek itu.

Semoga Allah membimbing dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang meraih keberuntungan, bukan kerugian. Amin ya Robbal alamin.

Barakallah … Bhayangkara, 9 Des 2011

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: